
Maryati, wanita paruh baya itu nampak sibuk dengan pakaian-pakaian yang ia masukkan ke dalam sebuah travel bag berwarna navi. Senyum penuh kebahagiaan tiada henti tersungging di bibirnya sebagai pertanda hatinya tengah bersuka ria. Bagaimana tidak bahagia jika pada akhirnya, sepasang kekasih yang pernah terpisah karena sebuah kesalahpahaman, sebentar lagi akan dipersatukan dibawah ikatan suci pernikahan. Dan yang lebih mengharukan lagi, ia dan semua yang tinggal di desa ini diundang untuk menghadiri acara pernikahan nanti. Sedangkan untuk biaya akomodasi? Hmmmm ... jangan terlalu dipikirkan, semuanya serba geratis, tanpa harus mengucurkan dana seperak pun. 😂😂😂
"Akhirnya, Lingga menikah juga dengan Banyu ya Pak?" ucap Maryati dengan wajah yang berbinar. Ia menutup resleting travel bag yang ia rasa sudah cukup pakaian ganti yang akan ia bawa ke Jogja.
"Sejatinya sejak pertama kali Bapak melihat kekhawatiran Lingga ketika mencari pertolongan untuk Banyu saat ditemukan, Bapak sudah ada firasat bahwa mereka akan berjodoh Bu. Saat itu Lingga terlihat begitu panik dan berupaya untuk menolong Banyu yang tergeletak di bawah curug. Dari sana, Bapak bisa menangkap sinyal bahwa mereka memang ditakdirkan untuk hidup bersama."
"Meskipun Bapak tahu bahwa Lingga sudah memiliki suami?"
Prasojo hanya bisa membuang napas sedikit kasar. "Seseorang yang bergelar sebagai suami istri belum tentu selamanya mereka hidup bersama Bu. Kita memang berharap bahwa yang menjadi pendamping kita merupakan dermaga terakhir bagi kita. Tapi ada kalanya seseorang yang ada di samping kita hanya sekedar hadir untuk memberikan satu pelajaran dalam hidup. Dan ternyata takdir Lingga bukan bersama Heru melainkan bersama Banyu. Ya meskipun mereka sempat hidup bersama."
"Ibu setuju Pak. Ibu hanya bisa berdoa semoga Banyu memang dermaga terakhir untuk Lingga. Kasihan ia, sejak dulu hidupnya selalu menderita."
__ADS_1
"Aamiin Bu, Bapak juga berharap seperti itu." Prasojo meraih travel bag yang ada di hadapannya. "Tas ini biar Bapak bawa ke depan Bu, jadi nanti kita bisa langsung berangkat kalau bus jemputan sudah datang."
"Baik Pak. Ibu mau mandi dulu, karena rencananya satu jam lagi kita akan berangkat."
Maryati meraih handuk putih yang berada di balik pintu. Wanita paruh baya itu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Bersiap-siap untuk berangkat ke Jogja menghadiri acara pernikahan Lingga.
***
"Aku benar-benar tidak menyangka jika adikku yang selama ini selalu aku sepelekan dan aku rendahkan akan menikah dengan salah satu putra konglomerat dari Jakarta, Mas. Aku kira Banyu adalah pemuda biasa-biasa saja tapi ternyata dia merupakan salah satu pewaris di Herlambang Corp yang kekayaannya tidak akan pernah habis tujuh turunan, lima tanjakan, dan tiga tikungan."
Heru membuang napas melalui mulut, hingga kepulan asap rokok yang ia hisap memenuhi ruangan. "Hmmmm... kamu tidak perlu merasa iri, Ning. Harta yang kita miliki jauh lebih banyak daripada yang dimiliki oleh pemuda ibu kota itu. Jadi kamu jangan merasa tersaingi."
Bibir Ningrum mencabik seakan meremehkan semua yang diucapkan oleh Heru. "Issshhh ... ishhhh... ishhhhh... Banyak sih banyak Mas, tapi kalau kamu terus terusan nyantai seperti itu ya kekayaan kita tidak akan bertambah. Kerja yang lebih giat lagi dong. Ingat ya Mas, aku ini sedang hamil dan perlu tabungan yang lebih untuk tabungan masa depan anak kita."
__ADS_1
"Nyantai bagaimana sih Ning? Aku selama ini sudah mengerahkan tenagaku dengan maksimal untuk menggarap sawah kita yang berhektar-hektar. Dan hasilnya juga banyak kan?"
"Ckkkkk .... ckkkkk ... ckkkkk .... nyatanya hasil panen kita selalu menurun Mas, maksimal dari mana coba?" Ningrum mengayunkan tungkai kakinya untuk keluar dari kamar setelah ia selesai dengan ritual make-up nya. "Pokoknya aku tidak mau tahu Mas, pokoknya bulan depan hasil panen kita harus lebih banyak daripada sebelumnya."
"Hhhhmmmm .... iya Ning ... iya ... kamu itu jadi perempuan kok cerewet sekali."
"Ya sudah, kamu bersiap-siaplah Mas. Kita akan ke Jogja dengan membawa mobil pribadi milik kita. Aku tidak terbiasa berkumpul dengan orang-orang miskin yang berada di dalam bus yang disediakan oleh Lingga. Bisa-bisa, aku jadi ikutan miskin nanti," seloroh Ningrum sambil menuju ruang depan.
.
.
. bersambung...
__ADS_1
Untuk part pernikahan insyaallah di bab selanjutnya ya Kak.. Semoga sore nanti bisa update 🥰🥰🥰🥰