Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 69. Akupun Juga Terluka


__ADS_3


PoV Lingga...


Kudengar suara derap langkah kaki pemuda itu semakin menjauh dari telingaku. Aku berbalik badan, kulihat bayang sosok pemuda itu semakin lama semakin hilang ditelan oleh gelap malam dan hanya menyisakan sileut kenangan yang masih bergelayut manja di dalam kornea mata. Menjadi awal dari berakhirnya hubungan ini.


Berakhirnya hubungan ini? Rasa-rasanya tidak pantas aku untuk menyebutnya berakhir. Karena semuanya tidak pernah diawali dan pastinya tidak akan pernah ada kata akhir. Aku cakap sadar bahwa selama ini aku tidak pernah mengutarakan apa yang aku rasakan.


Egoiskah aku? Aku rasa tidak. Sebagai seorang wanita yang pernah dilukai dan ditinggalkan, sudah cukup membuatku banyak belajar untuk berpikir jernih sebelum melangkah. Aku tahu betul bahwa Banyu tengah dalam keadaan hilang ingatan dan aku tidak pernah tahu kehidupan seperti apa yang ia jalani. Dan sekarang ada sosok wanita yang mengaku merupakan calon istri Banyu dan mengakui pernah tidur dengan pemuda yang mengungkapkan rasa cintanya kepadaku. Bukankah itu semua merupakan jawaban atas segala pertanyaan yang muncul di kepala tentang siapa Banyu? Terlepas apakah yang diucapkan oleh wanita itu benar atau tidak, aku hanya sedang memberikan waktu kepada Banyu untuk ia bisa menyelesaikan segala kepelikan di masa lalunya.


Barangkali, aku adalah wanita tak berhati yang tega menancapkan belati di hati seorang pemuda yang baru sejenak aku temui. Yang bisa jadi akan tetap membekas di dalam hati.


Aku mendengar dia mengisakkan tangis, sebagai pertanda hatinya yang teriris. Mungkin juga telah mengalirkan darah luka tak kasat mata yang tidak akan pernah habis.


Andai ia tahu, akupun juga terluka. Rasa yang telah bersemayam dalam dada untuk saat ini masih aku biarkan terpenjara. Dengan satu keyakinan, kelak akan tiba waktu bagiku untuk mengungkapkan semua. Tentunya jika Tuhan kembali menuliskan kata 'temu' dalam kisah hidupku bersamanya.

__ADS_1


Aku kembali mendongak, kini awan kelabu mulai menutupi wajah sang dewi dan langit mendadak nampak gelap sekali. Mutiara-mutiara langit pun juga seakan turut berpamitan untuk tak lagi menampakkan kerlipnya di hadapan para penduduk bumi. Di dalam mega yang mendung, mungkin airnya juga akan menitikkan rindu yang terselubung.


***


Author PoV


"Nak, kamu serius besok akan kembali ke Jakarta?"


Prasojo menatap tiada percaya apa yang diputuskan oleh Banyu. Setelah entah pergi dari mana, pemuda ini memberikan sebuah berita yang cukup membuat terkejut Prasojo dan Maryati. Ia benar-benar masih belum percaya jika Banyu memutuskan untuk pergi secepat ini.


"Iya pak Pras, besok saya beserta keluarga akan kembali ke Jakarta. Mohon maaf jika terlalu mendadak, karena kata bang Pandu, masih banyak kewajiban yang harus saya selesaikan di sana."


"Lalu apakah kamu sudah berpamitan kepada Lingga, Nak?"


Lagi-lagi Banyu hanya bisa mengangguk pelan dan tersenyum getir. Bahkan Lingga tidak perduli dengan apa yang ia lakukan. Inilah salam perpisahan paling menyakitkan yang pernah ia dapatkan.

__ADS_1


"Sudah Pak, saya sudah berpamitan kepada Lingga. Dan ia pun juga paham dengan apa yang menjadi keputusan saya."


Prasojo hanya bisa membuang napas sedikit kasar. Ingin rasanya ia menahan kepergian pemuda ini, namun ia tidak memiliki hak sama sekali meskipun selama ini Banyu sudah ia anggap sebagai putranya sendiri.


"Baiklah kalau begitu Nak. Bapak hanya bisa mendoakan semua yang terbaik untukmu. Meskipun kamu sudah kembali ke Jakarta, jangan pernah lupa untuk menyempatkan diri mengunjungi Bapak di sini."


"Itu sudah pasti Pak. Mungkin di setiap akhir bulan, saya akan mengunjungi pak Pras dan bu Mar. Karena bagaimanapun juga, Bapak dan Ibu juga sudah saya anggap sebagai orang tua saya sendiri."


Sementara itu, Villia yang tengah berdiri di balik tembok kamar yang mendengar percakapan antara Banyu dan Prasojo hanya bisa tertawa lebar. Keputusan Banyu untuk segera pulang ke Jakarta ia anggap bentuk tanggungjawab pemuda itu atas apa yang telah ia lakukan.


Akhirnya, aku bisa menjauhkan Banyu dari janda gatal itu. Aku yakin Banyu semakin merasa bersalah dan tak lama kemudian, ia pasti akan segera menikahiku.


.


.

__ADS_1


. bersambung...


__ADS_2