
Keberadaan Kukuh yang berbaring di atas tandu sukses membuat warga kampung menautkan pandangan mereka ke arahnya. Mereka yang kebanyakan kaum ibu-ibu yang tengah menjemur padi pun menyempatkan untuk menghampiri Prasojo dan Parmin untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Tidak hanya kumpulan ibu-ibu yang tengah berkutat dengan jemuran gabah, bapak-bapak yang baru saja mengasah sabit pun juga rela mengabaikan benda tajam itu hanya untuk bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan pemuda yang terbaring di atas tandu itu.
"Loh, loh, ini ada apa Pak? Mengapa pak Prasojo dan Parmin memanggul seseorang?"
Seorang bapak yang hanya mengenakan kolor hitam dan bertela*njang dada seakan begitu penasaran melihat Kukuh yang ditandu. Oleh karenanya, belum sempat mengenakan baju, lelaki itu buru-buru menghampiri Prasojo dan Parmin. Mungkin ia takut jika sampai ketinggalan hot news perihal pemuda di atas tandu itu.
"Pak, biarkan saya membawa nak Kukuh ini ke rumah saya terlebih dahulu. Untuk apa yang sebenarnya terjadi besok malam atau mungkin lusa silakan Bapak dan warga yang lain berkumpul di pendopo. Di sana kita akan sama-sama mendengarkan cerita dari nak Kukuh sendiri tentang apa yang dialaminya. Untuk saat ini, biarkan nak Kukuh mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu sembari memulihkan tenaganya. Lihatlah, dia nampak begitu tiada berdaya."
Dengan bijak, Prasojo mencoba untuk memberikan pengertian kepada salah satu warganya. Bukan apa-apa, Prasojo hanya khawatir jika sekali saja ia menanggapi pertanyaan warganya ini, pastinya akan muncul berbagai pertanyaan lain hingga pada akhirnya Kukuh tidak bisa segera beristirahat.
Warga yang berkumpul hanya bisa saling melempar pandangan. Sejatinya mereka sudah sangat tidak sabar untuk mengetahui apa yang terjadi dengan sosok pemuda yang berada di atas tandu itu. Pemuda yang wajahnya terlihat begitu tampan khas orang-orang Timur Tengah. Dengan jambang tipis yang menghiasi wajah seakan menjadi daya tarik tersendiri. Membuat siapapun tidak jemu untuk memandang.
__ADS_1
"Oh baiklah kalau begitu Pak. Besok saya akan mengajak beberapa warga untuk datang ke pendopo. Saya benar-benar penasaran apa yang terjadi dengan pemuda ini."
"Pak Prasojo seandainya membutuhkan beras, sayur, atau apapun bisa langsung datang kepada saya. Akan saya berikan untuk bisa membantu pemuda tampan itu, sehingga ia bisa betah berarda di kampung kita ini."
Prasojo begitu trenyuh melihat antusiasme warga yang begitu bersemangat dalam membantu Kukuh. Bahkan mereka nampak begitu welcome dengan keberadaan lelaki itu. Meski kehidupan warga begitu sederhana bahkan cenderung pas-pasan namun rasa empati terhadap sesama dan jiwa sosial mereka terlihat begitu kentara.
Entah apa yang membuat mereka begitu welcome, mungkin karena wajah si pemuda yang terlampau tampan itu. Bisa saja jika wajah Kukuh di bawah kata standart, tidak akan se-antusias ini mereka menyambut kedatangan Kukuh. Memang benar di mana-mana wajah tampan dan rupawan benar-benar bisa membuat lupa daratan bagi si penikmat rupa. Hihi hihihi sama seperti si penulis cerita. 😄
"Terima kasih banyak untuk kebaikannya ya Bu. Nanti seumpama saya memerlukan sesuatu, saya akan langsung datang ke rumah Sampeyan."
Pada akhirnya, Kukuh tiba di teras rumah Prasojo. Dengan perlahan ia diturunkan dari atas tandu dan di letakkan di sebuah kursi dari bambu yang berada di teras.
"Kalau begitu saya permisi pulang ya Pak. Takutnya mas Heru sudah tiba di rumah."
__ADS_1
Lingga yang sedari tadi berjalan mengekor di belakang punggung Prasojo dan Parmin pamit undur diri. Tanpa terasa hari telah merangkak ke sore. Itu artinya sudah terlalu lama jarak antara ia pulang berjualan jamu sampai ke kediamannya. Ia hanya khawatir jika sang suami sudah pulang dan tidak mendapati dirinya di dalam rumah.
"Baik Ndhuk, hati-hati ya. Nak Kukuh biarkan di sini untuk mendapatkan perawatan."
"Iya Pak."
Lingga berbalik badan. Ia ayunkan tungkai kakinya untuk bersegera pergi dari kediaman Prasojo. Namun baru tiga langkah tiba-tiba...
"Lingga, terima kasih banyak. Sering-seringlah datang kemari untuk menjengukku."
Lingga hanya bisa tersenyum simpul tanpa mengangguk ataupun menggeleng. Wanita itupun bersegera pergi dari rumah Prasojo.
.
__ADS_1
.
. bersambung...