Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 25. Ayah


__ADS_3


Pov Lingga


Sepuluh tahun, bukanlah waktu yang sebentar dalam menanti sebuah kepastian. Dalam kurun waktu itu aku diombang-ambingkan oleh keadaan dimana aku belum tahu pasti apa yang sesungguhnya menimpa ayahku. Apakah ia masih hidup ataukah justru menghadap Tuhan terlebih dahulu? Namun, jika ia menghadap Tuhan terlebih dahulu, mengapa sampai saat ini jejak-jejak raganya tidak bisa ditemukan sama sekali?


Aku dan keluarga mencoba untuk merelakannya. Di dalam otak dan juga hatiku sudah aku tancapkan sebuah pemahaman bahwa ayah memang sudah tiada di dalam pendakiannya. Jika takdir menuliskan usianya harus berakhir di dalam dekapan gunung Slamet, akupun ikhlas dan sanggup untuk menerima segala ketetapan itu.


Jika Tuhan masih berbaik hati untuk mengabulkan satu permintaan, aku hanya ingin menemukan jasad beliau. Atau jika jasad merupakan suatu hal yang sangat mustahil cukup jejak-jejak pakaiannya saja bisa aku temukan. Namun alam seakan menyembunyikan semua hingga sampai sepuluh tahun berlalu, tidak ada satupun jejak yang ditinggalkan oleh ayahku.


Aku menatap nanar sosok lelaki yang kulihat masih berdiri dengan gagah itu. Bahkan gurat-gurat ketampanannya masih terukir jelas di wajahnya. Jantungku semakin berdenyut nyeri ketika kulihat sosok itu tersenyum manis di hadapanku. Seutas senyum yang seakan membekukan aliran darahku yang seketika hanya bisa membuatku terdiam dan terpaku.


"Ini Bapak Ndhuk... Tidakkah kamu ingin memeluk tubuh Bapak ini?"


Aku terhenyak. Kata yang terucap dari sosok lelaki ini seakan mengingatkanku akan kerinduan yang bersemayam di dalam pusara hati. Rindu tak bertuan karena selama ini tidak pernah aku temui pemiliknya. Dan kini ketika aku kembali dipertemukan dengan sosok ini, serpihan-serpihan rindu itu kembali membuncah, memenuhi rongga dada. Ingin rasanya aku memeluk lelaki ini.


Bak mendapatkan suplay energi, sendi dan tulang-tulang tubuhku terasa memiliki kekuatan kembali. Aku bangkit dari posisi terdudukku dan kemudian ku hamburkan tubuh ini ke dalam dekapan ayah.


"Bapak .... Lingga rindu!"


Hanya kata itu yang mampu keluar dari bibirku. Kubenamkan wajah ini di dalam dada lelaki yang selama hidupnya begitu mencurahiku dengan cinta dan kasih sayang tanpa sedikitpun aku merasa kekurangan. Ku peluk erat sukmanya untuk mencurahkan segala kerinduan yang ada. Seperti sebuah dendam, rindu yang aku rasakan juga harus terbalaskan. Dan saat ini semua telah tumpahkan. Tidak ada hal lain yang aku rasakan selain rasa lega yang luar biasa.


"Maafkan Bapak Ndhuk, maafkan Bapak karena pergi tanpa pernah kembali lagi."

__ADS_1


"Sekarang Lingga sudah menemukan Bapak. Bapak pulang ya... kita pulang sama-sama."


Entah mengapa otakku serasa tidak bisa diajak untuk berpikir jernih. Aku berpikir bahwa ayahku ini seperti Banyu, masih hidup hanya sukmanya saja yang terperangkap di alam lain. Kerinduan terhadap ayah ternyata membuatku lupa bahwa sudah sepuluh tahun beliau tiada. Mustahil jika ia masih hidup di dunia.


"Tidak Ndhuk, Bapak tidak bisa ikut pulang denganmu. Bapak...."


"Mengapa Pak? Mengapa Bapak tidak bisa ikut pulang dengan Lingga. Lingga bisa membawa pulang pemuda ini. Seharusnya Bapak juga bisa ikut pulang bersama Lingga."


Aku memangkas ucapan ayah. Aku meracau seakan tidak terima jika ayah tidak bisa ikut pulang denganku."


Kurasakan ayah merenggangkan pelukannya. Ia tatap netraku lekat sembari ia seka bulir-bulir air mata yang masih membasahi pipiku. Lelaki itu mengecup keningku begitu intens dan kurasakan kehangatan mengaliri aliran darahku.


"Dunia kita sudah berbeda ya Ndhuk. Bapak sudah tidak bisa untuk kembali ke dunia karena saat ini di sini lah tempat Bapak. Namun, Bapak masih belum bisa pergi dengan tenang karena jasad Bapak belum dikebumikan dengan layak. Setelah kamu kembali ke duniamu, Bapak hanya minta tolong satu hal kepadamu. Kuburkan tulang-tulang Bapak dengan layak. Dengan begitu Bapak bisa pergi dengan tenang."


"Di mana tulang-tulang itu Pak? Di mana Lingga bisa menemukan tulang-tulang itu."


Belum sempat ayah memberikan jawaban, tiba-tiba saja ekor mataku menangkap bayangan sukma Banyu yang tiba-tiba terduduk lemas. Lelaki itu seakan kehilangan tenaganya.


"Banyu!!!"


Aku terkesiap saat melihat sukma Banyu yang kian melemah. Aku menghampirinya dan mencoba untuk membuatnya kembali berdiri.


"Ndhuk, segeralah pulang. Pemuda itu sepertinya sudah tidak bisa berlama-lama berada di tempat ini. Pulanglah Ndhuk. Selamatkan pemuda ini."

__ADS_1


"Tapi Pak, Lingga masih merindukan Bapak. Lingga masih ingin berada di sini. Lingga masih ingin bersama Bapak!"


Kulihat ayah kembali tersenyum simpul dan mendekat ke arahku. "Nanti setelah tulang-tulang Bapak kamu kubur dengan layak, kamu bisa mengunjungi makam Bapak setiap hari. Kamu bisa melepas rindu di sana. Sekarang pulanglah Ndhuk, lepaskan sukma pemuda ini dari belenggu dimensi ini."


Tubuh dan juga bibirku bergetar hebat. Sekejap bertemu dengan ayah, kini aku harus berpisah kembali. Kupeluk lagi sukma ayahku ini dengan erat. Rasa-rasanya aku ingin menghentikan waktu agar aku bisa terus memeluk sukma ayahku ini.


"Lingga pamit ya Pak. Lingga berjanji akan menemukan tulang-tulang Bapak dan menguburkannya dengan layak."


"Bapak percaya kepadamu Ndhuk, Bapak percaya."


Kulepaskan pelukanku dari sukma ayah. Aku masih memiliki satu tugas berat untuk bisa membawa Banyu keluar dari dimensi ini. Akupun berlari dengan menggenggam jemari tangan Banyu dan mencoba untuk keluar dari alam ini.


Terima kasih Tuhan, setidaknya saat ini aku bisa bertemu dengan ayahku. Memeluk erat sukmanya dan menatap lekat wajahnya. Untuk meluruhkan segala kerinduan yang ada untuknya.


"A-aku sepertinya tidak kuat lagi. Aku...."


Kedua bola mataku kembali terbelalak dan membulat sempurna saat melihat Banyu yang tiba-tiba meluruhkan tubuhnya di atas hamparan tanah hutan belantara ini.


"Banyu.....!!!"


.


.

__ADS_1


. bersambung...


__ADS_2