Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 38. Mencurigai


__ADS_3


Kabut tebal perlahan tersibak kala mentari pagi mulai menduduki singgasana. Laksana tirai alam yang membuka tabir kegelapan hingga membuat suasana terang benderang kian terasa. Tetes-tetes embun pagi masih bergelayut manja di permukaan dedaunan. Mereka berkilauan seperti kilau mutiara di dasar lautan.


Dengan pakaian khas wanita desa, Lingga sudah bersiap berkeliling menjajakan jamu gendongnya. Setelah membantu Banyu keluar dari dimensi lain, ia terpaksa harus meliburkan diri terlebih dahulu dari berjualan untuk memulihkan tenaganya. Dan setelah dua hari ia beristirahat, kini waktunya untuk kembali menjemput rezeki.


"Astaga Banyu!!"


Tubuh Lingga sedikit melonjak saat membuka pintu, tiba-tiba ia dikagetkan dengan keberadaan Banyu yang sudah berdiri di depan pintu. Untung tenggok yang ia bawa tidak jatuh, jika jatuh bisa dipastikan wanita ini akan mengamuk seperti setan yang tengah kesurupan. (kalau setan kesurupan kira-kira kerasukan apa ya?) 😂😂


"Selamat pagi cantik!" sapa Banyu dengan ramah. Seperti biasa, pemuda itu menaik turunkan alisnya, genit.


"Ada keperluan apa pagi-pagi seperti ini kamu datang kemari?" ketus Lingga sembari menetralisir jantungnya yang berdegup kencang karena kaget.


Banyu nyengir kuda. Tanpa basa-basi, pemuda itu meraih tenggok berisikian botol-botol jamu yang dibawa oleh Lingga. "Mulai sekarang, aku akan ikut kamu berjualan. Akan aku bawa tenggok ini sehingga kamu tidak kesusahan."


"Eh, eh, eh, apa-apaan ini Nyu. Tidak perlu. Kamu tidak perlu melakukan itu!" pekik Lingga sembari berusaha untuk mempertahankan tenggok yang ia bawa. Namun sayang, kekuatan Banyu jauh lebih kuat, hingga saat ini tenggok jamu itu berada di tangan Banyu.


"Ssssttt .... jangan menolak. Sebelum aku mendapatkan pekerjaan, aku akan membantumu berkeliling berjualan jamu. Aku yakin selama aku ikut denganmu berjualan, daganganmu ini akan semakin laris."


"Tapi..."


"Stop! Sekarang aku pinjam kain jarik dan juga pakaian seperti yang kamu pakai ini. Agar aku bisa totalitas dalam berjualan jamu ini."

__ADS_1


"Eh tapi.... Aduuduuhhh!!!"


Lingga sedikit berteriak ketika tubuhnya di dorong oleh Banyu untuk kembali masuk ke dalam rumah. Pemuda itupun hanya memberikan instruksi untuk segera mengambil pakaian seperti yang diinginkan. Tak ada yang bisa Lingga lakukan selain hanya mengikuti kemauan pemuda ini. Ia pun kembali masuk ke dalam bilik kamar untuk mengambil pakaiannya.


****


"Jamu, jamu.... Jamunya Bu ibu... Beras kencur, kunyit asam, uyup-uyup, rapet wangi, galian singset. Monggo, monggo mumpung masih hangat!!"


Lingga tiada henti menyunggingkan senyum saat berjalan di belakang tubuh Banyu. Entah jelmaan apa pemuda ini. Sebagai seorang laki-laki ia nampak begitu tampan sedangkan ketika didandani khas wanita penjual jamu seperti ini, ia nampak manis dan cantik sekali.


"Loh, bukankah ini pemuda ganteng yang ada di rumah pak Pras?" tanya seorang ibu yang merupakan tetangga Lingga sedikit heran.


"Iya Bu, saya Banyu. Sebelum saya mendapatkan pekerjaan, saya akan membantu Lingga untuk berjualan jamu," jawab Banyu dengan senyum lebar yang membingkai wajah.


"Terima kasih untuk pujiannya Bu. Mari, mau jamu apa? Biar saya buatkan. Semua jamu ada ya Bu, hanya satu yang tidak ada," ujar Banyu yang sukses membuat si ibu keberanan.


"Memang jamu apa yang itu Le?"


"Jamu untuk lepas dari hutang, Bu!"


"Hahahaha kamu ini bisa saja Le. Ya sudah, aku mau uyup-uyupnya satu ya."


"Baik Bu."

__ADS_1


Banyu melirik ke arah Lingga. "Psssttt ... uyup-uyup yang mana Ling?"


Lingga hanya bisa tergelak lirih. Ia ambil satu botol jamu dan ia ulurkan ke arah Banyu. "Ini namanya uyup-uyup. Salah strategi kita. Seharusnya kamu menjalani masa training dengan aku beri teori terlebih dahulu, Nyu."


"Alah, tidak perlu. Aku justru lebih senang jika langsung praktik denganmu!"


Dengan telaten, Banyu mengo*cok botol jamu yang ada di tangannya ini. Kemudian ia tuang ke dalam batok yang berfungsi sebagai gelas khas jamu milik Lingga.


"Silakan diminum ya Bu," ucap Banyu sembari memberikan batok itu ke arah si ibu.


"Terima kasih banyak Le."


Tanpa terduga, satu persatu kumpulan ibu-ibu mulai datang menghampiri Banyu. Mereka berkerumun, mengantre untuk dilayani Banyu. Lingga yang melihat jamu gendongnya ramai seperti ini hanya bisa tersenyum manis sembari tiada henti mengucap rasa syukur di dalam hati.


Hati Banyu turut menghangat saat sekilas ia melihat senyum itu terbit di bibir Lingga. Dalam hati, ia berjanji akan senantiasa mengukir senyum itu di bibir wanita ini. Tak selang lama, ekor matanya tiba-tiba menangkap bayangan sebuah motor yang melintas di sebrang jalan. Banyu merasa tidak asing dengan motor yang ia lihat itu. Ia pun mencoba untuk menajamkan indera penglihatannya.


Itu Heru. Astaga, ia berboncengan dengan siapa? Ah, sepertinya memang benar bahwa dia telah mencurangi Lingga. Tidak bisa dibirarkan. Aku harus segera menyelidikinya.


.


.


. bersambung...

__ADS_1


__ADS_2