
"Banyu .... Selly .... tolong putra Tante, Nak. Tolong!"
Mirna berlari kecil menghampiri Banyu dan Selly saat masih berada di depan teras. Wanita paruh baya itu, tanpa basa-basi memeluk tubuh Banyu dan Selly. Bahkan ia menangis di sana. Hal itulah yang membuat sepasang sahabat itu kebingungan. Apa maksud ucapan wanita paruh baya ini.
"Tante, ada apa? Mengapa Tante meminta tolong kepada kami?" ujar Banyu dengan kernyitan di dahinya.
Mirna melerai pelukannya dan menatap lekat wajah dua sosok yang berada di hadapannya ini. "Aldo Nak, Aldo kritis."
"Lalu, apa hubungannya dengan kami, Tante?" sambung Selly yang juga turut kebingungan.
Tak ingin lagi membuang banyak waktu, Mirna memandu Banyu dan Selly untuk masuk ke dalam kamar di mana Aldo terbaring.
Banyu dibuat terperangah dengan kondisi lelaki yang saat ini terbaring di atas ranjang yang seperti mayat hidup. Ia tidak bergerak sama sekali hanya manik matanya yang bergerak ke sana kemari. Entah apa yang ia cari. Banyu hampir saja muntah saat perutnya tiba-tiba mual karena bau menyengat yang sepertinya keluar dari luka-luka di sekujur tubuhnya. Namun, sekuat tenaga ia menahan. Khawatir jika sampai menyinggung perasaan keluarga Aldo.
Mbah Sutaji yang melihat kedatangan Banyu langsung merapatkan tubuhnya ke arah Banyu. Lelaki berusia senja itu berbisik lirih di telinga Banyu.
"Tolong berikan maafmu untuk Aldo. Dengan begitu, Aldo bisa terbebas dari siksa yang membelenggunya."
Belum usai dengan keterkejutannya karena melihat kondisi Aldo yang seperti mayat hidup, kini Banyu dibuat terkejut dengan ucapan Mbah Sutaji.
__ADS_1
"Maksud Mbah apa? Saya merasa Aldo tidak pernah melakukan kesalahan terhadap saya."
Mbah Sutaji hanya tersenyum tipis yang membuat Banyu justru semakin kebingungan. "Aldo lah yang membuatmu terperangkap di dimensi lain."
Banyu semakin dibuat terkejut. "Jadi, Aldo lah yang meletakkan batu biru itu ke dalam saku celana saya? Dan itu artinya Aldo termakan sumpahnya sendiri karena mengaku bahwa bukan ia yang melakukan itu?"
Mbah Sutaji menganggukkan kepala. "Ya, dia pernah bersumpah badannya akan gatal-gatal bukan jika sampai ia melakukannya?"
"Betul Mbah, Aldo pernah mengucapkan sumpah itu. Jadi sekarang apa yang bisa saya lakukan?"
"Tidak banyak yang bisa kita lakukan selain memintamu untuk memaafkan apa yang telah diperbuat oleh Aldo, Nak. Saat ini ia hanya membutuhkan kata maaf yang tulus dari dalam hatimu."
Mendengar ucapan Mbah Sutaji, membuat hati Mirna semakin teriris perih. Ia merasa sudah tidak ada lagi harapan untuk kesembuhan sang putra. Bahkan bisa jadi ini merupakan detik-detik terakhirnya hidup di dunia. Mirna mendekat ke arah Banyu dan bersimpuh di kaki pemuda itu.
Tangisan ibunda Aldo inilah yang terasa begitu perih di telinga Banyu. Ia membungkukkan badanny, memegang bahu Mirna dan membantunya untuk kembali berdiri.
"Tante tidak perlu bersimpuh seperti ini. Saya sudah memaafkan semua kesalahan Aldo, Tan. Saya sudah ikhlas memaafkan."
Banyu menuntun Mirna untuk duduk di sebuah kursi plastik yang berada di kamar ini. Kemudian Banyu mengayunkan tungkai kakinya, menuju ke arah Aldo yang tengah berbaring dan ia daratkan bokongnya di tepian ranjang. Ia tatap lekat wajah Aldo dari tempatnya terduduk.
Dengan menahan segala rasa yang bercampur aduk di dalam dada, Banyu meraih telapak tangan Aldo yang sudah dipenuhi dengan luka itu. Ia harus berhati-hati, khawatir jika Aldo kesakitan karena dipegang olehnya.
__ADS_1
"Al, aku sudah ikhlas memaafkanmu. Jika karena hal itu yang membuatmu tersiksa, kini aku sudah melepaskan belenggu itu dengan memaafkanmu. Jika saat ini kamu ingin kembali menghadap Tuhan, kembalilah dengan tenang. Aku sudah memaafkanmu."
Sungguh di luar dugaan, manik mata Aldo yang sebelumnya hanya menatap langit-langit kamar, kini bergeser ke arah Banyu. Hingga kini netra kedua lelaki itu saling beradu dan mengunci.
"Maafkan aku..."
Hanya kata itulah yang mampu diucapkan oleh Aldo setelah satu minggu, ia hanya seperti mayat hidup. Kata-kata yang keluar dari bibir Aldo diiringi dengan lelehan bulir bening yang keluar dari sudut matanya.
"Aku sudah memaafkanmu Al. Sekarang, jika kamu ingin pergi, maka pergilah dengan tenang."
Tiba-tiba napas Aldo nampak tersengal-sengal. Ia seperti seseorang yang kesusahan untuk meraup oksigen yang berada di dalam ruangan ini. Manik matanya kembali melihat langit-langit kamar dengan napas yang sudah semakin berat.
Mirna hanya bisa menangis tergugu saat melihat sang putra yang tengah menghadapi kedatangan malaikat mautnya ini. Tak selang lama, terdengar bunyi seseorang yang tengah cegukan dan dibarengi dengan berhentinya detak jantung Aldo dan tertutupnya kedua bola matanya.
"Aldo!!!!" teriak Mirna histeris saat melihat sang putra telah berpulang ke pangkuan Tuhan.
.
.
. bersambung...
__ADS_1
Pelajaran apa yang bisa dipetik dari part ini?? Silakan tulis di kolom komentar ya kak.. 😘😘😘😘