
Lingga berdiri di balik jendela dengan kepala mendongak ke atas. Menyaksikan hamparan langit malam yang menyajikan segala pesona dengan kerlip bintang dan juga cahaya lembut sang dewi malam.
Sepasang bola mata wanita itu masih nampak sembab seakan mempertegas bahwa baru saja ia berhenti dari isak tangisnya. Entah apa yang terjadi, sejak mendengar ucapan Villia di pagi hari tadi perihal Banyu telah merenggut kesucian perempuan itu, membuatnya tidak bersemangat untuk melakukan apapun. Ia memilih untuk berdiam diri di atas ranjang dengan air mata yang tiada henti mengalir dari telaga beningnya.
"Tuhan, baru saja aku mengecap sedikit kebahagiaan dengan kehadiran Banyu. Namun pada kenyataannya malah seperti ini. Aku merasa akan menjadi wanita paling jahat jika terus menerus berada di dekat Banyu. Karena memang ada wanita yang akan menjadi istrinya. Sekarang, aku harus bagaimana, Tuhan?"
Lingga mengusap wajahnya sedikit kasar. Baru kali ini suasana hatinya terasa tidak karuan seperti ini. Padahal saat Heru menancapkan luka dengan perselingkuhan yang dilakukan, ia sama sekali tidak merasakan sepatah ini. Namun ketika mendengar Banyu sudah memiliki calon istri bahkan wanita itu telah 'dicicipi' oleh Banyu, membuat perasaannya hancur seketika. Entah karena apa. Mungkin karena ia sudah terlanjur mempersilakan Banyu untuk menempati ruang hatinya yang kosong.
"Sekarang aku harus bagaimana Tuhan?" ucap Lingga bermonolog lirih.
Pssstttt... psssstttt... pssstttt...
"Lingga!"
Lamunan Lingga terusik saat ada suara seseorang yang memanggil namanya. Gegas, ia menoleh ke arah sumber suara. Wanita itu sedikit terkejut saat Banyu sudah memasuki halaman rumahnya.
Mendadak jantung Lingga berdegup kencang seakan tiada terkendali. Ia bingung harus melakukan apa di depan pemuda ini. Ia pun memilih untuk berbalik badan dan memunggungi Banyu yang sudah berada di depan jendela bilik kamarnya.
__ADS_1
"Ada keperluan apa kamu mendatangi ku malam-malam seperti ini?" ujar Lingga dengan nada ketus.
Lingga menggigit bibir bawahnya seakan tidak tega untuk melontarkan kata-kata itu, namun ia sadar bahwa ia harus memiliki ketegasan untuk bisa menghadapi situasi seperti ini. Hatinya juga berdenyut nyeri karena ia tidak terbiasa bersikap dingin seperti ini.
"Ada apa Sayang? Mengapa kamu ketus seperti itu? Aku datang kemari baik-baik loh!"
Beberapa pertanyaan muncul di dalam hati pemuda itu. Ia merasa malam ini sang pujaan hati benar-benar berbeda. Wajah yang biasanya nampak berseri kala menyambut kedatangannya, namun malam ini ia terlihat ketus sekali.
"Lalu, apa tujuanmu datang kemari? Cepat katakan, aku tidak memiliki banyak waktu!"
Lagi-lagi Lingga hanya bisa mere*mas-re*mas ujung kain pakaian yang ia kenakan. Sikap seperti ini sekalipun tidak pernah ia tampakkan di hadapan Banyu. Namun sekali lagi, ia harus membentengi hati agar tidak terjatuh dalam cinta yang semu.
"Sayang, besok aku akan pulang ke Jakarta. Akan aku selesaikan semua permasalahan ini. Aku akan membuktikan bahwa aku tidak terlibat perasaan dengan Villia, Sayang. Aku akan membuktikannya."
Lingga hanya bisa tersenyum getir. Segala kemungkinan bisa terjadi. Ia tidak ingin larut dalam spekulasi-spekulasi.
"Pulanglah jika memang kamu ingin pulang. Dan apa hubungannya denganku? Bahkan aku tidak pernah perduli dengan apa yang kamu lakukan."
Banyu terhenyak seketika saat mendengar ucapan itu keluar dari bibir wanita yang ia cintai. "S-Sayang, kamu bercanda kan? Ini semua hanya bercandaanmu saja kan. Bukankah kamu mencintaiku? Seharusnya kamu turut mendukung upaya apa yang akan aku lakukan Sayang. Tidak malah memusuhiku seperti ini."
__ADS_1
"Ckckckck ... aku mencintaimu? Tahu darimana bahwa aku mencintaimu? Bukankah selama kita bersama tidak sekalipun aku mengatakan bahwa aku mencintaimu? Coba kamu ingat-ingat lagi."
Kali ini ucapan Lingga benar-benar menusuk tepat di jantung Banyu. Tubuh lelaki itu sedikit terperanjat dan seketika membuat memori otaknya berkelana, mengingat semua hal yang pernah ia lewati bersama Lingga.
Senyum ironi terbit di bibir pemuda itu. Ia membenarkan bahwa Lingga, sekalipun tidak pernah mengucapkan kata cinta kepadanya.
"Ternyata, selama ini aku yang terlalu mencintaimu Ling, sampai-sampai aku lupa untuk menanyakan apakah kamu mencintaiku atau tidak. Aku ternyata terlalu percaya diri bahwa kamu akan mencintaiku seperti aku mencintaimu. Namun kenyataannya itu semua bertepuk sebelah tangan."
Banyu menjeda ucapannya seraya membuang napasnya sedikit kasar. Hatinya benar-benar serasa ditampar sehingga ia bisa bangun dari semua angan tinggi yang ia ciptakan sendiri.
"Hahaha, bukankah ini teramat menyedihkan untukku? Namun tidak mengapa. Aku cukup sadar diri bahwa aku memang tidak boleh egois. Kamu yang telah menyelamatkanku keluar dari dimensi lain itu dan rasa-rasanya tidak pantas jika aku mengharapkan cinta darimu. Aku seperti seseorang yang tidak tahu malu."
Banyu menyeka air matanya yang mulai menetes satu persatu. Ia tatap punggung Lingga ini dengan tatapan penuh luka. "Maaf, jika selama dua bulan ini keberadaanku justru mengganggu ketentraman batinmu, Lingga. Besok, aku akan pulang ke Jakarta dan aku pastikan, kamu tidak akan pernah merasa terganggu lagi dengan kehadiranku. Terima kasih untuk dua bulan yang terlampau indah ini. Aku pamit. Jaga dirimu baik-baik."
.
.
. bersambung...
__ADS_1