Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 64. Di Mana Banyu?


__ADS_3


"Banyu .... Banyu .... Banyu!!!"


Suasana tenang di pagi hari dipecah oleh teriakan seorang wanita sambil berkeliling ke setiap sudut rumah. Wanita itu bahkan membuka satu persatu pintu kamar yang ada di kediaman Prasojo untuk mencari keberadaan sang kekasih. Memang terlihat sangat tidak sopan, namun ia benar-benar dibuat geram karena di pagi buta seperti ini sudah kehilangan jejak sang kekasih.


"Vi, ada apa? Mengapa kamu berteriak seperti itu? Pelankan suaramu, jangan sampai mengganggu pak Prasojo dan istrinya."


Herlambang mendekat ke arah Villia. Ia berikan peringatan untuk calon menantunya ini agar bisa menjaga ketenangan pemilik rumah. Namun sepertinya ia sulit untuk dikendalikan.


"Banyu di mana Om? Aku cari di setiap sudut rumah ini tidak ada. Bahkan sampai halaman depan dan belakang, ia juga tidak menampakkan batang hidungnya. Ke mana perginya dia Om?"


Herlambang mengernyitkan dahi. Sejatinya, ia pun juga tidak mengetahui ke mana perginya sang anak. "Om juga tidak tahu Vi. Karena sejak Om bangun, Om tidak melihat keberadaan Banyu."


Maryati yang melintas di dekat dua orang yang tengah terlibat dalam pembicaraan itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Melihat sikap dan tingkah laku Villia semakin membuatnya semakin mengerti bahwa banyak orang yang berilmu namun kurang beradab. Villia ini nampak seperti seorang wanita yang berpendidikan, namun sayang adab yang ia miliki begitu kurang.


"Pak Herlambang dan nak Villia mencari Banyu?" tanya Maryati dan ia pun berdiri di hadapan keluarga Banyu ini.


"Iya Bu Mar, saya mencari Banyu. Kira-kira ke mana perginya Banyu ya Bu?" ujar Herlambang dengan ramah dan pastinya dengan rasa tidak enak hati karena calon menantunya yang membuat keributan.


"Oh setiap pagi Banyu selalu jalan-jalan berkeliling kampung Pak. Dan setelah itu, ia pasti mampir di kediaman Lingga dan dia...."

__ADS_1


"Apa? Banyu bertandang ke rumah Lingga?" ucap Villia memangkas perkataan Maryati dengan kilatan amarah di wajahnya. "Dasar wanita gatal. Bisa-bisanya dia diam saja ketika didatangi oleh Banyu. Di mana rumah wanita ganjen dan kegatelan itu Bu? Biar aku beri pelajaran kepadanya!"


Maryati terhenyak. "Eh, Mbak ... Mbak..."


Ia pun hanya bisa berdecak lirih saat melihat Villia sudah mengambil langkah kaki lebar untuk keluar.


***


Butiran embun masih bergelayut manja di atas dedaunan. Membiasakan sinar matahari hingga nampak berkilauan. Induk burung pipit mulai keluar dari sarang. Mencari makanan untuk anak-anak mereka yang kelaparan.


Lingga menyenderkan tubuhnya di punggung ranjang sembari meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sedikit kaku. Setelah kejadian ia ditabrak oleh orang yang datang dari kota kemarin, tubuhnya serasa dihantam oleh palu. Perih, nyeri dan ngilu. Hingga membuat Lingga hari ini tidak berjualan jamu. Ia memilih bermalas-malasan, membiarkan waktu begitu saja berlalu.


Sensasi kering di kerongkongan memaksa Lingga untuk turun dari ranjang. Satu botol air putih yang ia persiapkan di meja yang berada di sisi ranjang telah tandas tanpa sisa. Ia pun melangkah, menuju dapur untuk mengambil air minum. Satu gelas air putih dari dalam kendi telah membasahi kerongkongan, ia bermaksud untuk kembali ke bilik kamar untuk melanjutkan acara bermalas-malasan. Namun baru tiga langkah, ia mendengar sedikit keributan di kandang ayam miliknya.


"Aku memberi makan ayam-ayam peliharaanmu, Sayang. Kasihan, mereka belum mendapat jatah makan."


Layaknya sang pemilik, Banyu terlihat sudah begitu mahir di dalam mencampur adonan pakan ayam ini. Nampaknya tragedi ia di tladhung induk ayam beberapa waktu yang lalu tidak membuatnya kapok. Ia justru nampak lebih bersemangat. Hal itulah yang membuat senyum Lingga terbit di bibirnya. Wanita itupun memilih untuk duduk di lincak yang berada di bawah pohon mangga.


"Sayang, aku minta maaf!" ucap Banyu setelah selesai memberi makan ayam dan menyusul Lingga duduk atas lincak.


"Minta maaf? Perihal apa?"

__ADS_1


"Tentang ucapan perempuan bernama Villia kemarin. Aku benar-benar tidak mengenalnya, Sayang."


Lingga hanya tersenyum tipis. Selama ini ia memang tidak pernah mengerti asal-usul Banyu dan ternyata Tuhan membuka semua tabir yang masih menutupi. Kini ia sedikit paham tentang siapa Banyu ini.


"Sudahlah Nyu, tidak perlu kita bahas lagi. Sekarang yang harus kamu ingat bahwa kamu sudah kembali ke dalam dekapan keluargamu..." Lingga menundukkan wajahnya. "Dan bertemu dengan kekasihmu. Inilah saatnya kamu kembali ke kehidupanmu yang sesungguhnya, Nyu."


Banyu menggelengkan kepala. "Tidak Sayang. Aku bisa kembali ke keluargaku tapi tidak bisa kembali ke perempuan itu. Aku sama sekali tidak memiliki rasa terhadapnya. Aku tidak bisa merasakan getar cinta itu kepadanya."


"Tapi perempuan itu calon istrimu, Nyu. Pastinya selama ini ia juga menunggu kepulanganmu. Tidak pantas jika kamu melupakannya begitu saja."


"Tidak Sayang, aku tetap tidak ingin menikah selain denganmu karena hanya kamu yang aku cintai bukan yang lain."


"Tapi Nyu, aku...."


Plokk... Plookkk... Plokk...


"Hebat, hebat, hebat .... ternyata kamu memang benar-benar wanita gatal ya. Bisa-bisanya kamu bermesraan dengan calon suami orang lain!"


"Villia!!!"


.

__ADS_1


.


. bersambung..


__ADS_2