Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 104. Wah, Wah, Geger Iki!


__ADS_3


"Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu dengan hari itu Sayang. Hari di mana kita akan disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan."


"Hiyaaaaaa!!!!!!"


"Eh .... eh.... eh.... aaaaaaawwwww!!!"


Gedebukkkkk!!!!


"Aduuhhhhhhhh!!!"


Sepasang manusia yang tengah hanyut dalam perasaan bahagia itu seketika terkejut saat mendengar suara gaduh. Mereka menautkan pandangan ke arah sumber suara dan betapa kagetnya mereka saat melihat kumpulan ciwi-ciwi terjerembab di atas lantai teras.


"Ambar, Lastri, Sutri, apa yang kalian lakukan!"


Lingga dan Banyu mendekat ke arah kumpulan ciwi-ciwi yang tengah terkapar di atas lantai dan mencoba untuk membantu mereka berdiri. Entah apa yang dilakukan oleh teman-teman Lingga ini sampai membuat mereka terjatuh seperti ini.


"Hehehehe .... tidak ada Ling, kami tidak melakukan apapun kok," ucap Ambar dengan kekehan kecil.


Lingga menatap lekat manik mata Ambar seakan mencoba untuk mencari kebohongan yang tersirat melalui sorot mata wanita ini.

__ADS_1


"Serius kalian tidak melakukan apapun? Kalian sedang tidak mengintip bukan?" selidik Lingga dengan sorot mata tajam.


Ambar, Sutri, Lastri dan tiga orang lainnya hanya terdiam. Mereka sama-sama tersenyum kikuk dibuatnya.


"Ambar?" pekik Lingga dengan nada suara yang sedikit berbeda.


Ambar terhenyak dan menggaruk tengkuknya yang tiada gatal. "Hehehehe maaf ya Ling, aku dan mereka-mereka ini memang sedang mengintipmu."


"Mengintip?" tanya Lingga meminta kejelasan.


"Begini Ling, aku Sutri, Lastri dan tiga orang lainnya ini mengintipmu dari balik pintu. Nah di saat kita lagi fokus tiba-tiba datang tuh si Sri dari dalam. Dan ia langsung mendorong kita-kita. Pada akhirnya jatuh seperti ini."


Meski sedikit tidak enak hati, namun Ambar mencoba untuk menjelaskan duduk perkaranya. Apa yang diucapkan oleh Ambar ini hanya membuatnya geleng-geleng kepala. Ada saja yang dilakukan oleh teman-temannya ini.


"Hehehehe maaf ya Ling. Aku dan yang lainnya benar-benar penasaran siapa yang mendatangimu sampai-sampai membuatmu lupa akan cucian yang ada di sumur belakang. Dan kita juga penasaran kok tumben kamu membuat kopi hitam pagi-pagi seperti ini. Maka dari itu, kita-kita langsung mengintip kamu," terang Ambar menceritakan duduk perkaranya.


"Oh ya ampun!!!" pekik Lingga sesaat setelah mendengar Ambar bercerita.


"Ada apa Ling?" giliran Ambar yang dibuat penasaran.


"Cucianku Am ... iya cucianku. Haduhh kalau seperti ini bisa tidak kering nanti!"

__ADS_1


Lingga melenggang pergi meninggalkan Banyu di teras. Hal itulah yang membuat Banyu terperangah. "Terus aku bagaimana Sayang?" tanya Banyu memelas.


Tak ada respon sedikitpun dari Lingga membuat ekspresi wajah Banyu nampak sedikit menyedihkan.


"Masuk saja tidak apa-apa Mas. Mas nya langsung lurus ke dalam saja. Nanti sampai bertemu dengan sumur yang ada di halaman belakang," ujar Ambar mempersilakan.


"Apa tidak masalah jika aku masuk ke dalam Mbak? Takutnya nanti dikira yang tidak-tidak," tanya Banyu mencoba memastikan.


"Tidak apa-apa Mas, di dalam juga ada teman-teman kami yang lain kok. Jadi tidak akan ada yang menganggap sampeyan melakukan sesuatu yang aneh-aneh."


Banyu tersenyum penuh arti. Ternyata selain bisa kembali dipertemukan dengan Lingga, para penghuni mess ini pun juga nampak begitu welcome dengan kehadirannya. Ia pun ikut masuk ke dalam untuk menemani Lingga.


Ambar dan ketiga temannya mulai berbagi tugas untuk membersihkan halaman depan dan ada juga yang menyirami tanaman. Sampai pada akhirnya, terdengar deru suara bus besar yang memasuki halaman dan mereka pun terkejut setengah mati kala melihat siapa yang datang.


"Wah, wah, wah..... Geger gedhen iki!" gumam Ambar di dalam hati saat melihat Sapto datang kemari.


.


.


. bersambung...

__ADS_1


Geger gedhen \= Perang Besar


__ADS_2