Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 74. Berangkat


__ADS_3


Deru suara mesin mobil terdengar semakin lama semakin mendekat ke arah rumah Lingga. Lingga, Maryati dan Prasojo yang tengah berbincang-bincang sedikit terkejut dengan suara mesin mobil itu. Ketiganya pun bergegas keluar rumah untuk melihat siapa yang datang.


Senyum lebar terbit bibir tiga orang itu saat melihat sebuah minibus berwarna silver dengan kapasitas enam belas orang penumpang berhenti tepat di depan halaman rumah. Tak selang lama, pengemudi mobil itupun turun dan mendekat ke arah Prasojo dan yang lainnya.


"Permisi Pak, saya dari PT Sido Mundur datang kemari untuk menjemput mbak Lingga. Kalau boleh tahu, mbak Lingganya yang mana ya?" ucap si pengemudi sembari tersenyum manis.


"Saya Lingga Pak, yang akan mengikuti pelatihan itu."


"Oh iya apakah mbak Lingga sudah siap? Jika sudah, kita akan segera berangkat."


"Oh iya Pak, memang ada berapa banyak peserta yang ikut di dalam mobil ini Pak?"


Selain ingin tahu berapa banyak peserta yang mengikuti pelatihan ini, Prasojo juga ingin memastikan bahwa minibus ini benar dari perusahaan yang akan menjadi tempat bernaung Lingga. Bukan apa-apa, di zaman sekarang ini banyak terjadi kasus penipuan dengan target orang-orang desa seperti ini.


"Di dalam sudah ada lima belas orang Pak dan akan total enam belas orang dengan mbak Lingga. Ini semua peserta dari daerah Brebes, Pemalang, dan Purwokerto, Pak."


Prasojo tersenyum lega. Ia alihkan pandangannya ke arah Lingga yang masih berdiri di sisi Maryati.


"Nah Nduk, semua sudah siap dan sekarang berangkatlah. Bapak hanya pesan, di Jogja nanti kamu harus selalu menjaga sopan santun dan tata krama. Dan ingat ya Ndhuk, ajining dhiri gumantung saka lathi, jaga sikap, jaga perilaku dan jaga ucapan. Semoga kamu sukses di sana ya Nduk. Bapak dan ibu tunggu kabar kesuksesan darimu."


Entah mengapa hati Lingga dipenuhi oleh rasa haru yang luar biasa. Ucapan dua paruh baya ini sama persis dengan ucapan yang selalu diucapkan oleh mendiang ibu dan bapaknya, bahwa jika ingin dihargai, maka harus pandai-pandai menjaga sikap, perilaku dan ucapan. Terlebih ucapan. Karena dari ucapanlah yang akan menjadi tolok ukur kualitas diri.

__ADS_1


Lingga memeluk tubuh Maryati dan Prasojo dengan erat. Air matanya menetes perlahan. Entah apa yang akan ia temui di Jogja nanti, namun ia percaya bahwa ia akan berhasil dalam mengembangkan semua potensi yang ada di dalam diri.


"Saya pamit ya Pak, Bu. Saya titip rumah dan terima kasih banyak untuk semua bantuan yang telah Pak Pras dan bu Mar berikan."


"Sama-sama Nduk. Kamu hati-hati dan jaga diri baik-baik."


Si pengemudi minibus mengambil tas pakaian milik Lingga dan ia letakkan di bagasi. Lingga mulai masuk ke dalam mobil dan disambut oleh teman-temannya yang lain. Mobil itu mulai bergerak pelan keluar dari halaman rumah Lingga dan perlahan mulai hilang dari penglihatan Prasojo dan juga Maryati.


Sementara itu, Ningrum dan Heru yang sedang jalan-jalan sore sama-sama mengernyitkan dahi saat melihat ada minibus yang keluar dari kediaman Lingga.


"Mas, Mas berhenti!" titah Ningrum sambil menepuk pundak Heru.


"Ada apa sih Ning? Bikin kaget saja loh!"


"Itu kenapa ada bus yang keluar dari rumah Lingga ya Mas? Sebenarnya apa yang dilakukan oleh adikku itu? Apakah ia berpergian?"


"Sepertinya Lingga akan pergi jauh Mas. Dan tahukah kamu, jika Lingga pergi dari rumah itu bukankah kita bisa menguasai rumah itu? Ayo buruan kita ke sana Mas!"


Heru hanya mengangguk pasrah. Ia kembali nyalakan mesin motornya dan mulai masuk ke halaman rumah Lingga. Prasojo dan Maryati yang baru saja akan meninggalkan rumah ini sedikit terkejut saat mendapati Ningrum dan Heru sudah berada di tempat ini.


"Loh, Pak Pras dan bu Mar ini sebenarnya ada apa? Mengapa baru saja saya melihat ada bus kecil yang keluar dari halaman rumah ini?"


"Adikmu ke Jogja Ning!"

__ADS_1


"Ke Jogja? Ada urusan apa dia ke Jogja Pak? Apakah dia mencari pekerjaan di sana?"


"Adikmu mengikuti pelatihan dan sebentar lagi adikmu itu akan menjadi orang sukses," sahut Maryati dengan bangga.


"Orang sukses? Hahaha apa tidak salah? Seberapa jauh ia mencari pekerjaan, Lingga tidak akan pernah bisa menyaingi kekayaan yang saya miliki Bu. Jadi bagi saya dia tidak akan pernah sukses."


"Ckckckck kamu ini, saudara kandung akan mencoba untuk meraih kesuksesannya kok malah dicibir."


"Hahaha saya tidak perduli Bu. Oh iya, silakan Pak Pras dan Bu Mar lekas pergi dari rumah suami saya. Dan ingat, jangan pernah datang kemari lagi."


Prasojo dan Maryati sama-sama terperangah tiada percaya. Ia tidak menyangka jika apa yang menjadi firasat Lingga menjadi kenyataan. Ningrum akan mencoba untuk menguasai rumah ini.


"Rumah Heru? Aku tidak salah dengar, Ning?" ujar Maryati dengan sinis.


"Memang tidak salah Bu. Ini rumah suami saya jadi saya berhak untuk melakukan apapun di sini, termasuk mengusir kalian dan tidak mengizinkan kalian datang kemari lagi."


"Ckckckck ... kamu itu benar-benar serakah dan culas ya Ning." Maryati mendekat ke arah Ningrum dan menepuk pundak Ningrum dengan stop map yang diberikan oleh Lingga. "Kamu tidak bisa berbuat semaumu karena jika sampai kamu melakukan hal itu, maka aku akan melaporkanmu ke pihak yang berwajib. Di dalam map ini semua sudah tertulis dengan jelas bahwa kamu tidak boleh mengusik rumah ini. Dan jika kamu melanggar, maka kamu bisa aku perkarakan."


"Apa??!!!"


Sialan, ternyata Lingga cerdik juga. Ia titipkan surat perjanjian itu kepada Pak Pras dan Bu Mar yang bisa menjadi senjata. Heran, perasaan Lingga itu sekolah hanya sampai SMP, namun mengapa cerdik sekali wanita itu?


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2