Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 60. Tidak Mengingat


__ADS_3


Tubuh Banyu terperanjat saat dari kejauhan, ia mendengar namanya dipanggil dan tak selang lama orang-orang yang terlihat begitu asing di penglihatannya itu berhamburan ke dalam pelukannya. Tubuhnya hanya bisa membeku di saat orang-orang asing ini begitu erat menyekapnya.


"Banyu .... dari mana saja kamu Nak? Mengapa kamu tidak pernah pulang atau sekedar memberi kabar akan keberadaanmu? Mama benar-benar seperti orang gila karena menunggu kepulanganmu."


Kinanti menangis tergugu di dalam dekapan sang putra. Ia tumpahkan semua rasa rindu yang bersemayam di dalam dada melalui tetes-tetes air mata yang membasahi wajah. Setelah dua bulan berdiri di atas keraguan, akhirnya hari ini semua mendapatkan jawabannya.


"Tidak tahukah kamu sudah berapa lama kami mencarimu Nak? Sudah banyak yang kami korbankan untuk menemukan keberadaanmu. Bahkan kami hampir putus asa. Namun sekarang, semua terbayar di saat kami melihat bahwa keadaan kamu baik-baik saja."


"Dasar adik kurang ajar. Bisa-bisanya kamu mempermainkan kami semua. Kami ke sana kemari mencari keberadaanmu tapi kamu malah santai-santai seperti ini. Apa kamu ingin menyiksa keluargamu?"


Kini giliran Herlambang dan Pandu yang mengeluarkan uneg-uneg yang bercokol di dalam hati. Hilangnya Banyu benar-benar menjadi ujian terberat yang keluarga Herlambang rasakan. Sungguh bertahan di dalam ketidakpastian merupakan hal yang sangat melelahkan.


Banyu semakin mengernyitkan dahi. Ia benar-benar tidak mengenal orang-orang yang memeluknya ini. "Kalian siapa? Saya tidak mengenal kalian semua!"


"Setelah kamu menghilang tanpa kabar, sekarang kamu mengatakan bahwa kamu tidak mengenalku, papa, dan juga mama? Cukup Nyu, candamu ini sungguh tidak lucu!" sambung Pandu dengan nada sedikit kesal. Bisa-bisanya adiknya ini masih bercanda dalam situasi seperti ini.

__ADS_1


"Saya tidak bercanda. Saya benar-benar tidak mengenal kalian semua. Bahkan nama-nama Anda saja saya tidak tahu."


Herlambang, Kinanti dan Pandu melepaskan dekapan mereka dari tubuh Banyu. Seketika, mereka saling melempar pandangan dengan mimik wajah yang memancarkan tanda tanya besar.


"Maaf Bapak, Ibu, Banyu memang tidak mengingat karena saat ini ia masih belum bisa mengingat kejadian-kejadian yang telah berlalu. Bahkan dengan keluarganya sendiri pun ia tidak mengingatnya, Pak, Bu..."


Prasojo yang memperhatikan interaksi antara Banyu dengan keluarganya semakin paham bahwa pemuda ini hanya mengingat kejadian setelah ia tersesat dan dibawa oleh makhluk tak kasat mata saat itu. Lelaki paruh baya itu mencoba untuk memberikan pengertian.


"Apa? Maksud Bapak Banyu amnesia?" tanya Herlambang memastikan.


"Ya Tuhan!!" Kinanti memekik lirih sembari menutup mulutnya dengan telapak tangannya seakan tiada percaya. "Lalu sekarang kita harus bagaimana, Pa?"


Herlambang mengusap-usap punggung Kinanti, mencoba untuk menenangkannya sambil menyugesti bahwa semua akan baik-baik saja. "Tenang Ma. Papa yakin ingatan Banyu pasti bisa kembali seperti semula. Pelan-pelan ia pasti bisa mengingat semuanya."


"Mama harap juga seperti itu Pa. Kita baru saja bahagia karena dipertemukan dengan Banyu. Namun ternyata Tuhan masih menguji kesabaran kita dengan ingatan Banyu yang hilang."


Villia yang berdiri sedikit jauh dari tempat Banyu berada, juga merasakan kesedihan yang mendalam. Hatinya seakan tersayat sembilu saat mendengar bahwa sang kekasih tidak satupun mengingat anggota keluarganya. Namun ia tidak menyerah. Jika memang Banyu lupa kepada keluarganya, bisa jadi ia ingat kepadanya. Karena sejauh ini banyak kebersamaan yang terjalin di antara dirinya dengan Banyu.

__ADS_1


Villia berjalan mendekat ke arah Banyu. "Apakah denganku kamu juga lupa Nyu?"


Dahi Banyu mengernyit dengan mata yang menyipit. Ia seperti mengingat-ingat sesuatu. "Maaf, kamu siapa?"


"Aku Villia, Nyu. Kekasihmu sekaligus calon istrimu!"


Banyu sedikit terperanjat. Ia menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak, tidak, tidak. Kekasihku hanya Lingga seorang. Bukan yang lainnya!"


"Lingga? Lingga siapa Nyu? Kekasihmu Villia, bukan Lingga. Bahkan kita akan segera bertunangan dan kemudian menikah, Banyu!" ucap Villia sedikit berteriak. Berharap Banyu mengingatnya.


Prasojo hanya bisa tersenyum simpul. Ia mencoba untuk mendinginkan suasana ini. "Sabar ya Mbak. Lebih baik sekarang semua ikut dengan saya. Nanti akan saya ceritakan apa-apa saja yang menimpa Banyu selama ia saya temukan."


.


.


. bersambung...

__ADS_1


__ADS_2