
"Mas ... Mas .... Bangun Mas!!"
"Hoaaaaammmmm!"
"Ishhh .... isshhhhh... ishhhhh... Ini orang tidak ada sopan santunnya. Masa menguap lebar sekali seperti itu!" Seorang pria kembali menepuk-nepuk tubuh seorang pemuda yang tengah terlelap ini. "Hei Mas, bangun!"
Si pemuda yang tengah larut dalam buaian mimpinya mengerjapkan mata, mencoba bangun dari tidur panjangnya. "Sudah sampai Jakarta ya Pak?"
"Hah, Jakarta?!" si lelaki sedikit terhenyak dan terkejut. "Ini Jogjakarta Mas, bukan Jakarta!"
"Apa? Jogjakarta?" Kini giliran si pemuda yang terperanjat. Ia yang sebelumnya menyenderkan punggungnya di bangku penumpang kini terduduk seketika. "Kenapa aku bisa sampai Jogja Pak? Bukankah mobil travel ini jurusan Jakarta?"
"Ckkcckkk .... Jakarta bagaimana sih Mas? Lihat, pelakat di depan itu, jelas tertulis Tegal-Jogja, bukan Tegal-Jakarta!"
Sejurus kemudian tatapan si pemuda tertuju pada papan pelakat yang berada di depan. "Biyuuuhhhhhh .... ini gimana ceritanya aku bisa salah naik jurusan?"
Si lelaki yang merupakan sopir travel hanya bisa mengernyitkan dahi. "Kalau kamu bertanya kepada saya, lalu saya harus bertanya kepada siapa Mas?"
__ADS_1
Si pemuda yang tak lain adalah Banyu hanya bisa membuang napas kasar sembari memijit-mijit pelipisnya. Kemarin memang Prasojo dan Maryati yang membelikan tiket ini namun mengapa tujuannya bukan Jakarta? Apakah dua paruh baya itu lupa bawa tempat tinggalnya di Jakarta? Semakin ia mencoba untuk mencari akar permasalahannya, rasa pusing itu justru semakin terasa menyerang kepalanya.
Ini sebenarnya ada apa? Mengapa Pak Pras dan bu Mar membelikan tiket ke Jogja? Apakah mereka sengaja mempermainkanku?
"Hei Mas, ayo turun! Ini saya mau bersih-bersih mobil, sebentar lagi travel ini akan segera melakukan perjalanan lagi," titah si supir sambil menepuk pundak Banyu yang ia lihat pemuda ini malah bengong lagi.
Banyu mencoba mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling. Suasana kota yang nampak begitu asing di penglihatannya. "Lalu, ini saya ada di mana Pak? Maksudnya ada di daerah mana?"
"Ini ada di kawasan Tugu Jogja Mas. Kalau Mas nya mau ke Jakarta bisa naik kereta. Tidak jauh dari sini ada Stasiun Tugu," ujar si supir menjelaskan.
Banyu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul tujuh petang. "Haduhhh .... kalau seperti ini aku harus kemana? Masa iya aku langsung ke Stasiun Tugu untuk mencari tiket kereta?"
"Bagaimana tidak bingung Pak? Aku ini sedang terdampar di kota orang. Saya sama sekali tidak memiliki saudara ataupun kenalan di kota ini."
"Kenapa tidak pergi ke tempat penulis ceritamu itu saja Mas? Dia kan juga di Jogja. Siapa tahu bisa dapat tempat tinggal geratis sama makan geratis?"
"Issshhhh ... malu aku Pak. Di cerita ini loh aku digambarkan sebagai tokoh yang kaya raya, masa iya berburu gratisan?"
"Hahahaha ... bisa saja kamu ini," kelakar si supir sambil terbahak. "Lalu, sekarang tujuan kamu ke mana Mas?"
__ADS_1
"Itu dia Pak, saya juga bingung. Kira-kira ke mana ya?"
"Mending, Mas nya jalan-jalan dulu di sekitar sini. Tak jauh dari garasi travel ini ada banyak angkringan dengan menu khas kota Jogja Mas. Namanya kopi Joss. Sampeyan bisa menikmati semua menu khas Jogja sambil menikmati suasana malam di kota ini, saya yakin bikin nagih. Nah, kalau sudah puas berjalan-jalan, Mas nya bisa tinggal di hotel. Di sekitar sini juga banyak hotel kok. Jadi saya jamin Mas nya tidak akan terlantar ataupun terlunta-lunta di kota ini."
Banyu nampak sejenak berpikir. Rasa-rasanya bukan hal yang buruk juga jika ia mengikuti saran si supir travel. "Baiklah kalau begitu. Tapi letak angkringan itu tidak jauh dari sini kan Pak?"
Si supir travel menggelengkan kepala. "Jelas tidak Mas. Itu loh, sepanjang jalan yang membentang ke arah selatan itu semua dipenuhi oleh angkringan. Tapi yang paling syahdu yang ada di ujung selatan, karena di sana Mas nya bisa sambil melihat kereta yang lewat. Dan kalau Mas nya menyebrang rel kereta, Mas nya sudah sampai di kawasan Malioboro."
"Baiklah Pak, aku akan mengikuti saran dari Anda." Banyu mulai beranjak dari posisinya dan ia ayunkan tungkai kakinya. "Aku permisi dulu Pak."
"Oke Mas, semoga liburannya menyenangkan."
"Haduuhhh Pak, saya ini di sini terdampar, bukan liburan!"
"Hahahaha..."
.
.
__ADS_1
. bersambung