Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 45. Mengajak


__ADS_3


Kicau burung terdengar merdu ketika mentari mulai menampakkan wajahnya. Menemani alam desa untuk bangkit dari kepulasan tidurnya. Udara segar pun menyapa, mengalir dari sela-sela pohon yang berpelukan. Basah butir-butir embun, menyegarkan daun-daun.


Pagi ini, Lingga masih berkutat di bawah selimut tebal. Tidak seperti biasa, hari ini wanita itu nampak bermalas-malasan. Tak ayal sedari tadi wanita itu belum juga mau beranjak dari tempatnya terbaring. Kedua kelopak matanya telah terbuka sebagai pertanda bahwa ia telah bangun dari tidurnya. Namun sedari tadi ia hanya memandangi langit-langit kamar dengan tatapan menerawang.


"Hah .... Tuhan, izinkan hari ini aku tidak berjualan. Rasa-rasanya tubuhku begitu tidak bersemangat."


Lingga bermonolog lirih sembari membuang napas sedikit kasar. Peristiwa penggrebekan sang mantan suami dengan kakak kandungnya sungguh sangat membuatnya lelah hati. Tidak pernah ia sangka sama sekali jika pernikahannya dengan Heru akan berakhir dengan cara seperti ini.


Hubungan terlarang antar ipar yang ia kira hanya ada di dunia novel semata, ternyata menimpanya juga. Sungguh, bagi Lingga masih sangat sulit untuk dipercaya. Sesekali Lingga menepuk-nepuk pipi, barangkali ini semua hanyalah mimpi semata. Namun tetap saja, ini adalah sebuah kenyataan yang harus ia terima dengan lapang dada.


"Selamat datang status janda," ucapnya pelan sembari membenamkan wajahnya di atas bantal.


Pletak... pletakkk.. pletakkk...


Suara lemparan batu yang mengenai jendela kayu sukses membuyarkan lamunan Lingga. Ia yang sebelumnya masih bergelung di bawah hangatnya selimut tebal mulai menggeser tubuhnya. Ia bangkit dari posisinya dan berjalan ke arah jendela kamar.


"Selamat pagi kekasihku!"

__ADS_1


Wajah yang tampan nan rupawan, dengan tatanan rambut basah menyambut Lingga pagi hari ini. Senyum manis pun tiada henti terlukis di bibirnya seakan menjadi sebuah isyarat rasa bahagia tiada terkira karena bisa berjumpa dengan sang pujaan.


"Ini masih pagi, Banyu! Mengapa kamu sudah bertandang ke rumahku!"


Meskipun sedikit risih dengan kedatangan pemuda ini yang selalu tiba-tiba namun Lingga merasakan semakin lama semakin terbiasa. Meski terkadang wajah yang ditampakkan olehnya nampak sedikit masam namun di dalam hati, wanita itu juga merasa kegirangan. (Hahahaha ceritanya kamu jaim ya Ling?)☺


"Justru karena masih pagi Sayang, aku ingin menjadi orang pertama yang kamu lihat di saat kamu membuka mata. Kalau saja aku kamu perbolehkan tinggal satu atap denganmu, pastinya aku tidak perlu susah-susah untuk berlarian menuju rumahmu," jawab Banyu sembari mengerlingkan sebelah matanya.


Lingga hanya menatap wajah pemuda ini dengan tatapan sinis. "Kalau bicara itu dipikir dulu. Bagaimana bisa kamu tidur satu atap denganku? Memang kamu siapa? Suamiku?"


Banyu menampakkan ekspresi wajah sedikit terkejut. "Kalau begitu ayo kita menikah. Dengan begitu aku akan menjadi suamimu dan kita bisa hidup bersama di bawah satu atap. Bagaimana? Kamu setuju?"


Pletak...


"Bercandaanmu itu sungguh sangat tidak lucu, Banyu!"


"Aku tidak bercanda, Lingga. Tidak ada yang salah bukan jika aku menikahimu? Kamu sudah bercerai dari Heru dan sekarang kamu adalah jamu gendong!" ucap Banyu dengan mimik meyakinkan.


Dahi Lingga berkerut dalam, sedikit kesusahan untuk mencerna perkataan pemuda ini. "Jamu gendong? Aku memang penjual jamu gendong. Lalu apa hubungannya?"

__ADS_1


Banyu terkekeh lirih. "Saat ini kamu adalah jamu gendong maksudnya itu janda muda gebetan brondong, hahahaha."


"Dasar!"


"Hahahaha .... Eh, lebih baik sekarang kamu bersiap-siap. Aku ingin mengajakmu ke rumah pak Pras."


"Ke rumah pak Pras? Memang ada acara apa di sana?"


"Pernikahan kita, Sayang!"


Lingga mendelik ke arah Banyu yang membuat Banyu tergelak lirih. Bagi Banyu sendiri katapun Lingga dalam keadaan mendelik seperti ini tetap saja terlihat cantik. Bola matanya yang lebar sungguh menjadi daya tarik tersendiri bagi seorang Lingga.


Banyu tergelak lirih. "Jangan mendelik seperti itu Sayang, aku justru bertambah cinta sama kamu kalau matamu melotot seperti itu!"


"Banyu!!!"


"Hahahaha iya Sayang, iya. Heru dan Ningrum akan diarak keliling kampung. Ini pasti akan menjadi tontonan menarik untukmu. Ayo kita segera ke sana!"


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2