
Plaaaakkk.... Plaaakkk... Plakkk!!!!
"Aaaarrrgghhh .... Banyu!!!"
"Banyu..."
Tangan Banyu bergetar hebat saat tiga tamparan ia layangkan di pipi Villia. Sejatinya, ia seperti seorang pengecut atau banci karena menampar sosok makhluk bernama wanita, sama seperti yang pernah ia ucapkan kepada Heru saat akan menampar Lingga. Namun kali ini ia benar-benar tidak perduli jika akan diberi label 'banci'. Baginya, perkataan Villia benar-benar telah keterlaluan. Tidak memiliki adab dan sopan santun.
Amarah yang kemarin sempat ia pendam saat berada di rumah Prasojo, kini ia luapkan ketika perempuan ini kembali mencaci maki Lingga. Mulut perempuan ini benar-benar kotor seperti seonggok sampah yang sudah dikerumuni oleh belatung.
"Bisa diam gak kamu, hah? Sekali lagi kamu mencaci maki Lingga, aku pastikan mulut kamu ini akan robek dan dhower seperti mulut bebek yang kejedot pintu!"
Lingga yang melihat Banyu sudah dipenuhi oleh amarah, gegas mengusap-usap lengan tangan pemuda ini. Berupaya untuk meredam semuanya. "Nyu sudah .... sabar. Jangan kamu emosi seperti ini!"
"Biarkan saja Ling, biarkan dia mendapatkan itu semua. Jika tidak seperti itu, mana mungkin ia sadar bahwa ucapannya benar-benar seperti sampah."
Villia mengusap-usap kedua pipinya yang terasa panas. Seketika air matanya meluncur bebas melihat kekalapan Banyu. "Mengapa kamu berubah seperti ini Nyu? Mengapa kamu begitu kasar kepadaku? Apa setelah kamu mengenal wanita kampung ini kamu menjadi berubah seperti ini? Padahal sebelumnya kamu selalu memperlakukan aku dengan lembut."
Villia mengisakkan tangis sambil menyeka bulir-bulir air matanya. Wanita itu masih saja memegangi pipinya untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa ia tengah terluka.
"Aku bisa menjadi lelaki yang paling lembut namun juga bisa menjadi lelaki yang paling tega jika ada yang berani mengusik kekasihku. Aku sama sekali tidak mengenalmu dan aku tidak akan pernah menikah denganmu. Camkan itu baik-baik!"
__ADS_1
Villia terperangah. Perkataan Banyu seakan menjadi akhir dari perjuangannya untuk kembali mendapatkan cinta pemuda ini. "Apa kamu bilang? Kamu tidak akan pernah menikahiku? Jangan bercanda kamu Nyu. Tidak seharusnya kamu mengatakan hal itu!"
"Cih, aku tidak perduli. Jika kamu adalah wanita yang sangat aku cintai sebelum aku mengalami musibah ini, aku kira ada rasa cinta yang tertinggal di hatiku meskipun hanya setitik nila. Namun aku sama sekali tidak merasakan apapun. Aku bahkan tidak percaya jika aku mencintaimu."
Tangis Villia semakin pecah. Lingga hanya bisa tertegun melihat dua orang di hadapannya ini saling adu mulut. Namun ia tetap berusaha untuk meredam emosi Banyu.
"Sudah Nyu, sudah. Malu jika sampai kedengaran tetangga. Pagi-pagi sudah ada keributan seperti ini."
"Biarkan saja Sayang. Aku rasa perempuan ini tidak akan pernah merasa malu karena urat malunya sudah putus. Jika ia punya malu, tidak mungkin ia membuat keributan di sini."
"Tapi Nyu ....."
"Ssssttt ...."
Di depan Villia, Banyu sengaja mengecup bibir Lingga. Sepersekian detik ia biarkan bibirnya menempel di bibir kekasih hatinya ini. Kemudian ia lepaskan.
"Kita ikuti kemauan dia Sayang. Apa yang sebenarnya menjadi kemauannya," ucap Banyu lembut sembari menyelipkan anak-anak rambut Lingga di belakang telinga.
Villia hanya bisa membelalakkan mata dengan bibir yang menganga lebar. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Banyu dan Lingga berciuman di hadapannya.
"Kamu benar-benar jahat Nyu. Kamu jahat. Setelah kamu menyesap semua kenikmatan yang ada pada tubuhku, kamu tega meninggalkan dan mencampakkan aku seperti ini? Dasar lelaki baji*ngan kamu!!"
Kini giliran Lingga dan Banyu yang dibuat terkejut oleh ucapan Villia. Mereka sama-sama menatap wajah perempuan ini dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Apa maksudmu bahwa aku telah menyesap semua kenikmatan yang ada di dalam tubuhmu?"
Air mata Villia semakin deras mengalir seperti sebuah tanggul yang jebol karena dihantam oleh banjir bandang. "Apa kamu lupa, bahwa sebelum kamu mendaki, kita pernah tidur di dalam ranjang dan di selimut yang sama. Kamu sudah merenggut kesucianku. Kamu lupa Nyu? Kamu lupa?"
Duaaaarrrr!!!!!
Bak sebuah petir di siang hari ucapan Villia ini benar-benar membuat tubuh Lingga terkejut setengah mati. Tiba-tiba saja tulang-tulangya serasa lemas dan tubuhnya seperti tidak memiliki tenaga sama sekali. Telapak tangan yang sebelumnya digenggam erat oleh Banyu, kini ia lepaskan perlahan.
Banyu juga tidak kalah terkejut. Kini yang ia pikirkan justru Lingga. Ia menatap wajah kekasihnya yang sudah menunduk dalam.
"Sayang, tolong.... Jangan percaya apa yang dikatakan oleh perempuan ini Sayang. Ini pasti hanya akal-akalannya saja. Pleaseee Sayang, percaya padaku."
Lingga hanya bisa menundukkan kepala dengan setetes air mata yang mulai jatuh perlahan dari kelopaknya. "Pulanglah Nyu. Aku rasa, semua sudah jelas. Mengapa wanita ini benar-benar mempertahankan dan memintamu untuk kembali."
"Tapi Sayang...."
"Pulanglah ... aku ingin sendiri!"
.
.
. bersambung...
__ADS_1
Duh Dek.... piye toh ki?? Banyu jebulnya sudah sempat bobok bareng sama Villia. Kira-kira benar tidak ya?? Apakah ada yang sudah menebak bahwa Villia hamil? Hehehehe ikuti terus kisah mbak Jamu Gendong ini ya kak..😘😘😘😘😘