Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 124. Jamu Gendong -END-


__ADS_3


Tanpa membuang banyak waktu, Banyu mulai membuka paha sang istri dan kini terpampang jelas sebuah serabi lempit yang terlihat begitu menggoda dan legit. Diaarahkannya benda pusaka yang disebut sebagai sosis jumbo itu ke permukaan serabi dan perlahan, ia gesekkan.


"Aaahhhh... Sayang... Ini nikmat sekali!"


Baru saja Banyu menggesekkan sosis jumbo miliknya, namun rasanya sudah begitu nikmat seperti ini. Bagaimana nanti jika sosis itu berhasil melesak masuk ke dalam serabi lempit yang terasa begitu legit ini. Ahhhhh pastinya akan semakin nikmat.


Banyu merasakan serabi milik Lingga sudah basah dengan cairan alami yang diproduksi oleh tubuhnya. Hal itu menandakan jika Lingga sudah siap untuk menerima segala kenikmatan dan kepuasan yang akan di berikan oleh Banyu.


Banyu kembali memagut bibir Lingga, bermaksud untuk mengalihkan segala rasa sakit yang mungkin akan dirasakan oleh istrinya ini. Sembari ia arahkan miliknya untuk menekan serabi lempit itu.


"Aaaaaahhh... Mas.... Sakit!!"


Baru seperempat jalan milik Banyu mencoba untuk membuka segel milik Lingga, namun wanita itu sudah kesakitan. Banyu tersenyum simpul, sembari ia kecup lagi bibir Lingga dengan intens.


"Untuk pertama memang sakit Sayang. Namun percayalah, setelah rasa sakit itu akan berganti menjadi rasa nikmat yang begitu luar biasa. Dan jika kamu merasa sakit, kamu boleh menggigit pundakku ini."


Lingga mengangguk pelan. Banyu kembali melanjutkan perjalananya, dan....


"Aaahhhh... Sayang... Ini sempit sekali!"


"Mas....Sakit... Aaahhhhh..."


Banyu melihat wajah Lingga nampak menahan rasa sakit atas ganasnya sosis jumbo milik Banyu. Ada rasa kasihan yang bergelayut manja dalam hati lelaki itu ketika memaksakan kehendaknya ini, tapi mau bagaimana lagi? Ia benar-benar sudah tidak bisa untuk menahannya.


"Tahan sebentar Sayang... Aku janji setelah ini hanya akan ada rasa nikmat tiada terkira."

__ADS_1


Banyu kembali menekan miliknya kuat-kuat sembari mencium bibir tipis Lingga, dan....


"Aaaaaahhh....."


"Aaaaaaa...."


Lenguhan itu sama-sama keluar dari bibir keduanya. Banyu melenguh karena merasakan nikmat setelah berhasil merobek hymen milik Linngga. Sedangkan Lingga berteriak karena mungkin merasa kesakitan.


Banyu menghentikan sejenak aktivitasnya dan membiarkan miliknya terbenam sempurna di dalam liang surgawi milik Lingga. Kembali ia tatap lekat wajah sang istri yang sudah berderai air mata, menahan rasa sakitnya.


"Maafkan aku Sayang... Apakah kita hentikan saja?"


Melihat Lingga meneteskan air mata karena menahan sakit, Banyu seakan merasa tidak sampai hati untuk melanjutkan pergumulan ini. Meskipun ia sudah tidak tahan untuk bisa merasakan apa itu orgasme, namun melihat wajah Lingga yang berusaha menahan rasa sakitnya ini sungguh membuatnya tidak tega.


Lingga menggeleng. "Tidak Mas. Lanjutkan!"


"T-tapi kamu terlihat sangat kesakitan Sayang?"


Ahhhhh... Mendengar Lingga merespon dengan ucapan seperti itu, jiwa Banyu yang gersang dan kering kerontang seperti disiram oleh air hujan yang terasa begitu menyegarkan dan menyejukkan.


Kembali Banyu pagut bibir Lingga. "Aku berjanji akan melakukannya dengan lembut Sayang!"


"Lakukanlah Mas!"


Tanpa membuang banyak waktu Banyu mulai memacu tubuhnya di atas tubuh Lingga. Ia mencoba menggunakan ritme gerakan perlahan, namun sumpah demi apa, sensasi rasa nikmat yang dihadirkan oleh liang surgawi milik Lingga ini seakan mendorongnya untuk mempercepat ritme pacuannya.


"Ssshhhhh...."

__ADS_1


"Eeemmmphhhh...."


"Aaaahhhhh.... Oouuhhhh... Hemmmpphh.."


*******, lenguhan seakan menggema di dalam kamar ini. Beruntung kamar resort yang mereka tempati ini kedap suara. Jika tidak, pastinya akan menjadi sumber perhatian orang-orang di luar sana, atau mungkin orang-orang yang berada di kamar sebelah.


Mereka hanyut dalam lautan hasrat yang begitu menggelora diiringi dengan deru nafas yang menggebu layaknya ombak pantai yang bergulung-gulung di luar sana. Banyu semakin mempercepat ritme pacuannya tatkala ia rasakan nikmatnya denyutan-denyutan dari otot-otot serabi lempit milik Lingga. Miliknya benar-benar terasa dijepit dan digilas hebat oleh otot-otot milik Lingga yang tidak ada menyisakan rasa lain kecuali rasa nikmat.


"Ohhhhh Sayang... Milikmu sungguh nikmat. Aku sudah tidak tahan Sayang.."


Banyu merancau sembari memacu tubuh Lingga. De*sahan demi de*sahan semakin terdengar mengiringi tubuh keduanya yang saling berpacu. Pada akhirnya .....


"Aaaarrrgggghhhh Sayang.....!!!"


Tubuh Banyu menggelinjang dan bergetar hebat. Lenguhan panjang yang keluar dari bibirnya menjadi akhir dari pergulatannya bersama Lingga di malam hari ini. Otot-otot milik lembah surgawi Lingga semakin erat menjepit sosis jumbo milik Banyu dan hanya menyisakan rasa nikmat yang luar biasa hebat. Caramel hangat dari dalam tubuh Banyu pun mulai meledak, membanjiri serabi lempit itu.


Banyu mendekap tubuh Lingga dengan erat, sembari ia berikan kecupan-kecupan penuh cinta di bibirnya. Tubuhnya tiba-tiba melemas dan masih berada dalam posisi menindih Lingga. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa wanita cantik yang menjadi malaikat penolongnya inilah yang menjadi dermaga terakhirnya.


"Terimakasih istriku... Terimakasih... Aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku."


Lingga juga turut tersenyum bahagia. Ia membelai lembut wajah tampan milik suaminya ini dengan penuh cinta. "Aku juga berterima kasih kepadamu Mas..."


"Untuk apa Sayang?"


"Karena kehadiranmu lah, cerita Jamu Gendong ini berakhir dengan indah. Terima kasih Mas... Terima kasih."


.

__ADS_1


.


. T A M A T


__ADS_2