Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 23. Membebaskan #2


__ADS_3


Cahaya rembulan terpantul di dalam air yang menggenang di bawah curug. Menjadikannya berkilauan seperti kilau mutiara yang berada di dasar lautan. Pekat malam yang beradu dengan cahaya sang rembulan justru semakin membuat suasana dramatis romantis semakin kian terasa. Kanvas langit juga nampak ramai dengan ribuan bintang yang menari dengan lincahnya. Mereka berkedip layaknya seorang gadis yang mencoba untuk menggoda sang pemuda. Lingga hanya bisa tersenyum lega. Karena pada akhirnya, ia bisa tiba di curug ini.


"Aku datang untuk mengembalikan apa yang menjadi milikmu. Tampakkanlah wujudmu!"


Lingga berteriak lantang mencoba untuk memanggil sosok makhluk pemilik batu yang ia bawa ini. Ia mencoba mengedarkan pandangannya ke arah sekitar untuk mencari keberadaan sosok makhluk tak kasat mata itu namun sayang, makhluk itu tidak segera menampakkan wujudnya.


"Jangan bermain-main denganku. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladenimu. Datanglah, dan tunjukkan wujudmu!"


Lingga kembali berteriak untuk memanggil sosok makhluk itu. Sepersekian detik, ia merasa udara di sekitarnya semakin dingin dan tak selang lama muncul sosok wanita dengan pakaian Jawa duduk di atas curug yang sontak membuat tubuh Lingga terkejut setengah mati.


Lingga tersenyum simpul. "Ini aku kembalikan batu sialan ini. Setelah ini jangan kamu ganggu lagi kehidupan pemuda yang kamu sandera itu. Biarkan dia hidup tenang tanpa dirongrong oleh kehadiranmu."


Lingga melempar ke atas batu yang ia bawa ke arah makhluk tak kasat mata yang tengah duduk di atas curug. Sungguh aneh, batu yang semula berwarna hitam ke abu-abuan mendadak mengeluarkan kilau warna biru saat mendekat ke arah pemiliknya. Hal itulah yang sedikit membuat Lingga berdecak kagum. Batu itu memang nampak begitu cantik, pantas saja teman Banyu berniat membawa pulang batu itu.


Sosok makhluk itu hanya cekikikan melihat Lingga yang nampak sangat bernyali ini. "Baguslah, kamu bisa mengembalikan batu keabadian milikku ini."

__ADS_1


"Lalu, di mana pemuda itu berada? Lekas bawa ia kemari!"


Sosok wanita itu kembali cekikikan sembari memainkan bunga melati yang ada di dalam genggaman tangannya. "Dia masih berada di dalam dimensiku dan berada di dalam sebuah goa. Akupun juga tidak ingin berlama-lama menyanderanya karena dia sangat sulit untuk aku taklukkan. Ternyata dia memiliki hati yang kukuh untuk tetap menunggu penyelamatnya datang."


Kamu benar-benar hebat Banyu. Kamu bisa kuat untuk bertahan di sebuah alam yang bisa jadi begitu membelenggu. Sebentar lagi, aku akan datang menolongmu.


"Ya, kami manusia memang tidak mungkin lengah akan keadaan. Terlebih pemuda itu juga layak untuk keluar dari dimensimu karena ia sama sekali tidak bersalah perihal batu sialan itu!" teriak Lingga dengan menggebu.


Dari atas curug sosok makhluk itu menatap lekat netra Lingga. "Ya, aku tahu itu. Sekarang cepat bawa pergi sukma pemuda itu dari dimensi yang masih membelengunya. Jika sampai matahari terbit kamu tidak mampu untuk membawanya pergi dari tempat itu, aku pastikan dia tidak akan bertahan lama hidup di dunia."


"Kamu wanita cerdas, pastinya paham dengan apa yang aku katakan. Selama ia terperangkap di alam ini, ia sama sekali tidak mau menyantap apa yang aku sajikan."


"Jelas ia melakukan hal itu karena jika sampai ia menyantap apa yang kamu sajikan pastinya ia akan terperangkap selamanya di alam ini," sergah Lingga dengan suara lantang.


"Ya, itu benar sekali. Tapi kamu juga harus ingat bahwa sebelum kamu datang menolong pemuda itu, ia sudah lama tergeletak di bawah curug. Kamu pasti paham bukan berapa lama pemuda itu bisa bertahan hidup?"


Kedua bola mata Lingga terbelalak sempurna, ia ingat bahwa mungkin saja sukma Banyu bisa bertahan namun belum tentu raganya.

__ADS_1


"Persetan dengan ucapanmu ini. Aku yakin jika pemuda itu bisa bertahan hidup sampai nanti!"


"Maka dari itu, segeralah bawa pulang sukma lelaki itu!"


Sosok makhluk itu kembali cekikikan. Ia terbang melayang menjauh pergi dari atas curug dan sesaat kemudian, sosok makhluk itu menghilang dari penglihatan Lingga.


Lingga sedikit terhenyak. Tak ingin banyak membuang waktu, Lingga kembali menyusun rencana untuk bisa segera menolong Banyu. Tepat di atas tanah bebatuan di mana raga Banyu ia temukan, Lingga duduk bersila sembari menatap lekat air yang jatuh dan mengalir melalui curug ini. Ia mengirup napas dalam-dalam dan perlahan ia hembuskan. Wanita itupun mulai memejamkan mata, berupaya untuk menembus dimensi lain yang akan ia lewati untuk mengantarkannya kepada sukma milik sang pemuda.


Hanya terlihat suasana gelap yang nampak di dalam netra milik Lingga. Ia mencoba berlari untuk bisa segera tiba ke sebuah dimensi dimana sukma Banyu berada. Hingga pada akhirnya, suasana perlahan menjadi terang dan ia pun bisa melihat semua yang ada di sekitarnya.


Lingga berlari untuk mencari goa yang dimaksud oleh makhluk tak kasat mata itu. Hanya ada pohon-pohon yang menjulang tinggi dan tebing-tebing curam yang ia lewati. Hingga para akhirnya, netranya menangkap sebuah goa yang terlihat sedikit terang. Entah, berasal dari mana suasana terang itu. Mungkin saja berasal dari doa-doa yang senantiasa dipanjatkan oleh keluarga Banyu untuk keselamatan pemuda itu. Senyum manis tersungging di bibir Lingga. Nampak siluet manusia terduduk sembari merenung di dalam goa itu.


"Dia pasti Banyu!"


.


. bersambung...

__ADS_1


__ADS_2