Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 39. Mengintai


__ADS_3


Udara dingin khas pegunungan menyergap. Membelenggu pori-pori hingga terasa menusuk tulang. Merayap, menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun.


Di pos kamling, Banyu nampak tengah duduk bersama Prasojo , Parmin dan yang beberapa bapak-bapak lainnya. Sembari memegangi kartu remi, dan menyeruput kopi mereka nampak bercengkerama hangat malam ini. Dengan jaket, kupluk dan sarung terasa sedikit meredam hawa dingin yang semakin menggerogoti.


"Mas Banyu, sebenarnya Bapak itu penasaran loh tentang bagaimana ceritanya kamu bisa terdampar di kampung ini," ucap salah satu Bapak yang memakai kupluk berwarna hitam.


"Saya juga tidak ingat Pak. Yang saya ingat, saya mendaki bersama ketiga teman saya. Namun namanya pun saya juga tidak ingat." Banyu menjawab sembari menyeruput kopi hitam di tangannya.


"Bapak penasaran, kamu bisa jatuh dari tebing itu bagaimana ceritanya Mas?" sambung si bapak masih penasaran.


Pandangan mata Banyu nampak sedikit menerawang. Mencoba mengingat hal-hal yang memang masih bisa ia ingat. "Ini yang sampai saat ini saya jadikan pelajaran Pak. Ketika kita tersesat di gunung, jangan sekali-kali mengikuti aliran sungai. Karena hal itu justru akan mengantarkan kita ke sebuah tebing curam. Jika kita tersesat mungkin ada baiknya kita berbalik arah ke tempat semula."


"Tapi kamu benar-benar beruntung Mas. Meskipun kamu terjatuh dari tebing, namun kamu masih selamat. Sungguh sebuah keajaiban yang mungkin sulit diterima oleh akal sehat."


Banyu tersenyum simpul. "Ya, ini merupakan salah satu bagian kehaluan penulis novel ini Pak. Jadi suka-suka dia saja ya Pak."


"Hahahaha kamu ini bisa saja Mas."

__ADS_1


"Sebenarnya dua hari belakangan, Bapak sempat pergi ke pos Bambangan, Le. Bapak menanyakan apakah ada pendaki yang hilang. Mereka menjawab tidak ada. Semua grup pendaki yang mendaki via pos Bambangan berhasil turun gunung dengan selamat," ucap Prasojo memberikan sebuah berita.


"Begitu ya Pak? Itu artinya tidak ada laporan kehilangan?"


"Betul itu Le."


"Hemmmm.. ya sudah Pak tidak apa-apa. Lagipula, saya merasa betah tinggal di sini. Jadi biarkan saya berada di kampung ini terlebih dahulu sambil memulihkan ingatan saya."


"Tidak masalah itu Le. Lagipula, Bapak tahu apa yang membuatmu betah. Pasti mbak jamu gendong kan?" tebak Prasojo sembari tergelak lirih.


"Itu sudah pasti Pak. Mbak jamu lah yang membuat saya betah. Dia benar-benar jamu untuk saya Pak. Yang membuat tubuh saya sehat dan bugar. Haahahaha!"


Obrolan orang-orang yang berada di pos kamling tiba-tiba terganggu dengan suara seseorang yang mengendarai motor sembari memainkan tarikan gas di tangannya. Alhasil suara itu terdengar begitu memekak telinga. Tak selang lama pengemudi itu menghilang dari pandangan.


Banyu yang sekilas melihat motor itu sedikit terperangah. Lagi-lagi motor itu tidak begitu asing di matanya. Bibirnya menganga lebar saat berhasil mengingat milik siapa motor itu.


"Loh Le, kamu mau kemana? Sebentar lagi Bapak pulang loh."


Prasojo sedikit keheranan dengan tingkah Banyu. Pemuda itu tiba-tiba beranjak dari posisi duduknya dan dan gegas memakai sandal.

__ADS_1


"Pak, saya pinjam motor Bapak sebentar ya. Saya ada perlu sebentar," pinta Banyu dengan memasang wajah memelas.


"Keperluan apa Le? Ini sudah malam, jangan aneh-aneh!"


"Tidak Pak, saya tidak aneh-aneh. Ini justru merupakan masa depan untuk saya Pak," jelas Banyu.


Prasojo membuang napas sedikit pelan. "Baiklah Le, namun sebentar saja. Jangan lama-lama."


"Siap Pak."


Banyu cepat-cepat nangkring di atas motor milik Prasojo. Gegas, ia melajukan motornya untuk mengikuti kemana motor yang ia yakini sebagai motor milik Heru itu pergi. Sampai pada akhirnya, Banyu tiba di sebuah pelataran luas milik orang. Di sebrang jalan, nampak Heru mendatangi sebuah rumah. Lelaki itu terlihat sedang mengetuk pintu hingga kedua bola mata Banyu pun membulat sempurna saat melihat Heru disambut oleh seorang wanita. Mereka nampak begitu mesra dan pada akhirnya masuk ke dalam rumah.


"Hahahaha akhirnya aku bisa mendapatkan bukti perselingkuhan Heru. Aku harus memberitahu Lingga. Eh tapi bagaimana caranya? Ponsel untuk mengambil foto Heru saja aku tidak punya. Astaga... dasar Banyu!" monolog Banyu lirih.


Banyu nampak berpikir keras untuk membuat strategi. Ia merasa harus bisa memberikan bukti-bukti ini. Dan senyum itupun kembali terbit di bibir Banyu.


Ahaaaaaa!!! lebih baik, besok aku ajak Lingga untuk mendatangi rumah itu. Biarkan Lingga melihat dengan mata kepalanya sendiri kelakuan be*jat suaminya. Hmmmm, Her, tunggu esok hari. Aku akan membuatmu malu setengah mati.


.

__ADS_1


.


bersambung...


__ADS_2