Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 91. Terikat Janji


__ADS_3


"Eh Mas, berhenti, berhenti!'


Seorang wanita dengan pakaian yang dipenuhi oleh bling-bling yang membuat silau bagi siapapun yang berpapasan, sedikit terkejut tatkala melihat sesosok pemuda yang tidak asing di penglihatannya. Ia yang tengah berada di dalam mobil seketika meminta sang pengemudi yang tidak lain adalah suaminya sendiri untuk menghentikan laju kendaraannya. Ia pun turun dan menghampiri sosok pemuda itu.


"Kamu?" pekik Ningrum saat melihat Banyu keluar dari halaman rumah yang ditempati oleh Lingga.


Netra Banyu menyipit kala terkena kilau bling-bling yang berasal dari payet-payet di dalam pakaian yang dikenakan oleh Ningrum ini.


"Ada apa Ning?" tanya Banyu santai sambil memperhatikan mobil yang dinaiki oleh Ningrum. Bibir pemuda itupun hanya bisa dibuat menganga lebar saat melihat penampakan mobil ini.


Astaga .... ini mobil apa? Mengapa mobil yang dinaiki oleh Ningrum ini dipasang sticker bergambar genderuwo dan ular? Bukan maen, ini ngeri sekali gaess. Kalau seperti ini bisa dipastikan tidak ada pencuri atau begal yang mendekat. Nyali mereka bisa dipastikan menciut lebih dulu melihat sosok genderuwo seperti ini.


"Kamu sedang apa di rumah Lingga? Bukankah sudah lama kamu pergi dari kampung ini? Kok sekarang tiba-tiba muncul lagi?" tanya Ningrum ingin tahu.


"Aku gak ngapa-ngapain. Aku hanya sedang mencari angin segar dengan berjalan berkeliling kampung. Bosan, satu bulan lebih berada di kota." Banyu kembali mengedarkan pandangannya ke arah balik kemudi, nampak Heru masih duduk anteng di sana. "Aku lihat sekarang kamu sudah jadi orang kaya, Ning? Heru kerja apa?"


"Hahahaha ... itu sudah jelas. Saat ini, Ningrum dan Heru telah menjadi orang terkaya di kampung ini. Ningrum yang terkenal sebagai tuan emas, tuan tanah, dan tuan sawah," ucap wanita itu dengan gelak tawa yang menggema. Tidak lupa, ia menggerak-gerakkan lengan tangannya hingga bunyi krincing-krincing khas penjual sate madura itu juga turut menggema.


"Apa? Tuan tanah?" ulang Banyu seakan tidak percaya.

__ADS_1


Ningrum mengangguk mantap. "Iya tuan tanah. Hampir semua tanah di kampung ini yang dijual, sudah menjadi milikku. Kamu tahu tanah yang ada di pojok kampung ini?"


Kening Banyu semakin berkerut dalam. "Tanah di pojok kampung? Bukankah itu kuburan?"


"Nah, betul .... tanah itu juga sudah menjadi milikku. Tanah itu sudah aku beli. Jadi setiap warga yang keluarganya meninggal dan dimakamkan di tanah itu, wajib membayar pajak setiap bulan. Bagaimana? Aku kaya bukan?"


Ckckckck ... manusia macam apa ini? Menggunakan tanah kuburan sebagai lahan bisnis. Lagipula kenapa Ningrum dan Heru bisa kaya mendadak seperti ini? Aku benar-benar penasaran.


"Hei, kamu ini sebenarnya ke rumah Lingga ada acara apa? Kamu mencarinya? Kalau kamu mencari Lingga, tidak akan pernah bisa bertemu karena Lingga sudah tidak ada di sini."


Banyu tersadar dari lamunannya. Ia berpikir tidak ada salahnya bertanya kepada Ningrum perihal kepergian Lingga. "Memang sekarang Lingga ada di mana? Apa kamu mengetahui sesuatu?"


Ningrum menggelengkan kepala. "Aku sama sekali tidak tahu ke mana Lingga pergi. Kamu tanyakan saja pak Pras dan bu Mar. Aku yakin mereka tahu keberadaan Lingga."


Banyu hanya bisa menepuk jidatnya. "Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke rumah pak Pras."


****


Teras rumah Prasojo terasa begitu hening meskipun ada tiga orang dewasa yang berada di sana. Tiga orang itu seolah larut dalam pikiran masing-masing.


"Pak, Bu .... apa Bapak dan Ibu tidak kasihan terhadap saya? Saya benar-benar ingin meluruskan kesalahpahaman yang terjadi diantara saya dengan Lingga. Masa pak Pras dan bu Mar sama sekali tidak mau memberitahu di mana Lingga mengikuti pelatihan itu?"

__ADS_1


Raut wajah Banyu terlihat begitu sendu. Bahkan ia terlihat begitu frustrasi. Bagaimana tidak frustrasi jika sedaari tadi ia membujuk dua paruh baya ini untuk memberitahu keberadaan Lingga namun mereka sama sekali tidak memberitahukannya.


Prasojo dan Maryati saling melempar pandangan. Sejatinya mereka juga teramat kasihan dengan kesalahpahaman yang terjadi diantara Lingga dan Banyu. Namun bagaimana lagi, mereka sudah terikat janji kepada Lingga untuk tidak memberitahukan keberadaan wanita itu kepada siapapun. Termasuk Banyu.


Prasojo mendekat ke arah Banyu. Ia pegang pundak kokoh pemuda ini. "Sekali lagi Bapak mohon maaf ya Le. Manusia itu yang dipegang adalah ucapan dan janjinya. Bapak dan ibu sudah kadung janji pada Lingga untuk tidak memberitahu kemana ia berada. Jadi Bapak benar-benar tidak bisa memberitahumu."


"Tapi Pak, saya bersedia menanggung dosa Pak Pras dan bu Mar jika Bapak dan ibu mau memberitahu saya di mana Lingga berada. Biarkan saya yang menanggung dosanya Pak, Bu..."


Prasojo hanya bisa menepuk bahu Banyu seraya tersenyum penuh arti. "Percayalah Le, jika kalian memang berjodoh pasti Gusti akan mengarahkan langkah kaki kalian berdua untuk bertemu."


"Tapi jika seperti ini, kapan saya bisa bertemu dengan Lingga Pak?"


"Bapak yakin, tidak lama lagi kamu pasti akan bertemu dengan Lingga."


Banyu hanya bisa membuang napas kasar. Entah mengapa ia merasa semakin pesimis untuk bisa bertemu dengan sang pujaan. Indonesia teramat luas, masa iya ia harus mendatangi satu persatu pulau untuk mencari Lingga?


Olaahhh Nyu, Nyu... kayak gini banget nasibmu 😂😂😂😂


.


.

__ADS_1


. bersambung...


Apakah Banyu bisa menemukan keberadaan Lingga??? Atau pemuda itu menyerah sampai di sini saja? Hihihihi ikuti selalu kelanjutan ceritanya ya Kak😘😘😘😘


__ADS_2