Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 30. Sebuah Tawaran


__ADS_3


"Bagaimana? Betul bukan bahwa kamu memang masih suci, belum terjamah sama sekali?"


Senyum seringai terbit di bibir Banyu. Saat ini ia benar-benar yakin bahwa Lingga tidak bisa mengelak lagi. Ia pun melangkahkan kakinya untuk mendekat ke tubuh wanita itu. Dan ia berdiri tepat di samping Lingga sembari menatap aliran air sungai yang mengalir deras.


Tubuh Lingga hanya bisa terpaku dan membeku. Bibirnya terkatup tak mampu untuk berucap sepatah katapun. Ia merasa sudah tidak bisa membantah ucapan Banyu. Dan Lingga hanya bisa membuang napas kasar.


"Bukan urusanmu. Dan tidak seharusnya kamu mencampuri kehidupan pribadiku!"


Meski Banyu berada di sampingnya, namun Lingga tetap menatap ke arah depan seolah abai dengan keberadaan pemuda ini. Ia berucap tanpa sedikitpun menoleh ke arah lawan bicaranya.


"Tentu akan menjadi urusanku. Karena hal itulah yang akan semakin menguatkan tekadku untuk bisa menyelamatkanmu dari suami tidak tahu diri seperti suamimu itu," ucap Banyu sembari menatap wajah Lingga, meskipun tidak mendapatkan sambutan ataupun balasan.


"Suami tidak tahu diri? Bukankah di dalam perkara ini kamulah yang tidak tahu diri? Kamu mencium wanita bersuami adalah hal yang memalukan sekali dan tidak tahu diri," seloroh Lingga masih tidak ingin kalah berdebat dengan pemuda ini.

__ADS_1


"Hahahaha .... kamu salah besar Sayang. Apa yang aku lakukan bukanlah bentuk tidak tahu diri tapi justru sebaliknya. Aku menciummu merupakan salah satu bentuk rasa syukurku atas segala keindahan ciptaan Tuhan."


Bibir Lingga menganga lebar. Saat ini mau tidak mau ia harus menoleh ke arah pemuda ini. "Apa kamu bilang? Wujud rasa syukurmu akan keindahan ciptaan Tuhan? Bagaimana bisa?"


"Aku melihat ada keindahan di hadapanku, sudah selayaknya aku menikmatinya. Masa iya ada bibir merah nan menggoda aku biarkan begitu saja? Memang aku Heru yang tidak pernah bisa bersyukur memiliki istri sepertimu? Mengabaikanmu, membiarkanmu dan sama sekali tidak pernah menjamahmu?"


"Dasar gila kamu Nyu!" timpal Lingga semakin naik darah.


"Iya Sayang, mungkin aku benar-benar sudah gila. Gila karena aku telah terpikat oleh pesonamu. Bahkan aku menganggapmu wanita lajang yang belum bersuami."


Lingga semakin dibuat jengah akan apa yang diucapkan oleh Banyu. Berdebat dengan pemuda ini seakan membuat kesabarannya diuji habis-habisan. Ia pun memilih untuk duduk di tepian sungai dan mencoba untuk menguasai amarahnya. Ia pandang suasana sekitar dengan tatapan menerawang. Seakan larut dalam dunianya sendiri.


"Apakah kamu tidak merasa curiga terhadap sikap suamimu?" ucap Banyu dengan nada kalem. Ia ingin sekali mengenal wanita ini lebih dekat lagi.


"Rasa curiga itu hanya akan membuat lelah hati dan lelah pikiran. Jadi mengapa aku harus curiga? Dan apa yang harus aku curigai?"

__ADS_1


Banyu berdecak kagum dengan apa yang diucapkan oleh Lingga. Ternyata hati wanita ini benar-benar bersih. Ia bahkan tidak mengizinkan prasangka buruk menguasai hati dan pikirannya.


"Itu merupakan prinsip hidup yang sangat bagus. Namun apa artinya itu semua jika hanya akan menempatkanmu ke dalam situasi dan keadaan yang tidak pernah membaik. Seharusnya, kamu mencurigai suamimu. Siapa tahu, di luar sana ia memiliki wanita idaman lain sehingga mengabaikanmu."


"Itu bukan urusanmu, Banyu. Dan tidak seharusnya kamu ikut campur," ujar Lingga dengan nada sedikit tinggi.


Banyu masih belum menyerah. "Bagaimana jika aku berikan satu tawaran kepadamu?"


Dahi Lingga mengernyit. "Tawaran apa?"


“Jadilah pacarku! Jika suamimu bisa berselingkuh di belakangmu, kamu juga bisa melakukan hal yang sama. Dan aku akan membantumu.”


.


.

__ADS_1


. bersambung....


 


__ADS_2