
"Astaga Le, mengapa pakaian kamu kotor sekali seperti ini?"
"Iya, kamu kenapa Mas? Kok seperti habis jatuh dari motor?"
Prasojo dan semua yang berkumpul di gardu pos kamling seketika beranjak dari posisi duduk masing-masing kala melihat kedatangan Banyu yang sedikit berantakan ini. Mereka pun sama-sama menghujani Banyu dengan berbagai macam pertanyaan akan kejadian apa yang sebenarnya dialami oleh pemuda ini.
"Pak gawat Pak, gawat!" seru Banyu setelah turun dari motor dan sukses membuat orang-orang ditempat ini saling melemparkan pandangan. Dari ekspresi yang ditampakkan oleh Banyu seperti menjadi tanda bahwa ada kejahatan yang terjadi di kampung ini.
"Gawat kenapa Le. Apakah ada maling? Ada babi ngepet? Ada tuyul? Coba bicara yang jelas Le!"
"Bukan Pak, bukan maling, babi ngepet ataupun tuyul. Ini tentang perselingkuhan yang ada di kampung ini Pak?"
"Perselingkuhan?" tanya Prasojo dengan kernyitan di dahinya. "Perselingkuhan siapa Le? Dan ada di mana perselingkuhan itu?" sambungnya pula.
"Heru Pak, suami Lingga. Saya melihat dia ada di salah satu rumah yang berada di ujung kampung. Dan kehadiranmu di sambut oleh seorang wanita yang entah siapa."
Prasojo dan yang lainnya kembali melempar pandangan. Mereka mencoba untuk menelaah siapa yang dimaksud oleh Banyu ini.
"Kalau mendengar ceritamu ini, Bapak yakin dia adalah Ningrum. Ningrum ini tidak lain adalah kakak Lingga," ucap Prasojo menjelaskan.
Kedua bola mata Banyu terbelalak. "Kakak Lingga? Serius itu Pak? Masa mereka tega melakukan hal itu?"
"Entahlah Le. Akhir-akhir ini berita itu santer terdengar. Namun Lingga seakan tidak ingin terpengaruh oleh berita yang belum pasti kebenarannya. Maka dari itu ia hanya menanggapi santai berita ini."
"Tapi sekarang, jika Lingga ikut melihat secara langsung kelakuan suaminya, dapat dipastikan ia akan percaya kan Pak?"
"Bisa jadi seperti itu Le. Lalu apa rencana kamu sekarang?"
"Jika kita melakukan penggrebekan, apa Bapak-Bapak setuju? Selain bisa membuat malu, penggrebekan ini juga bisa menjadi salah satu sanksi sosial untuk membuat efek jera bagi siapapun yang berselingkuh. Bagaimana?" tanya Banyu meminta pendapat yang dalam hati ia juga berdoa semoga orang-orang yang berada di hadapannya ini menyetujui apa yang ia rencanakan.
"Kalau untuk membuat efek jera, tidak hanya digerebek saja Mas!" timpal salah seorang laki-laki yang berada di tempat ini.
__ADS_1
"Maksud Bapak bagaimana?"
"Setelah digrebek, kita arak mereka keliling kampung, dengan begitu, mereka bisa jera."
Banyu sempat terperangah dengan apa yang menjadi rencana bapak ini. Namun tak selang lama ia menganggukkan kepala, menyetujui apa yang direncanakan. Ia berpikir diarak keliling kampung merupakan salah satu cara efektif untuk bisa membuat jera para pelaku perselingkuhan.
"Bagaimana Pak? Apakah yang lainnya setuju?" tanya Banyu meminta sebuah keputusan.
"Iya, kami setuju!" teriak mereka bersamaan.
"Baiklah Le, mari kita bersiap-siap. Kita gerebek rumah Ningrum!" ajak Prasojo yang nampak bersemangat.
"Tunggu sebentar Pak. Saya harus ke tempat seseorang terlebih dahulu!"
****
Lingga duduk termenung di depan cermin sembari menyisir rambut panjangnya. Ia menatap tiap sudut wajahnya dengan seksama. Ia merasa tidak ada yang aneh dengan wajah yang ia miliki namun entah mengapa wajah yang ia miliki ini tidak dapat menaklukkan hati sang suami.
"Ssshhhh .... haaahhh...."
"Apakah aku harus segera mengambil langkah dan keputusan? Keputusan untuk melepaskan mas Heru? Namun, alasan apa yang akan aku pakai untuk bisa terlepas darinya. Akhir-akhir ini, aku sering mendengar kabar bahwa mas Heru berselingkuh dengan mbak Ningrum, tapi aku belum mendapatkan bukti itu secara langsung. Apakah aku harus menyelidikinya diam-diam?"
Petok.. petok.. petok..
Kokk.. kokkk.. kokkk...
Petok.. petokk... petok...
Lingga tersadar dari pikirannya yang sedikit menerawang ketika tiba-tiba ia mendengar riuh suara ayam-ayam peliharaannya.
"Eh, kenapa ayam-ayam itu? Mengapa mereka berisik sekali? Apakah ada maling?"
Lingga beranjak dari posisi duduknya. Ia letakkan sisir yang ia pergunakan kemudian bergegas ke pekarangan belakang untuk melihat ayam-ayam peliharaannya.
__ADS_1
Terdengar lirih derap langkah kaki seseorang yang sepertinya sedang menuju pintu dapur. Lingga yang sedikit khawatir mencoba untuk mencari cara u untuk bisa melawan orang itu jika ternyata ia adalah seorang pencuri. Pandangannya mengedar ke arah sekitar. Ia pun menemukan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melawan pencuri itu.
"Ahaa... dengan benda ini, aku pasti bisa membuat kepala pencuri itu kliyengan. Lihat saja, Lingga kok dilawan!"
Lingga berdiri di balik pintu. Ia bersiap untuk memberi pelajaran seorang pencuri yang ia yakini berdiri di depan pintu ini.
Cekleekkkk...
Buggghhhhh!!!
"Dasar maling. Apa yang kamu lakukan? Kamu mau mencuri ayam-ayam ku?"
"Aaaawwwwhhh.... Lingga... Ini aku!!!"
Lingga terhenyak saat melihat lelaki dihadapannya ini memekik dan menundukkan wajah sembari memegangi kepala. Suara lelaki ini sungguh sangat familiar di telinganya. Setelah ia ingat-ingat.
"K-Kamu... Banyu?"
Lelaki itu menegakkan kepala. "Iya ini aku, bukan maling!"
"Oh astaga... Apa yang kamu lakukan malam-malam seperti ini Nyu?"
Tanpa basa-basi Banyu menarik lengan tangan Lingga dan segera pergi dari tempat ini.
"Ayo ikut aku!"
"K-kemana?"
"Menuju kebebasanmu dari belenggu lelaki tidak bertanggung jawab seperti Heru!!"
Hah... ini apa maksud ucapannya???!!!
.
__ADS_1
.
. bersambung..