Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 63. Sedikit Perdebatan


__ADS_3


Lingga berjalan pelan melintas depan pelataran rumah milik Prasojo. Dahinya sedikit mengernyit ketika melihat sebuah mobil warna putih terparkir di sana. Lingga melirik plat mobil ini, bisa ia simpulkan bahwa mobil ini berasal dari ibu kota.


"Tumben pak Pras kedatangan tamu dari ibu kota. Biasanya yang datang hanya orang-orang kecamatan atau kelurahan untuk kegiatan penyuluhan. Tapi ini sepertinya mobil milik pengusaha."


Rasa ingin tahu dan penasaran Lingga semakin besar. Terlebih mengenai firasatnya perihal Banyu, membuatnya berpikir bahwa pemilik mobil ini ada hubungannya dengan pemuda itu.


Lingga mengayunkan tungkai kakinya ke arah mobil. Sayup-sayup ia mendengar suara seseorang yang sedang berbincang namun berteriak-teriak. Seperti seseorang yang sedang berdebat kusir dan saling adu argumentasi. Lingga pun memilih untuk bersembunyi di belakang mobil untuk mendengar apa yang sebenarnya mereka bicarakan.


"Hah, benar bukan yang saya katakan? Wanita bernama Lingga itu hanya memperdayai orang-orang yang ada di sini. Kenyataannya tidak ada yang meletakkan batu itu di saku celana Banyu," kelakar Villia. Ia kemudian menoleh ke arah Banyu yang sedari tadi hanya terdiam dan membisu. "Nyu, sekarang kamu tahu bukan bahwa wanita bernama Lingga itu penuh tipu muslihat? Apakah kamu tetap percaya bahwa dia memang tulus menolongmu? Aku yakin, ada niat terselubung di balik itu!"


Lingga terperanjat ketika namanya dibawa-bawa, padahal ia sama sekali tidak tahu di mana duduk persoalannya. Merasa sedikit geram, ia pun meletakkan tenggok jamu ini di atas tanah. Dan gegas, ia menghampiri kumpulan orang-orang yang entah siapa.

__ADS_1


"Jaga bicara Anda Nona. Saya bukanlah wanita seperti itu!"


Banyu terkesiap, gegas ia bangun dari posisi duduknya dan menghampiri Lingga. "Lingga!"


Villa dan semua yang berada di teras seketika menautkan pandangan mereka ke arah Lingga. Dan mereka seakan paham bahwa wanita inilah yang sedari tadi mereka bicarakan.


"Oh ... jadi ini yang bernama Lingga?" tanya Villia sambil menunjuk wajah Lingga.


"Iya, saya Lingga. Apakah ada keperluan yang ingin Anda sampaikan? Saya dengar sedari tadi Anda melibatkan nama saya." Lingga menjawab dengan santai tanpa merasa takut berhadapan dengan orang yang nampak asing ini.


Banyu terhenyak mendengar perkataan Villia yang terdengar menusuk telinga ini. Air wajahnya pun sudah berubah seperti seseorang yang menahan amarah.


"Tolong jaga bicaramu! Tidak pantas kamu mengatakan hal itu kepada seseorang yang baru pertama kamu temui. Benar-benar tidak sopan!"

__ADS_1


"Wanita ini yang tidak sopan Nyu. Dia menjual cerita bahwa kamu terperangkap di dunia lain demi menjadikannya terkenal dan seolah menjadi pahlawan. Bisa-bisanya kamu terperdaya oleh orang ini. Lagipula kamu ini orang kota, kenapa bisa mudah percaya dengan hal-hal di luar nalar seperti ini!"


"Stop!" seru Herlambang memangkas ocehan Villia. "Sudah Vi, jangan lagi kamu mengatakan hal-hal yang bisa melukai ataupun menyinggung orang-orang di desa ini. Bagaimanapun juga kita berhutang budi dengan pak Prasojo dan juga Lingga, karena mereka lah yang selama ini merawat Banyu," sambung lelaki paruh baya itu pula.


Hati Villia seakan terbakar karena calon mertuanya pun ikut membela wanita bernama Lingga ini. Ia pun merapatkan tubuhnya di tubuh Lingga dan perlahan berbisik. "Mungkin kamu merasa bangga karena dibela. Namun aku rasa kamu akan tahu diri untuk tidak mendekati Banyu setelah tahu semuanya."


Dahi Lingga berkerut dalam saat mencoba untuk memahami kata demi kata yang diucapkan oleh Villia. "Maksud Anda apa?"


"Aku tahu bahwa kamu memiliki niat terselubung untuk menolong Banyu karena kamu tahu Banyu merupakan anak orang kaya. Namun ingat, langkahmu akan terhalang karena saat ini ada aku. Akulah kekasih Banyu dan calon istrinya!"


.


.

__ADS_1


. bersambung...


__ADS_2