
Sepersekian menit, Lingga seperti seseorang yang sedang terkena hipnotis. Ia hanya bisa membiarkan pemuda itu mengecup bibirnya dan merasakan setiap degup jantung yang bertalu-talu seakan ingin lepas dari tempatnya bersemayam. Ia mencoba meresapi apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Sentuhan hangat dari bibir pemuda ini benar-benar telah berhasil melumpuhkan syaraf-syaraf tubuhnya.
Namun tak selang lama kedua bola mata milik Lingga mengerjap mencoba untuk meraih kesadarannya. Ia seketika berdiri dan...
"Banyu!!!!!"
Byuuuurrrrrrr!!!!!!
Tanpa ampun, Lingga menarik lengan tangan Banyu untuk membuat pemuda itu dalam posisi berdiri dan kemudian ia dorong hingga ia pun tercebur di dalam sungai.
"Rasakan kamu Nyu. Itu akibatnya karena kamu sudah dua kali menciumku hari ini. Dan itu kamu lakukan dengan cara mencuri. Dasar pencuri!
Lingga berdiri dan tertawa puas sembari berkacak pinggang melihat tubuh pemuda itu sudah basah kuyup. Rasa-rasanya ia begitu puas melihat pemuda ini tercebur ke dalam air dan sedikit gelagapan.
__ADS_1
Banyu hanya mengusap wajahnya dengan santai. Pemuda itu masih bisa tersenyum meski tubuhnya sudah basah kuyup. "Aku tidak menyesal menjadi seorang pencuri asal yang aku curi itu adalah rasa cintamu. Aku bahkan tidak akan pernah takut dipenjara jika itu di dalam hatimu. Selamanya akan aku biarkan diri ini terpenjara di dalam sana."
"Dasar sinting!"
"Jangan galak-galak Sayang, nanti jatuh cinta beneran loh sama aku!" ucap Banyu memperingatkan sembari terkekeh pelan.
Lingga terhenyak. Sungguh tidak bisa ia percaya pemuda ini benar-benar slengean. Ia pun melangkahkan kakinya kembali untuk menuju sebuah batu besar dan bersandar di sana. Perkataan Banyu sungguh hanya membuat salah tingkah saja.
"Acieeee ... cieee .... cieee ..... pipimu memerah loh Sayang. Itu tandanya kamu benar-benar jatuh cinta sama aku!" ujar Banyu tiada henti-hentinya menggoda Lingga.
Bibir Lingga hanya bisa melongo. Lagi, lagi Banyu mengeluarkan jurus slengeannya. Namun tidak dapat ia ingkari jika apa yang dikatakan oleh pemuda ini benar-benar membuatnya merasakan sebuah sensasi rasa yang baru sekali ia rasakan. Ia paham jika Banyu hanya bercanda namun entah mengapa membuat jantungnya berdegup kencang.
Tidak ingin terlalu lama berurusan dengan pemuda yang ia anggap sinting ini, Lingga kembali bangkit dan bermaksud meninggalkan sungai ini.
"Loh Sayang, mau ke mana? Tunggu aku!" teriak Banyu sambil berupaya untuk keluar dari kubangan air sungai ini. Meskipun masih basah kuyup namun ia tetap memutuskan untuk menyusul Lingga.
__ADS_1
"Bodo amat!" ketus Lingga masih acuh dengan keberadaan Banyu.
Baru beberapa langkah Lingga mengayunkan tungkai kakinya tiba-tiba terhenti saat melihat segerombolan orang mendekat ke arahnya.
"Loh Ndhuk, kamu mau kemana?" sapa Prasojo dengan membawa beberapa pasukan.
"Lah, pak Pras sendiri mau kemana? Kok ramai-ramai seperti ini?" tanya Lingga balik.
"Bapak dan beberapa orang ini akan menggali tanah di bawah curug itu Ndhuk. Sesuai permintaan Banyu, Bapak dan yang lainnya akan mencari tulang-tulang ayahmu yang tertimbun reruntuhan jurang.
Lingga terhenyak, hampir saja ia lupa akan satu hal di mana ada tugas yang harus ia lakukan setelah mengeluarkan Banyu dari dimensi lain. Lingga sedikit membalikkan badan dan menoleh ke arah Banyu yang masih berada di belakang punggungnya. Sedangkan pemuda itu hanya tersenyum penuh arti.
Ya Tuhan, ternyata Banyu bergerak cepat meminta bantuan orang-orang kampung untuk mencari tulang-tulang bapak yang tertimbun. Tidak aku sangka, pemuda itu telah berusaha maksimal mengerahkan tenanga untuk melakukan penggalian.
.
__ADS_1
.
. bersambung...