Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 33. Penggalian dan Pemakaman


__ADS_3


Beberapa orang nampak bersemangat mengerahkan tenaga yang mereka miliki untuk menggali tanah bebatuan yang berada di bawah curug, persis di mana Banyu ditemukan. Sesuai dengan apa yang diucapkan Dirga kepada Banyu saat berada di dimensi lain, di bawah tanah inilah tulang-tulang orang tua Lingga itu berada. Sekop, cangkul, palu batu (bodem) mereka gunakan untuk menggali tanah bebatuan ini.


"Bagaimana Min, apa sudah nampak tanda-tanda?" teriak Prasojo ke arah Parmin yang saat ini berada di kedalaman sekitar lima meter.


"Belum Pak, saya belum melihat ada tanda-tanda tulang di sini."


Lingga seakan dibelenggu oleh rasa cemas. Ia benar-benar khawatir jika sampai tulang-tulang sang ayah tidak ditemukan, sedangkan Parmin sudah berada jauh di bawah sana.


"Nyu, kita hentikan saja penggalian ini. Kasihan pak Parmin sudah sedalam itu berada di bawah namum belum juga menemukan tulang-tulang bapakku."


"Kamu yakin ingin menghentikan ini? Sebentar lagi kamu akan menemukan tulang-tulang itu."


"Tapi Nyu, mau sedalam apa lagi pak Parmin menggali tanah bebatuan itu? Kasihan dia."


Prasojo yang sayup-sayup mendengar percakapan Lingga dan Banyu mendekat ke arah mereka. "Ada apa Le, Ndhuk? Kok sepertinya serius seperti itu?"


"Ini Pak, Lingga meminta penggalian ini dihentikan Pak."


"Kenapa Nduk? Kenapa harus dihentikan?"


"Saya hanya kasihan kepada pak Parmin, Pak. Sudah sepuluh tahun peristiwa itu terjadi, belum pasti tulang-tulang bapak ditemukan."


"Ya sudah, Bapak tanya ke Parmin terlebih dahulu. Seandainya dia masih sanggup untuk menggali lebih dalam lagi sampai menemukan tulang-tulang bapakmu, biarkan dia melakukannya. Namun jika memang dia sudah tidak sanggup, kita minta dia naik," ucap Prasojo memberikan sebuah solusi. Sedangkan Lingga hanya mengangguk.


"Min, kamu masih sanggup? Seandainya sudah kelelahan kita hentikan penggalian ini dan segeralah naik!" teriak Prasojo.

__ADS_1


"Sebentar Pak, sepertinya saya menemukan sesuatu!"


Suara Parmin yang menggema, membuat Lingga sedikit terkejut. Buru-buru ia mendekat ke arah lubang yang digali oleh Parmin dan dua orang lainnya.


"Pak Parmin, apa yang Bapak temukan? Coba beritahu saya Pak!" teriak Lingga yang semakin dibuat penasaran


"Ini Ndhuk, Bapak menemukan tulang belulang!"


"Benar kamu menemukan tulang-tulang itu Min? Kamu tidak bercanda bukan?" ucap Prasojo untuk memastikan.


"Iya Pak, saya menemukan tulang-tulang bapak Lingga. Semakin dalam saya gali semakin banyak yang saya temukan. Coba lemparkan kain putih itu Pak untuk membungkus tulang-tulang ini."


Rona wajah Lingga semakin cerah dengan setetes bulir bening yang jatuh dari pelupuk matanya. Ia tidak pernah menyangka setelah sepuluh tahun berlalu akhirnya, jejak-jejak terakhir sang ayah ditemukan.


Sekilas, Lingga melirik ke arah Banyu. Masih seperti biasa, pemuda itu selalu menampakkan senyum termanis yang ia miliki. Lingga benar-benar tidak pernah menyangka jika pemuda yang ia anggap sinting ini yang menjadi jalan bertemunya ia dengan jejak terakhir sang ayah.


"Muuuaaahhh.... I love you!"


Kedua bola mata Lingga kembali terbelalak saat dari tempatnya berdiri, ia melihat Banyu menampakkan ekspresi seseorang yang sedang cium jauh sembari mengucapkan kata i love you. Meskipun pemuda itu tidak bersuara, namun terlihat jelas dari gerak bibirnya.


Baru saja aku berikan pujian, eh taunya kumat lagi dia.


***


Lingga terduduk lemas di atas sebuah gundukan tanah yang masih terlihat basah. Beberapa saat yang lalu, tulang-tulang milik sang ayah telah dikebumikan dengan layak dan sesuai tata cara. Dan saat ini hanya terlihat taburan bunga di atas tanah dengan sebuah papan dari kayu yang menjadi tanda kepemilikan makam ini.


Tulang-tulang Dirgantara dikubur di samping makam milik Mawarni yang merupakan sang istri. Lingga berharap dengan seperti itu ayah dan juga ibunya bisa senantiasa berdekatan.

__ADS_1


"Bapak ... akhirnya setelah sepuluh tahun berlalu, Bapak bisa berada di tempat yang layak. Lingga berharap saat ini Bapak senantiasa tenang berada di alam baka," ucap Lingga lirih. Matanya terlihat sedikit sembab, karena terkenang akan semua memori yang pernah ia lewati bersama.


Melihat Lingga yang meneteskan air mata, membuat hati Banyu turut terenyuh. Ia pun menghampiri Lingga dan ikut berjongkok di samping wanita ini.


"Bapak pasti sudah tenang. Sekarang, kapanpun kamu bisa mengunjungi makam Bapak. Jadi, kamu tidak perlu bersedih lagi."


Lingga mengangguk pelan. "Iya, sekarang kapanpun aku rindu, aku bisa mengunjungi bapak."


Banyu mengusap-usap punggung Lingga dengan lembut untuk menenangkan wanita ini. "Sekarang kita pulang ya. Hari sudah semakin sore dan sepertinya akan turun hujan."


Lingga mengangguk. Sebelum ia beranjak, wanita itu mencium papan nama milik Dirgantara dengan lekat. "Lingga sudah mengikhlaskan Bapak. Saat ini Bapak pasti tidak akan merasakan sakit lagi karena tertimbun bebatuan. Terimakasih banyak telah menjadi sosok ayah yang terbaik untukku selama ini, Pak. Semoga Bapak selalu tenang berada di alam sana."


Lingga mulai bangkit dari posisi jongkoknya begitu pun dengan Banyu. Mereka mulai mengayunkan tungkai kakinya untuk keluar dari tempat ini. Banyu masih setia menggandeng tangan Lingga, berupaya untuk memberinya kekuatan untuk wanita ini.


Sebelum benar-benar keluar dari area pemakaman, Banyu membalikkan badan dan kembali menatap makam Dirgantara. Tepat di atas pusaranya nampak sosok seorang laki-laki yang tersenyum ke arahnya. Banyu yakin sosok itu adalah Dirgantara. Ia nampak menganggukkan kepala sembari tersenyum ke arah Banyu. Banyu pun turut tersenyum ke arah sosok lelaki di atas pusara itu.


Pada akhirnya atas kehendak Yang Maha Kuasa, setelah sepuluh tahun berlalu, jejak-jejak jasad terakhir seorang pendaki bernama Dirgantara bisa ditemukan dan ditempatkan di tempat yang layak.


.


.


. bersambung..


Haaahhh... akhirnya, yang berbau-bau mistis sudah selesai ya Kak.. Di part-part selanjutnya, kita akan bertemu dengan Heru. Hayooo.. siapa yang penasaran dengan Heru? Dan sebenarnya apa sih yang terjadi?


Ikuti terus cerita ini ya kak.. ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2