Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 29. Mencuri


__ADS_3


Barisan awan putih memayungi sang pemuda dalam menjejakkan kakinya menyusuri hutan belantara ini. Sesekali, ia memandangi awan yang nampak berarak-arak itu sembari menghirup napas dalam-dalam, mensyukuri akan segala kenikmatan yang telah Tuhan berikan.


Entah sudah berapa lama sukmanya terperangkap di dalam dimensi lain itu. Namun rasa-rasanya bukan waktu yang sebentar. Bersyukur karena pada akhirnya, ia bisa bertemu dengan sosok wanita yang menjadi penolongnya. Ia bahkan tidak bisa membayangkan apa yang terjadi seandainya Lingga tidak datang menolongnya.


Kicau burung mulai mengalun merdu ke dalam indera pendengaran. Menjadi salah satu kekayaan alam yang berada di dalam hutan. Mereka terbang bebas ke sana kemari seakan menguasai kawasan. Banyu semakin mempercepat langkah kakinya saat gemercik aliran air sungai mulai terdengar semakin jelas.


Senyum lebar terbit di bibir Banyu saat dari kejauhan ia melihat Lingga yang sedang bersender di batu besar sembari memejamkan mata. Nampaknya wanita itu sedang larut dalam tidurnya. Entah lelah atau mengantuk, namun itu semua bisa saja terjadi karena tenaganya sudah habis setelah bertandang ke dunia lain. Ia sedikit paham bahwa seseorang yang melakukan rogosukmo memerlukan energi yang banyak untuk bisa menembus dinding dimensi itu. Sehingga tidak mengherankan jika wanita itu nampak kelelahan dan kemudian tertidur.


Banyu berjongkok di depan Lingga sembari menikmati kecantikan yang dimiliki oleh wanita ini. Kulit kuning langsat khas wanita pribumi. Hidung mungil nan mancung. Bulu mata panjang nan lentik. Alis hitam dengan sudut lengkung yang proporsional. Sungguh salah satu ciptaan Tuhan yang Maha sempurna.


Bibir itu nampak basah dan mengapa seperti memanggilku untuk mengecupnya?


Banyu memperhatikan keadaan sekitar, memastikan bahwa keadaan aman. Pikiran nakal seakan telah memegang kendalinya. Sungguh bibir milik Lingga ini begitu menggoda imannya. Ingin sekali rasanya untuk ia kecup dan ia sesap kenikmatan yang berada di sana.


Lingga, aku tahu ini salah. Tapi aku sungguh tidak bisa untuk menahannya. Izinkan aku untuk mengecup bibirmu, sekali saja.


Entah didorong oleh kekuatan apa dan darimana Banyu mendekatkan wajahnya ke wajah wanita yang tengah larut dalam buaian mimpi ini. Ia tempelkan bibirnya di bibir Lingga. Hanya ia tempelkan saja. Bahkan ia sama sekali tidak menggerakkan bibirnya sama sekali. Ia mencoba untuk menunggu respon apa yang akan ditampakkan oleh Lingga.


Kedua bola mata Banyu terbelalak saat merasakan bibir wanita itu yang sebelumnya terkatup tiba-tiba sedikit terbuka.


"Mmmhhh ... mas Heru..."


Lingga mendesis lirih sembari memanggil nama Heru dalam keadaan mata yang masih terpejam.


"Iya Sayang, ini aku..."


Banyu merasa berada di atas angin. Akan ia gunakan kesempatan ini untuk mengorek pernikahan seperti apa yang dijalani oleh Lingga. Ia berpikir apa yang diucapkan oleh seseorang yang tengah tertidur merupakan sesuatu yang paling jujur. Ia ingin tahu bagaimana hubungan Lingga dengan sang suami.

__ADS_1


"Mengapa kamu tidak pernah menjamahku Mas. Mengapa kamu selalu saja menghindariku?"


"Emmmhhh sekarang, aku akan menjamah dan memanjakanmu Sayang."


Banyu seakan semakin tergoda dengan apa yang ada di hadapannya ini. Tanpa basa-basi, ia kecup kembali bibir wanita ini. Kali ini, ia mainkan bibirnya. Namun pada saat ia akan menggunakan lidahnya untuk membuka bibir Lingga, tiba-tiba...


"Aaaaaaaaa ..... apa yang kamu lakukan!!"


Brukkkkk!!!!!


Lingga yang membuka kelopak matanya tiba-tiba terkejut setengah mati saat merasakan ada sebentuk bibir yang menempel di bibirnya. Ia terperanjat dan reflek mendorong tubuh Banyu, hingga pemuda itu tersungkur. Wanita itu seketika berdiri sembari memegangi bibirnya.


"Ahhhh ... sakit Lingga!!!" pekik Banyu sambil mencoba untuk mengambil posisi duduk.


"Apa yang kamu lakukan hah? K-kamu menciumku?" teriak Lingga dengan wajah memerah yang sudah seperti dipenuhi oleh amarah.


Lingga mengusap-usap bibirnya untuk menghapus jejak bibir milik pemuda ini. Sungguh gila. Sangat, sangat gila. Pemuda ini bahkan berani untuk menciumnya dalam keadaan tak sadar. Bukankah itu merupakan salah satu tindak pencurian?


Banyu menjawab dengan nada santai seakan tiada merasa berdosa sama sekali sembari mengusap-usap bokongnya yang sedikit nyeri karena terkena batu-batu kali.


"Apa? Kapan kamu meminta izin kepadaku? Aku sedari tadi tertidur. Dan kamu mengatakan bahwa kamu sudah meminta izin? Omong kosong apa itu? Benar-benar kurangajar kamu!"


Rasa kesal bercampur dengan rasa marah sedikit menguasai hati dan juga otak Lingga. Ia mengambil sebuah batu kali dan siap untuk ia lemparkan ke arah kepala pemuda ini. Mungkin dengan membuat kepala pemuda ini benjol, ia bisa tidak berbuat kurangajar lagi.


"Eiitsss... tunggu, tunggu, tunggu dulu Lingga. Bisa aku jelaskan!" ucap Banyu mencoba untuk menahan kekalapan wanita ini.


"Jelaskan apa lagi hah? Kamu sudah menciumku. Kamu sudah kurangajar kepadaku!" amuk Lingga seperti kesetanan.


"Sebentar Sayang, sebentar. Tenang dulu ya. Bisa aku jelaskan."

__ADS_1


Banyu bangkit dari posisinya dan berjalan mendekat ke arah Lingga. Masih memasang wajah santai, Banyu menatap lekat netra bening milik Lingga ini.


"Apakah kamu lupa? Kamu tadi yang memintaku untuk menyentuhmu. Kamu mengatakan bahwa kamu tidak pernah terjamah sama sekali."


Kedua bola mata Lingga membulat sempurna. "Apa? Aku mengatakan hal itu? Jangan ngawur kamu!"


"Aku tidak ngawur Sayang. Yang aku ucapkan ini memang benar adanya. Apa benar, kamu tidak pernah dijamah oleh suamimu?"


Mendadak pipi Lingga terasa menghangat. Tak selang lama tercetak semburat warna merah di sana. Ia merasa benar-benar malu jika sampai pemuda ini tahu yang sesungguhnya.


Untuk menyembunyikan rona merah itu, Lingga berjalan ke depan dan kini posisinya memunggungi Banyu. Bahkan jantungnya ikut berdegup kencang jika sampai pemuda ini mengetahui akan rumah tangganya yang tidak harmonis.


"Tidak, itu sama sekali tidak benar. Hubunganku dengan suamiku sangat baik. Bahkan setiap hari aku dijamah dan disentuh olehnya. Itu semua hanya perkataan alam bawah sadarku yang sama sekali tidak benar."


Lingga masih mencoba untuk menyanggah apa yang diucapkan oleh Banyu. Dengan mengatakan bahwa hubungannya dengan sang suami baik-baik saja. Ia berpikir Banyu akan mempercayai apa yang ia ucapkan. Namun sepertinya tidak semudah itu.


Banyu terkekeh geli. Ia seakan menangkap sinyal bahwa wanita ini mencoba untuk menyembunyikan sesuatu.


"Namun sayangnya aku jauh lebih percaya akan apa yang diucapkan oleh alam bawah sadarmu Sayang. Dan apakah kamu lupa bahwa wanita yang bisa mengeluarkan aku dari dimensi itu adalah wanita berhati bersih dan suci? Itu artinya kamu belum tersentuh dan terjamah sama sekali."


Lingga terhenyak. Bibirnya pun hanya bisa menganga lebar.


Astaga Lingga.. Mengapa kamu lupa akan hal itu?


"Jadi mulai sekarang, aku akan berusaha untuk merebutmu dari lelaki yang bahkan tidak bisa menghargaimu sebagai seorang istri," ucap Banyu mantap yang semakin membuat Lingga kelimpungan akan apa yang harus ia lakukan.


.


.

__ADS_1


. bersambung...


__ADS_2