
Kukuruyuk.....
Hari masih gelap, kabut tebal masih menyelimuti, hawa dingin khas lereng gunung juga masih mendominasi. Sayup-sayup terdengar kokok suara ayam jantan sebagai pertanda bahwa malam telah berganti pagi.
Tubuh Banyu dan Darmaji sama-sama bergetar hebat. Seperti menjadi tanda bahwa kedua sukma mereka telah kembali ke dalam raga. Banyu yang sebelumnya nampak kesusahan bernapas kini keadannya mulai sedikit lebih tenang. Ia terlelap dengan napas yang sudah mulai teratur.
Darmaji membuka kedua kelopak mata. Gegas, ia mengambil segelas air dan megusap wajah Banyu dengan air itu. Seketika Banyu juga turut membuka kelopak matanya.
"Syukurlah Le... kamu sudah sadar!!"
Rona bahagia nampak tercetak jelas di raut wajah Maryati. Tanpa banyak berkata, wanita itu memeluk tubuh Banyu dengan erat. Merindukan kehadiran anak, membuat Maryati begitu menyayangi sosok Banyu. Ia sudah menganggap Banyu seperti putranya sendiri. Tak ayal hal itulah yang membuat Maryati teramat bersyukur ketika melihat Banyu sudah sadar dari tidurnya.
Prasojo dan Darmaji juga nampak begitu bahagia sekaligus lega. Pada akhirnya, sukma Banyu bisa seutuhnya kembali ke dalam raga. Dua orang itupun juga nampak menyambut sadarnya Banyu dengan senyum yang tiada henti terbit di bibir masing-masing.
"Le, Kukuh, apa yang saat ini kamu rasakan?"
Darmaji melakukan sebuah misi untuk melihat apakah ingatan Banyu ini bisa kembali normal atau tidak setelah sepenuhnya sukma milik pemuda itu kembali ke dalam raga.
Dahi Banyu mengernyit. "Kukuh? Siapa itu Kukuh Pak? Nama saya bukan Kukuh."
"Lalu, siapa namamu Le?"
"Nama saya Banyu, Pak. Banyu Biru. Tapi mengapa Bapak bisa memanggil saya Kukuh?"
Ekspresi kebingungan yang muncul dari wajah Banyu justru membuat orang-orang yang berada di sekelilingnya tersenyum lebar. Mereka semakin yakin bahwa ingatan Banyu sudah kembali.
"Baiklah Banyu, sekarang Bapak tanya. Apa yang saat ini kamu rasakan Le? Apakah kamu merasa pusing? Atau tubuhmu kaku-kaku? Tidak bisa digerakkan? Coba katakan kepada Bapak!" ucap Prasojo mencoba untuk mencari tahu apa yang dirasakan oleh Banyu.
Banyu mencoba untuk menggerakkan tangan dan kakinya. Tanpa basa-basi pemuda itupun bangun dari posisi berbaringnya. Kini, pemuda itupun terduduk di atas amben di hadapan Prasojo dan lainnya.
"Ya Allah Gusti ... ternyata keadaanmu benar-benar telah pulih Le. Kamu sudah sembuh." ucap Maryati sembari mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya sebagai bentuk rasa syukurnya.
Prasojo dan Darmaji juga nampak terperangah tiada percaya. Tubuh Banyu yang sebelumnya tidak bisa digerakkan kini kembali seperti semula. Bahkan pemuda itu tiada henti menggerakkan tubuhnya untuk meregangkan otot-otot tubuh yang terasa kaku tiada terkira.
__ADS_1
"Coba jawab pertanyaan Simbah Le, tempat tinggal kamu di mana? Berasal dari mana kamu?"
Kini, giliran Darmaji yang melontarkan sebuah tanya kepada Banyu. Jika Banyu bisa mengingat semua, mungkin bisa menjadi jalan bagi pemuda itu kembali kepada keluarganya yang mungkin tengah menunggu kepulangannya.
Dahi Banyu sedikit berkerut. Seperti seseorang yang sedang mengingat-ingat sesuatu. Namun tak selang lama ia menggelengkan kepala.
"Saya sama sekali tidak ingat di mana saya tinggal Pak. Yang saya ingat, saya baru saja ditolong oleh seorang wanita yang sangat cantik. Saya merasa digendong olehnya namun mengapa saat ini saya tidak melihat dia ada di sini?"
Para orang tua itu hanya terkekeh geli, bisa-bisanya yang diingat oleh Banyu hanyalah sosok Lingga.
"Oh seperti itu? Memang siapa wanita cantik itu Le?" tanya Prasojo dengan tergelak lirih.
Banyu merotasikan kedua bola matanya, mencoba untuk mengingat apa yang ia alami bersama sosok wanita yang begitu tergambar jelas di dalam memori otaknya.
"L-Li ... Lingga. Ya, wanita cantik itu bernama Lingga Pak. Dia Lingga. Kemana perginya wanita itu Pak? Ada janji yang harus saya tunaikan kepada wanita itu. Tolong antarkan saya menemuinya Pak. Antarkan saya!"
Banyu yang sebelumnya duduk di atas amben, kini ia turun dari amben itu. Pemuda itu nampak bersemangat sekali untuk bisa segera bertemu dengan Lingga. Namun baru saja ia akan melangkahkan kaki, tiba-tiba...
Krucuk... krucuk... krucuk....
"Sabar ya Le. Sekarang, lebih baik kamu makan terlebih dahulu. Kamu pasti sangat lapar sekali. Seharusnya, tubuh kamu ini masih lemah setelah kembali dari dimensi lain. Namun entah mengapa kamu nampak begitu segar dan bugar meski ada beberapa goresan luka di wajahmu?"
Banyu mengedikkan bahu. "Entahlah Bu, saya juga tidak tahu. Mungkin karena wanita itu yang membuat saya segar dan bugar seperti ini."
"Ya sudah, sekarang kamu makan terlebih dahulu ya Le. Setelah itu, kita sama-sama ke tempat Lingga."
****
Bunyi gemercik aliran air sungai terdengar mengalun merdu ke setiap sudut tempat ini. Airnya yang jernih layaknya sebuah cermin bening yang bisa membiaskan apa-apa saja yang berada di dalam air itu. Nampak, ikan-ikan bersisik emas berenang ke sana kemari tanpa merasa lelah sama sekali.
Sinar lembut matahari terasa menyentuh tubuh Lingga yang masih tergeletak di bawah curug. Hembusan angin pagi juga menerpa tubuh wanita itu namun sama sekali tidak mengusik ketenangannya. Lingga masih nampak begitu tenang dan damai dalam lelapnya.
"Ndhuk, bangunlah!"
Diantara sadar atau tidak, Lingga seperti mendengar gelombang suara yang begitu lirih merembet ke dalam indera pendengarannya. Ia mencoba untuk meraih kesadarannya, namun rasa-rasanya ia masih enggan untuk membuka mata.
__ADS_1
"Ndhuk, Lingga. Bangunlah, Nak. Kamu sudah kembali ke duniamu. Buka matamu Ndhuk, buka!"
Suara itu semakin terdengar jelas. Suara itu pulalah yang seakan menarik paksa kesadaran Lingga yang sebelumnya entah berada di mana. Kedua kelopak mata Lingga terbuka. Ia sedikit memincing kala sinar matahari sedikit menusuk kornea mata. Ia pun bangun dari posisi berbaringnya.
"Ya Tuhan, mengapa badanku terasa lemas dan sakit semua? Tulang-tulang tubuhku seperti remuk redam. Dan astaga, rasanya pegal-pegal semua."
Lingga mencoba untuk meregangkan otot-otot tubuh hingga terdengar gemeretak seperti dahan-dahan pohon yang patah. Ia pun mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling dan betapa terkejutnya ia saat melihat dua binatang bermotif loreng berada di seberang sungai. Harimau itu nampak sedang menikmati kesegaran air sungai ini.
"Astaga, lagi-lagi aku bertemu dengan dua harimau Jawa itu. Mengapa mereka seperti mengikuti kemanapun aku pergi? Apakah mereka terpesona kepadaku?"
Kali ini Lingga menatap manik mata dua hewan buas itu dengan sorot mata tajam. Aneh, dua harimau itu seakan tidak merasa tertantang. Mereka justru dengan santai melanjutkan aktivitasnya untuk meminum air sungai yang nampak menyegarkan ini.
"Hah, mereka tersenyum ke arahku? Apa aku tidak salah lihat?"
Lingga bahkan sampai mengucek-ucek matanya kala melihat dua binatang itu seakan menyunggingkan senyum ke arahnya. Mereka nampak begitu ramah dalam menyambutnya. Semakin ia mengucek-ucek mata, dua harimau itu justru semakin nampak begitu jinak.
Lingga menggeleng-gelengkan kepala. Saat ini, wajah dua harimau itu jauh lebih sedap untuk dipandang.
"Bahkan wajah mereka jauh nampak lebih ramah daripada wajah mas Heru. Ya Tuhan, apakah mereka itu merupakan siluman yang sedang mencari pendamping? Masa iya aku akan dijadikan siluman harimau juga untuk mendampingi mereka?"
Lingga sibuk bermonolog lirih. Namun sesaat kemudian ia menepuk jidatnya. "Astaga Lingga, mengapa pikiranmu menjadi tidak karuan seperti ini? Ada apa denganmu?"
Lama Lingga larut dalam pikirannya sendiri, hingga pada akhirnya dua harimau itu perlahan melangkah untuk meninggalkan sungai ini.
"Hah... syukurlah, mereka telah pergi. Aku bisa bernapas lega kali ini."
Lingga menyenderkan tubuhnya di batu besar yang berada di dekatnya. Ia memandangi langit yang nampak begitu cerah. Nampak awan-awan tipis yang membentuk jaring-jaring kapas menghias cakrawala. Ia kembali menatap sekeliling. Nampak tebing-tebing yang nampak menjulang tinggi dan curam namun seakan menjadi satu keindahan yang tersembunyi di balik jenggala. Gunung Slamet yang berdiri gagah seakan membuat netranya tidak jemu untuk memandang. Sungguh, mahakarya dari Sang Maha penggenggam kehidupan yang sudah selayaknya dijaga dan dilestarikan oleh manusia.
Lingga tersenyum penuh arti. Saat ini, ia benar-benar bersyukur karena bisa menikmati segala keindahan yang tersaji dan bersyukur karena Tuhan mengizinkannya untuk merasakan keindahan dunia seperti ini.
.
.
. bersambung...
__ADS_1