Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 90. Di Mana Lingga?


__ADS_3


"Banyu!!"


Maryati memekik kegirangan ketika kedua netranya menangkap sosok seorang pemuda yang tengah turun dari ojek. Pemuda itu tersenyum lebar yang semakin menampakkan gurat-gurat ketampanan yang ia miliki.


"Bu Mar .... apa kabar?"


Kini, dua orang berbeda generasi itu saling berpeluk. Seakan mencurahkan segala kerinduan yang tercipta akibat dinding jarak yang memisahkan. Dinding itu telah runtuh dan menyisakan buncahan-buncahan bahagia yang tersisa.


"Bu Mar baik-baik saja Le. Kamu sendiri bagaimana?"


"Saya juga baik Bu."


Maryati melerai pelukannya. Ia tersenyum simpul sembari memegangi bahu kekar milik pemuda di hadapannya ini. "Bu Mar mencium aroma-aroma gelar baru. Apakah putra bu Mar ini sudah berhasil menyelesaikan studinya?"


Banyu tak kalah tersenyum lebar sembari menganggukkan kepala. "Iya Bu Mar, tiga hari yang lalu saya wisuda dan sekarang ada gelar S. Kom di belakang nama saya."


"Ibu benar-benar bangga Le!"


"Terima kasih banyak bu Mar." Banyu mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Biasanya sosok Prasojo di siang hari seperti ini ada di rumah, namun ia tidak melihat sama sekali keberadaan lelaki itu. "Oh iya, Bapak ke mana Bu? Kok tidak terlihat?"


"Bapak sedang menghadiri acara di balai desa, Le. Sebentar lagi pasti pulang. Ayo kita tunggu Bapak di dalam."

__ADS_1


Maryati menggandeng tangan Banyu dan memandunya untuk duduk di beranda. Namun baru beberapa langkah, pemuda itu menghentikan langkah kakinya.


Dahi Maryati mengernyit. "Ada apa Le?"


"Bu, saya ingin ke rumah Lingga terlebih dahulu. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepadanya."


"Tapi Le ...."


Maryati hanya bisa terperangah ketika Banyu sudah mengambil langkah kaki seribu untuk menuju kediaman Lingga. Wanita paruh baya itupun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu pasti akan terkejut karena Lingga sudah tidak berada di kediamannya Le."


***


Banyu mengayunkan tungkai kaki, menyusuri jalanan kecil yang akan mengantarkannya ke suatu tempat. Pemuda itu terdengar bersenandung kecil seakan menjadi tanda bahwa suasana hatinya tengah berbahagia.


Sebentar lagi kesalahpahaman yang sempat tercipta diantara dirinya dengan sang pujaan akan segera terselesaikan. Sebentar lagi, hubungan yang sempat memanas karena ulah ulat bulu beberapa waktu yang lalu, akan kembali baik-baik saja. Ia berpikir, ini semua akan menjadi awal yang indah bagi hubungannya dengan Lingga.


Jantung Banyu bertambah berdegup kencang saat mendengar suara klotekan yang berasal dari dalam dapur. Dan suara sandal yang bergesekan dengan lantai tanah yang semakin mendekat ke arah pintu membuat Banyu diserang oleh perasaan gugup.


Ceklekk....


Pintu terbuka. Banyu sudah menyambut seseorang yang keluar dari dalam dapur dengan rekahan senyum yang mengembang lebar. Namun senyum itu tiba-tiba memudar terganti oleh kernyitan di dahinya ketika bukan sang pujaan yang keluar dari dalam sana. Namun sosok lelaki yang juga tidak asing di dalam penglihatannya.


"Pak Parmin?"

__ADS_1


"Loh mas Banyu? Kapan mas Banyu datang?"


Banyu masih berada dalam mode tertegun saat menatap wajah Parmin. Beberapa pertanyaan tiba-tiba saja muncul di dalam benaknya.


Apa yang dilakukan pak Parmin di rumah Lingga pagi-pagi seperti ini? Bahkan wajah pak Parmin nampak berseri seperti baru saja mendapatkan asupan nutrisi. Apakah selepas kepergianku Lingga memilih untuk menikah dengan pak Parmin? Tapi bukankah pak Parmin sudah beristri? Masa iya Lingga menjadi perebut lelaki orang?


"Mas ... mas Banyu!" panggil Parmin sambil melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajah pemuda ini.


Banyu terkesiap dan sadar dari lamunannya. "Pak Parmin kok ada di rumah Lingga?"


"Iya Mas, saya memang dimintai tolong untuk menunggu rumah mbak Lingga selama mbak Lingga pergi. Jadi setiap malam saya tidur di sini sambil merawat ayam-ayam peliharaan mbak Lingga."


"Lingga pergi?" ucap Banyu menyakinkan apa yang ia dengar.


"Iya Mas, mbak Lingga sudah satu bulan lebih tidak tinggal di sini."


Banyu semakin terhenyak. "Kemana Pak? Kemana Lingga pergi?"


Parmin pun hanya menggelengkan kepala. "Saya kurang tahu kemana Mas. Yang pasti mbak Lingga pergi untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan pengolahan jamu modern."


Ya Tuhan .... pertanda apa ini? Mengapa di saat kesalahanpahaman yang terjadi antara aku dengan Lingga telah menemukan titik terang, wanita itu justru tidak berada di tempat ini? Apakah ini merupakan satu pertanda bahwa aku memang harus berjuang untuk menemukannya? Tapi di mana dia?


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2