
Suasana kediaman Prasojo terlihat ramai pagi hari ini. Beberapa orang nampak berkerumun untuk mempersiapkannya prosesi arak-arakan yang sudah disepakati. Untuk pertama kali, arak-arakan seperti ini diadakan di kampung ini. Dengan harapan membuat efek jera bagi para kaum pemburu kenikmatan yang bukan dengan pasangan sah yang mereka miliki.
"Lalu, kita akan mengarak Heru dan Ningrum dengan cara bagaimana Pak?"
Parmin yang sejak semalam tidur di kediaman Prasojo sedikit kebingungan dengan rencana arak-arakan ini. Pasalnya ini semua merupakan pengalaman pertama dan membuatnya kebingungan harus bagaimana.
"Iya Pak? Bagaimana caranya kita mengarak Heru dan Ningrum? Apakah kita tandu? Atau kita ikat tubuh mereka dengan tali lalu kita tarik seperti menarik dua ekor sapi? Atau bagaimana?" timpal salah seorang warga yang juga nampak begitu antusias untuk mengikuti prosesi arak-arakan ini.
Prasojo nampak hening sejenak. Namun tak selang lama senyum manis tersungging di bibirnya. Lelaki itu nampaknya sudah memiliki rencana perihal arak-arakan ini.
"Min, kamu persiapkan gerobak sampah yang ada di balai warga. Kita akan mengarak Heru dan juga Ningrum menggunakan gerobak itu."
Parmin dan yang lainnya nampak saling melempar pandangan dan bertatap netra. Seakan tidak percaya dengan ide dari sang kamituwo yang sangat cemerlang ini.
"Serius, kita menggunakan gerobak sampah itu Pak?" ujar Parmin memastikan.
Prasojo menganggukkan kepala. "Aku sangat yakin Min. Dengan seperti ini, semoga tidak ada lagi kasus perselingkuhan antar ipar."
"Baiklah Pak, saya ambil dulu gerobak sampahnya."
Parmin dan beberapa orang nampak melenggang pegi meninggalkan halaman rumah Prasojo tentunya untuk mengambil kereta kencana khas untuk pasangan selingkuhan.
"Loh Le, kamu dari rumah Lingga? Sedari tadi ibu mencari kamu. Ibu sampai keheranan, pagi-pagi sekali kamar kamu sudah sepi dan rapi."
__ADS_1
Prasojo menyambut kedatangan Banyu dan juga Lingga. Wajah lelaki paruh baya itu nampak begitu gembira melihat sepasang manusia ini berjalan beriringan yang nampak serasi. Pemuda tampan, wanita cantik, sungguh begitu enak dipandang.
Banyu hanya tersenyum kikuk. Gegara ingin segera bertemu dengan sang pujaan, membuatnya sampai lupa bahwa ia belum berpamitan kepada Prasojo dan juga Maryati. Alhasil sang ibu angkat kebingungan mencari keberadaannya.
"Maaf ya Pak, saya benar-benar lupa."
"Ibu maafkan Le, ibu juga pernah muda jadi sangat paham bagaimana orang yang sedang jatuh cinta," timpal Maryati yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu. Kini, bukan hanya Banyu saja yang merasa kikuk, Lingga pun juga turut merasa malu. Janda muda itupun hanya bisa menundukkan wajahnya.
Maryati berjalan ke arah Lingga. Ia pegang pundak wanita ini dan mengusapnya lembut. "Ibu turut prihatin dengan apa yang menimpamu, Ndhuk. Kamu yang sabar ya. Percayalah bahwa setelah kejadian ini, hidupmu akan jauh lebih bahagia."
Maryati memandang sendu wajah Lingga. Sulit dipercaya jika wanita berhati mulia seperti Lingga akan menghadapi kepelikan hidup seperti ini. Maryati sampai berpikir sedari dulu Lingga sama sekali belum merasakan apa itu kebahagiaan yang sempurna.
Lingga hanya bisa mengangguk pelan. Setelah semalam air mata kesedihan itu telah ia tumpahkan, pagi ini ia tidak ingin jika air mata itu menetes kembali. Sebisa mungkin ia menahan air mata itu tidak meluncur lagi meskipun dadanya terasa teramat sesak.
"Bagus Ndhuk, Ibu benar-benar bangga kepadamu. Orang seperti Heru dan mbakyumu tidak pantas untuk menjadi penghalang kebahagiaanmu."
"Iya Bu."
Maryati menautkan pandangannya ke arah Banyu yang sedari tadi masih anteng berdiri di samping Lingga. "Le, Ibu minta kamu jaga Lingga baik-baik. Jangan sampai Lingga menangis lagi."
"Siaapp Bu. Mulai hari ini, saya lah yang akan menjaga dan melindungi Lingga."
****
Sementara itu...
__ADS_1
"Ini semua gara-gara bansos Ning. Lagipula kamu main buka pintu. Kalau kamu lebih dulu mengintip dari balik jendela, pasti aku bisa melarikan diri lewat pintu belakang. Dan arak-arakan ini tidak akan terjadi."
Heru dan Ningrum duduk di sebuah kursi dengan tangan diikat layaknya seorang tawanan di pojok ruangan. Mereka seperti dua orang terdakwa yang sedang menunggu eksekusi mati dari hukuman yang dijatuhkan.
"Mengapa kamu malah menyalahkanku? Bukankah tadi malam bukan jadwalmu untuk meniduriku? Lagipula, siapa yang tidak tergiur dengan uang bansos? Siapapun pasti akan tergiur ketika mendapatkan bantuan itu."
"Kamu ini hanya karena bansos saja langsung lupa diri jika kita sedang menyatukan badan. Ternyata kamu mudah terpedaya oleh uang Ning!"
"Hemmmm... kamu ini. Lalu apa bedanya dengan kamu Mas? Kamu juga mudah terpedaya oleh tubuhku. Nyatanya kamu mudah untuk berpaling dari istrimu."
"Sekarang, kita harus bagaimana? Apa yang akan kita lakukan? Apa kamu tidak malu diarak keliling kampung?" tanya Heru dengan wajah frustrasi.
"Ya biarkan saja. Dengan begitu, setelah ini kita bisa langsung menikah dan tidak perlu kucing-kucingan lagi," ujar Ningrum dengan santai. Wanita itu bahkan nampak sudah sangat siap jika diarak keliling kampung. Mungkin arak-arakan itu laksana upacara pernikahan raja dan ratu dan disaksikan oleh penduduknya.
Heru hanya bisa membuang napas kasar. Ia tidak menyangka jika Ningrum menanggapi hal ini sesantai itu. Bahkan wajah wanita ini nampak berseri bak mentari pagi yang menyapa pergantian hari.
"Oalahh Ning, Ning .... piye toh ki!"
"Lha kok piye to Mas? Sudahlah, kita nikmati saja arak-arakan ini. Bisa kamu bayangkan bukan, kita berdua akan ditandu kemudian dilihat dan disoraki oleh orang banyak? Persis seperti raja dan ratu Mas."
.
.
bersambung....
__ADS_1