Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 47. Diarak


__ADS_3


Pelakor... Penghianat...


Pelakor... Penghianat...


Pelakor... Penghianat...


Menggunakan gerobak sampah, Heru dan Ningrum diarak berkeliling kampung. Pekikan suara-suara warga yang menggema seakan menarik perhatian warga sekitar. Mereka yang tengah sibuk beraktivitas di dalam rumah, seketika berhamburan keluar untuk melihat apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Waaaahhh ... ternyata ini pelakor dan penghianatnya? Usir saja mereka, usir. Daripada meresahkan." teriak salah seorang ibu yang memakai daster.


"Iya usir saja. Tidak pantas kampung ini ditinggali oleh mereka!" timpal beberapa ibu yang lain.


"Maaf ya Bu, Ibu ... Ningrum dan Heru tidak akan pernah diusir dari kampung ini. Biarkan saja mereka tinggal di sini. Semoga setelah penggerebekan dan arak-arakan ini mereka jera dan bisa hidup lebih baik lagi," tutur Prasojo dengan bijak. Sejatinya arak-arakan ini hanya sebagai upaya untuk membuat efek jera dan tidak ada tujuan untuk mengusir setelahnya.

__ADS_1


"Tapi mereka sangat meresahkan, pak Pras. Bisa jadi perilaku mereka ditiru oleh warga," ucap Ibu pula dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


Prasojo tersenyum penuh arti. "Dengan arak-arakan ini semoga bisa membuat yang lainnya berpikir dua kali untuk berselingkuh ya Bu."


Parmin dan yang lainnya kembali menarik gerobak sampah berisikan Heru dan Ningrum itu. Wajah Heru nampak puas menahan malu. Berkali-kali ia menundukkan kepala berharap tidak banyak orang yang mengenalinya. Namun sayang, berita perselingkuhan ini sudah terlanjur menyebar kemana-mana, tanpa melihat wajah Heru pun mereka tahu siapa yang diarak ini.


Berbeda dengan Heru yang nampak menahan malu, Ningrum justru menampakkan wajah biasa-biasa saja. Bahkan ia tersenyum lebar sembari melambai-lambaikan tangan ke arah barisan warga yang berjajar di tepi jalan. Sudah seperti ratu yang disambut oleh penduduknya.


"Kamu ini apa-apaan Ning? Mengapa kamu malah kegirangan seperti ini? Kita sedang dipermalukan di depan umum, namun kamu malah kegirangan seperti ini!" protes Heru dengan raut wajah yang dipenuhi oleh ekspresi keheranan.


Kedua bola mata Heru membulat sempurna. Bibirnya menganga saat mendengar Ningrum mengucapkan kata-kata itu. "Ning, kamu tidak gila kan? Aku baru kali ini bertemu dengan seseorang yang justru nampak bahagia saat diarak seperti ini."


"Aku tidak gila Mas. Aku bahkan masih waras, sangat waras. Setelah ini aku pasti akan jauh lebih terkenal daripada Lingga."


Heru pun semakin terperangah. Tidak percaya jika Ningrum memberikan argumentasi seperti itu. "Sepertinya kamu memang benar-benar suda stress, Ning!"

__ADS_1


Sementara itu, di barisan paling belakang arak-arakan ini, nampak Lingga dan Banyu juga turut mengiringi. Dari tempatnya berdiri, mereka menatap heran apa yang dilakukan oleh Ningrum. Tidak hanya Heru, Banyu dan Lingga pun juga merasakan bahwa Ningrum memang sedikit berbeda.


"Sepertinya mbakyumu itu sudah gila, Sayang. Lihatlah, dia malah tertawa-tawa dan melambaikan tangan seperti seorang bintang kepada para fans- nya" ucap Banyu


Lingga hanya bisa menatap Ningrum dengan tatapan iba. Sungguh sangat kasihan jika Ningrum sampai gila.


"Entahlah, aku juga tidak paham. Tapi saat ini, hatiku masih teramat sakit dan aku tidak ingin membahas perihal mbak Ningrum dulu."


Banyu tersenyum simpul. Ia raih telapak tangan Lingga dan ia genggam erat jemarinya. Hingga genggaman tangan itu membuat Lingga menoleh ke arah sang pemuda.


"Aku yang akan membalutnya, Lingga. Semoga kamu mengizinkanku untuk menyembuhkan luka itu."


.


.

__ADS_1


. bersambung...


__ADS_2