
Detik demi detik berlalu. Menyisakan cerita dan kenangan masa lalu serta membuka lembaran-lembaran baru. Lembar yang telah usang patut untuk dijadikan pelajaran sedang lembar baru yang masih putih bersih pantas untuk dilukis dengan tinta-tinta kebaikan.
Byuurrr!!!
"Arrrggghhh ... Bang Pandu!!!"
Tubuh Banyu melonjak seketika kala dingin air kamar mandi mulai merembet masuk ke dalam pori-pori. Kesadarannya seakan ditarik paksa yang sebelumnya berada dalam buaian mimpi. Kini, ia terduduk sambil mengucek-ucek mata yang terasa masih sangat berat sekali.
"Mengapa kamu masih bersantai-santai seperti ini, Banyu? Apa kamu lupa sekarang ini hari apa?"
Banyu menanggapi santai pertanyaan yang dilontarkan oleh Pandu, bahkan ia masih sempat untuk menguap yang menjadi tanda bahwa ia masih didera oleh rasa kantuk yang begitu hebat. Kenyataannya, tubuh yang sudah basah karena disiram oleh Pandu tidak membuatnya cepat-cepat beranjak dari kamar ini.
"Sekarang hari Sabtu, Bang. Biasanya hari Sabtu seperti ini aku juga bangun siang."
"Ckckckck ... bangun siang? Kamu mau usahamu selama tiga setengah tahun ini sia-sia hanya karena bangun siang?"
"Kamu itu bicara apa sih Bang? Usaha tiga setengah tahun? Usaha apa? Aku ini masih pengangguran Bang!"
Mata Banyu masih terpejam, namun ia masih bisa menanggapi ucapan Pandu. Bahkan ia masih sempat menarik selimut sembari menyenderkan punggungnya di headboard ranjang.
__ADS_1
Pandu menggeleng-gelengkan kepala. Meski adiknya ini pernah amnesia, namun kenyataannya perkara bangun siang seperti ini tidak pernah ia lupa. Dan ini semua berbanding terbalik dengan kebiasaannya ketika berada di kediaman Prasojo. Saat di rumah lelaki paruh baya itu, adiknya ini tanpa dibangunkan pun pasti bangun pagi.
"Hari ini kamu wisuda, Banyu!!! Apa kamu mau usahamu selama tiga setengah tahun ini sia-sia hanya karena kamu bangun kesiangan, hah?"
"Apa? Aku wisuda?!" Banyu bangkit dari posisinya. Dan kini ia turun dari ranjang dan berdiri di hadapan Pandu. "Mengapa kamu tidak membangunkanku dari tadi sih Bang. Kalau seperti ini aku bisa telat!!"
Pandu terhenyak mendengar ucapan Banyu, bisa-bisanya adiknya ini menyalahkannya. "Lah, dari tadi aku ngapain kalau enggak bangunin kamu Nyu!!"
Dengan langkah kaki lebar Banyu melenggang pergi meninggalkan Pandu. Ia meraih handuk yang berada di belakang pintu dan gegas memasuki kamar mandi. Dengan jurus bebek, ia mandi secepat kilat agar tidak terlambat menghadiri acara wisuda.
***
Di sekitar gedung terlihat berpuluh-puluh penjual bunga yang telah berjejer rapi menjajakan barang dagangannya yang pastinya sangat identik dengan acara semacam ini. Bagi mereka, hari ini adalah salah satu peluang untuk bisa mendapatkan penghasilan yang jauh lebih banyak dari hari-hari biasa.
Area depan gedung seolah disulap menjadi lautan manusia, karena beratus-ratus orang terlihat berlalu lalang di sini. Mereka pastinya adalah sanak saudara dari para wisudawan dan wisudawati dan juga teman-teman dekat mereka.
Puas melakukan selebrasi bersama teman-temannya, Banyu memilih untuk duduk di bawah pohon rindang yang berada di sudut gedung. Ada kebahagiaan tersendiri yang ia rasakan di kala memakai pakaian toga seperti ini. Akhirnya, perjuangannya selama tiga setengah tahun ini terbayar dengan gelar S.Kom yang tersemat di belakang namanya.
"Jadi, setelah ini apa yang menjadi rencanamu Nyu?"
Pertanyaan sang papa sukses menggelitik pendengaran Banyu. Inilah salah satu keadaan yang membuat mahasiswa fresh graduate seperti ia ini merasa dilematis. Setelah lulus, ia justru bingung akan melakukan apa. Rasa-rasanya ia seperti menjadi penambah beban negara karena belum memiliki pekerjaan.
__ADS_1
"Banyu malah belum memiliki rencana apapun Pa."
"Bantu Papa di kantor saja bagaimana? Biar kamu dan abangmu tetap dalam pengawasan Papa. Dan bisa melanjutkan bisnis milik Papa."
Banyu hanya tersenyum kikuk. Ikut terlibat di perusahaan sang Papa yang bergerak di bidang properti sungguh tidak menarik sama sekali. Rasa-rasanya ia ingin pergi untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan passionnya.
"Banyu tidak tertarik Pa."
"Lalu, kamu mau bagaimana? Masa iya kamu menganggur? Rugi sekali kalau kamu sampai menganggur Nyu. Lebih baik ikut Papa saja."
Banyu hanya bisa membuang napas sedikit kasar. Saat ini ia teramat bingung dengan apa yang harus ia lakukan. "Pa, nanti Banyu pikirkan lagi ya. Sepertinya saat ini Banyu ingin berkunjung ke rumah pak Prasojo terlebih dahulu. Itung-itung bersilaturahmi sambil refreshing."
Herlambang hanya bisa berdecak pelan. Ia tahu benar bahwa putranya ini masih menyimpan rasa untuk salah satu wanita yang tingal di kaki gunung Slamet itu.
"Ingin bersilaturahmi atau ingin menemui wanita penjual jamu gendong itu?"
.
.
. bersambung...
__ADS_1