
"Banyu!!"
Selly terkejut setengah mati ketika melihat wajah sahabatnya yang terlihat kacau balau. Entah apa yang sedang dialami oleh sahabatnya ini yang membuatnya seperti seseorang yang tengah frustrasi.
"Benar-benar ja*lang. Tak kusangka dia tega melakukan hal itu di belakangku!"
Belum terjawab beberapa pertanyaan yang berseliweran di kepala, Selly semakin dibuat bertanya-tanya dengan ucapan yang terlontar di bibir Banyu. Pemuda ini mengucapkan kata ja*lang yang entah siapa maksudnya.
"Ja*lang? Maksudmu siapa Nyu?"
Banyu mendaratkan bokongnya di bangku taman yang terbuat dari beton yang berada di taman kampus. Napas pemuda ini nampak terputus-putus seperti menandakan seseorang yang tengah menahan amarah. Buru-buru, ia menarik napas panjang dan ia buang dengan kasar.
"Ternyata kecurigaanmu benar, Sel!"
"Kecurigaan? Kecurigaan perihal apa Nyu?"
"Villia berselingkuh dengan anak jurusan Manajemen, sama persis dengan apa yang kamu lihat beberapa minggu yang lalu. Sejak saat itu, aku sengaja membuntuti Villia diam-diam, dan hari ini aku melihat mereka bercinta di kos belakang."
Meskipun ada rasa iba yang menggelayuti hati Selly, namun ia tetap tersenyum penuh syukur karena setidaknya Banyu sudah mengetahui sebelum mereka melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Padahal sebelum wisuda, mereka berencana akan bertunangan namun kenyataannya seperti ini. Miris memang. Namun mau bagaimana lagi. Ini semua sudah merupakan perjalanan asmara Banyu.
"Kamu tidak menangis?" Sambil terkekeh pelan, Selly menanyakan hal yang mungkin terdengar sangat konyol. Bisa-bisanya ia menanyakan hal itu. Namun Selly benar-benar penasaran, mengapa sahabatnya ini sama sekali tidak meneteskan air mata. Padahal sejauh yang ia tahu, Banyu begitu mencintai Villia.
"Wanita seperti itu tidak pantas untuk aku tangisi. Terlalu berharga air mataku ini jika aku jatuhkan untuk wanita ja*lang seperti itu. Seharusnya aku tadi menyeretnya keluar kamar agar bisa menjadi bahan tontonan geratis untuk semua yang berlalu lalang di dekat kos-kosan."
Tatapan Banyu nampak nyalang ke depan. Meski bahasa tubuh lelaki ini menampakkan bahwa ia baik-baik saja namun sinyal kekecewaan itu terpancar jelas di raut wajah Banyu. Beruntung, lelaki ini tidak melakukan sesuatu yang berada di luar nalar ataupun di luar kendali.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang apa yang ingin kamu lakukan untuk bisa melupakan semua penghianatan yang telah dilakukan oleh Villia Nyu? Apakah aku perlu mencarikanmu perempuan lain yang bisa menyembuhkan lukamu? Atau apa?"
Sembari terkekeh lirih, Selly menawarkan sesuatu yang mungkin sangat konyol. Namun seperti inilah salah satu cara yang ia lakukan untuk menghibur sang sahabat yang tengah berduka.
Banyu menggelengkan kepala. "Tidak Sel. Aku tidak ingin cepat-cepat mencari pengganti Villia."
"Lalu, kamu mau apa Nyu?"
Sorot mata Banyu yang sebelumnya menatap lurus ke depan, kini ia geser ke arah Selly yang berada di sampingnya. "Aku ingin muncak Sel."
"Muncak? Maksudmu mendaki gunung?" Selly bertanya dengan kernyitan di keningnya.
"Iya Sel, aku ingin naik gunung. Kamu mau kan menemaniku?"
Selly nampak berpikir sejenak. Meskipun ia pernah mendaki namun ia tidak bisa jika mendaki tanpa didampingi oleh seniornya. Ia pun memutar otak untuk bisa keluar dari permasalahan ini.
"Ah iya, aku ingat. Kita bisa mengajak Aldo dan juga Anggi, Nyu. Mereka merupakan anak Mapala yang sering melakukan pendakian."
****
"Aaaarrrgggghhhh...."
"Banyu!!!"
Banyu memekik kesakitan sambil memegangi kepalanya. Hal itulah yang membuat Selly panik tiada terkira. Buru-buru ia meminta air hangat kepada mang Asep dan meminta Banyu untuk meminumnya.
"Ada apa Nyu??" tanya Selly sambil menerima kembali gelas yang digunakan oleh Banyu. Wanita itu segera kembali ke tempat duduk semula.
__ADS_1
Banyu mencoba untuk mengatur napasnya. Mendengar semua hal yang diceritakan oleh Selly seakan membuat semua memory otaknya kembali seperti semula. Kejadian demi kejadian yang telah lewat, nampak begitu jelas menari-nari di pikirannya.
"Aku mengingatnya Sel. Aku mengingat semua. Ternyata aku sudah tidak terlibat perasaan dengan wanita itu. Ternyata aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengannya."
"Ya, karena memang kenyataannya seperti itu, Nyu. Kamu bukan lagi kekasih Villia. Maka dari itu aku heran kenapa Villia bisa mengaku-aku sebagai kekasihmu? Ternyata kamu sempat hilang ingatan."
"Dan papa mamaku belum mengetahui akan hal itu karena aku berencana akan memberitahu mereka setelah mendaki?"
"Ya, seperti itulah ceritanya."
"Benar-benar hebat cara wanita itu mengelabuhi orang tuaku. Ia masih menggunakan statusnya sebagai kekasih padahal sudah aku putuskan."
Selly yang tengah mendengar dengan saksama perkataan Banyu, tiba-tiba dibuyarkan oleh dering ponsel yang melengking. Gegas, ia mengangkat panggilan telepon itu. Terlihat nama Anggi muncul di layar ponsel.
"Hallo Nggi, ada apa?"
"...."
"Aldo? Aldo kenapa Nggi?"
"...."
"Apa? Aldo kritis?"
.
.
__ADS_1
. bersambung...
Hallo kakak-kakak tersayang ... apa kabar semua? semoga selalu sehat ya... Mohon maaf jika saya jarang membalas komentar kakak-kakak semua ya, hihihi sedang sibuk di RL... 🥰🥰🥰🥰