
Sosok pemuda dengan rupa yang persis dengan Banyu nampak duduk sendirian di dalam goa. Lingga pun berupaya untuk bisa mendekat ke arahnya.
"Banyu... ayo kita pulang. Tempatmu bukan di sini!"
Lingga mengulurkan tangannya untuk mengajak pemuda ini agar segera pergi dari tempat ini. Kedatangannya inilah yang membuat sukma Banyu sedikit terperanjat.
"Kamu? Apakah kamu yang akan menolongku?"
Lingga mengangguk pelan. "Iya, aku yang akan menolongmu. Pegang tanganku. Ayo kita pulang!"
Banyu tersenyum simpul. Ia mencoba untuk bangkit dari posisinya namun sayang tiba-tiba saja ia seperti kehilangan tenaga. Lelaki itu kembali terduduk lunglai.
"Aku, aku tidak sanggup untuk berdiri. Aku serasa tidak memiliki tenaga sama sekali."
Lingga terhenyak. Mungkinkah saat ini Banyu akan memilih untuk kalah dengan keadaan? Apakah ia akan menyerah justru di saat pertolongan itu datang kepadanya?
"Tidak, tidak, tidak. Kamu tidak boleh lengah Nyu. Kamu harus bertahan. Ingatlah, keluargamu sedang menunggumu di rumah. Kamu harus bertahan."
Tanpa terasa setetes bulir bening jatuh membasahi pipi Lingga. Jantungnya seakan berdenyut nyeri jika sampai apa yang ia lakukan justru akan berakhir seperti ini. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sedih itu dirasakan oleh keluarga Banyu di saat mereka benar-benar telah kehilangan anggota keluarganya.
"Apakah sukmaku bisa keluar dari alam ini? Dan apakah aku bisa kembali ke dalam ragaku?"
Lingga menyeka air mata yang mulai deras mengalir. Mendengar kata yang menunjukkan rasa pesimistis dari pemuda ini sungguh membuatnya didera oleh rasa iba. Entah mengapa sedalam ini ia merasakan kepayahan yang dirasakan oleh Banyu karena sudah berhari-hari terperangkap di dimensi ini. Seakan membuat hati Lingga turut tertusuk sebuah belati.
__ADS_1
"Percayalah, aku bisa membawamu keluar dari alam ini. Dan percayalah bahwa kamu pun juga bisa kembali ke ragamu. Pegang tanganku. Ayo kita segera keluar dari tempat ini. Aku akan membantumu. Waktu kita tidak banyak lagi."
Banyu mengulurkan tangannya dan meraih tangan Lingga. Ia genggam erat jemari wanita ini yang seketika membuatnya semakin kuat untuk berdiri.
Banyu tersenyum penuh arti di hadapan Lingga. "Kamulah malaikat penolongku, jika aku diberikan kesempatan untuk hidup lebih lama oleh Tuhan, aku berjanji akan membahagiakanmu."
Deg... Deg... Deg...
Rasanya, jantung milik Lingga berdegup kencang. Tiba-tiba saja ada satu kehangatan yang mengalir di aliran darahnya. Kata yang terucap dari Banyu sungguh membuatnya bahagia tiada terkira. Namun sejenak kemudian ia tersadar. Ia tidak boleh terlalu larut dalam perasaan asing itu. Ia harus berpacu dengan waktu untuk bisa membawa pulang Banyu ke dunianya.
Tanpa basa-basi, Lingga menarik tangan Banyu dan membawa pemuda itu berlari, pergi dari tempat ini. Baru beberapa ia melangkahkan kakinya tiba-tiba saja...
"Tunggu. Tunggu dulu!"
"Tunggu sebentar, aku ingin berpamitan terlebih dahulu dengan temanku."
Kedua bola mata Lingga menyipit. Ia teramat heran teman seperti apa yang dimaksud oleh Banyu ini. Apakah mungkin sosok genderuwo? Sosok pocong? Sosok kuntilanak? Atau sosok-sosok siluman penunggu hutan?
"Teman? Teman siapa yang kamu maksud? Apakah teman kamu itu juga merupakan sukma yang terperangkap di dimensi ini?"
Banyu menggelengkan kepala. "Bukan, sosok itu memang sudah mati namun ia masih belum bisa meninggalkan dunia dengan tenang karena jasadnya belum bisa dikuburkan dengan layak."
Tubuh Lingga seperti merinding dibuatnya. Mendengar cerita dari Banyu seperti mengantarkan memorinya kepada sosok sang ayah yang sampai saat ini jasadnya belum ditemukan. Apakah mungkin sukma sang ayah juga belum bisa tenang di alam sana mengingat jasadnya juga belum dikuburkan secara layak?
"Lalu, di mana temanmu itu?"
__ADS_1
Kini, giliran tangan Banyu yang menarik tangan Lingga. Ia berjalan cepat untuk menuju ke sebuah tempat yang biasa ditempati oleh sosok pendaki yang telah meninggal itu. Sebuah tempat yang berada di atas tebing curam yang sekitarnya dihiasi oleh aliran arus sungai.
"Hei, aku datang. Seperti apa yang kamu ucapkan bahwa akan ada sosok penolong yang akan menolongku. Saat ini dia sudah berada di sini dan aku ingin berpamitan kepadamu. Aku akan kembali ke duniaku!"
Banyu berteriak lantang ke arah sosok laki-laki yang berdiri di tepian tebing dan dalam posisi memunggunginya. Lingga menatap lekat punggung lelaki itu yang ia rasa tidak begitu asing di penglihatan dan juga hatinya. Ia merasa seperti mengenal sosok lelaki yang disebut teman oleh Banyu ini.
Sejenak kemudian, tubuh lelaki itu nampak bergerak. Perlahan ia berbalik badan, hingga kini ia berhadapan langsung dengan Banyu dan juga Lingga.
Untuk kesekian kalinya kedua bola mata Lingga terbelalak sempurna. Kali ini bibirnya menganga lebar. Lidahnya seakan kelu tidak mampu untuk berucap sepatah katapun. Namun sejenak kemudian...
"B-Bapak..."
Brukkk!!!
Tubuh Lingga melemah seketika. Tulang-tulang tubuhnya seakan kembali melemas. Hingga ia pun hanya bisa terduduk di tepian sungai ini sembari menatap tak percaya sosok lelaki yang masih berdiri dengan gagah itu.
Lagi, air matanya kembali deras mengalir. Seakan tiada percaya namun sosok sang ayah benar-benar nampak jelas berdiri di hadapannya. Ya, lelaki itu adalah sang ayah yang selama sepuluh tahun ini hilang di dalam dekapan gunung Slamet. Ia bahkan masih mengenakan pakaian yang sama dengan pakaian yang dikenakannya saat terakhir kali ia berpamitan untuk mendaki.
Lelaki itu tersenyum manis dan menampakkan gurat-gurat ketampanannya. "Iya Ndhuk, ini Bapak."
.
.
. bersambung...
__ADS_1