Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 53. Ngeyel Sih!


__ADS_3


"Astaga. Lihatlah Sayang, di sana ada seseorang."


Langkah kaki Banyu tiba-tiba saja terhenti di saat manik matanya menangkap sesosok bayangan seorang wanita tua dengan pakaian kebaya dan juga kain jarik. Lingga menyipitkan mata sembari melirik ke arah telunjuk tangan Banyu. Ia sedikit keheranan melihat ada seseorang yang berjalan sendirian di kegelapan seperti ini. Terlebih itu seorang nenek-nenek, sungguh sangat sulit untuk dipercaya.


"Sudah, jangan perdulikan nenek-nenek itu. Kita lanjutkan saja perjalanan kita ini. Dan kalau perlu kita cepat-cepat pergi dari sini."


Lingga merasakan sedikit suasana yang berbeda. Tiba-tiba saja di sekelilingnya hawa panas mulai terasa di saat sebelumnya ia dipeluk oleh hawa dingin. Memang terasa aneh karena biasanya hawa panas seperti ini sebagai pertanda kehadiran sosok makhluk tak kasat mata. Oleh karena itu, ia mengajak Banyu untuk bersegera pergi dari tempat ini.


Mendengar perkataan Lingga, justru membuat Banyu terperangah. Kali ini Lingga benar-benar berbeda dari biasanya. Wanita ini justru terlihat acuh, tidak perduli.


"Apa Sayang? Kita cepat-cepat pergi dari sini? Kamu kenapa sih Sayang kok tiba-tiba berubah apatis seperti ini? Padahal biasanya kamu paling perduli dengan kesusahan orang lain. Dan saat ini ada nenek-nenek itu. Mengapa kamu tidak merasa kasihan sama sekali?"


"Nyu, aku bilang lekas pergi dari sini. Nenek-nenek itu tidak membutuhkan bantuan kita. Ayo lekas pergi dari sini!"


"Tapi Sayang, aku benar-benar kasihan sama nenek-nenek itu. Barangkali dia tersesat saat ingin pulang."


"Jika nenek-nenek itu tersesat, lalu kamu mau mengantarkannya pulang? Begitu?"


Banyu mengangguk mantap. "Iya Sayang, aku akan membantunya."


"Kalau aku bilang bahwa nenek-nenek itu salah satu makhluk tak kasat mata, apa kamu percaya?"


"Ah, aku rasa dia manusia seperti kita Sayang. Kasihan sekali nenek-nenek itu. Ayo kita bantu."

__ADS_1


Lingga hanya bisa membuang napas kasar. Sangat sulit untuk membuat pemuda ini mengerti bahwa nenek-nenek itu bukanlah manusia. Ia pun memutuskan untuk memberikan pelajaran langsung kepada Banyu.


"Kalau begitu silakan kamu tolong nenek-nenek itu Nyu. Kita tinggal belok kanan setelah itu sampai di rumah masing-masing. Kamu masih mempunyai kesempatan untuk memilih mau belok ke kanan atau lurus ke depan. Ingin langsung pulang atau ingin bertemu dengan sesuatu yang mungkin membuat kamu repot sendiri?"


"Aku tetap akan menolong nenek-nenek itu Sayang. Aku benar-benar kasihan."


"Baiklah kalau itu menjadi pilihanmu Nyu. Aku pulang ya. Kamu silakan menolong nenek-nenek itu."


Lingga berbelok ke arah kanan yang merupakan jalan yang akan mengantarkannya ke kediamannya. Namun ia masih begitu khawatir dengan keadaan Banyu jika sampai pemuda itu terkena serangan jantung setelah mengetahui dengan pasti siapa nenek-nenek itu. Oleh karenanya, Lingga memilih untuk memantau Banyu dari kejauhan.


"Ah... Ada apa dengan Lingga? Mengapa dia jadi berubah apatis seperti itu?" lirih Banyu bermonolog sambil mengayunkan langkah kakinya ke arah nenek-nenek yang ingin ia tolong itu.


Kini tubuh Banyu berdiri tepat di belakang punggung nenek-nenek ini. Seorang wanita berusia senja dengan rambut yang memutih dan dibiarkannya tergerai.


"Nek, apa yang Nenek lakukan malam-malam seperti ini? Nenek mau pulang? Kalau mau pulang, mari saya antar. Takutnya Nenek malah bertemu dengan hantu!" ucap Banyu menyampaikan maksud dan tujuannya.


Banyu semakin dibuat keheranan dong, ketika nenek ini ternyata tidak sedang mencari jalan pulang. "Loh, kalau Nenek tidak mau pulang, lalu Nenek mau ngapain? Masa mau melihat kuda lumping? Sudah selesai Nek, kuda lumpingnya."


"Aku sedang mencari sesuatu. Bisakah kamu mencarikannya untukku?"


"Apa Nek, sesuatu apa yang Nenek cari, biar saya carikan!" ucap Banyu penuh perhatian.


"Benarkah kamu ingin mencarikannya untukku?"


"Iya Nek. Akan saya carikan."

__ADS_1


Terlihat tubuh si nenek bergerak. Ia seperti akan membalikkan badan. Dan...


"Tolong carikan gayungku Cu.. Aku kehilangan gayung. Ihihi hiihiihiiii... hiihiihiiii hihihihi..."


Kedua bola mata Banyu terbelalak sempurna saat melihat wajah sosok nenek ini secara langsung. Wajah yang begitu mengerikan. Berbeda jauh dari wajah makhluk pemilik baru keabadian yang pernah ia temui beberapa waktu yang lalu. Kakinya tiba-tiba gemeteran dan tulang lututnya seakan lemas seketika.


"K-kamu nenek gayung yang kehilangan gayungnya?"


"Ihihihi ... hihiii.... hihihihi..."


Rasa takut itulah yang membuat kantung kemih milik Banyu bekerja tidak normal. Tiba-tiba saja ada yang mengalir dari sela betisnya.


"Lingga ... aku kapok tidak mendengar ucapanmu dan sekarang rasa-rasanya aku ingin..."


Bruk...


Banyu seketika pingsan di tempat. Sedang si nenek gayung yang sedang mencari gayungnya tiba-tiba menghilang entah kemana.


Lingga yang melihat akan hal itu langsung mendekat ke arah pingsannya Banyu. Wanita itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat Banyu yang pingsan ini. Dengan begini, akan menambah lagi pekerjaannya.


Banyu, Banyu .... ngeyel sih dibilangin 😆😆😆


.


.

__ADS_1


. bersambung..


__ADS_2