
"Ya ampun Pa .... ternyata calon menantu kita ini cantik sekali. Banyu benar-benar tidak salah pilih Pa!"
Kinanti, wanita paruh baya yang baru saja tiba dari Jakarta itu tiada henti menatap intens rupa wanita yang berdiri di hadapannya untuk menyambut kedatangannya ini. Dari wajah Kinanti terpancar jelas binar-binar ketakjuban akan sosok wanita yang nampak begitu cantik ini. Meskipun dulu ia sempat dipertemukan dengan Lingga, entah mengapa kali ini ia baru menyadari bahwa sosok Lingga memanglah sosok wanita yang sangat cantik sekali.
"Jelas calon istri Banyu sangat cantik Ma, selera dia hampir sama dengan Papa."
Lingga yang dijadikan bahan pujian hanya bisa tersipu malu. Kepalanya menunduk seperti seseorang yang kehilangan uang recehan.
"Tante terlalu berlebihan. Saya hanya biasa-biasa saja Tan!"
Kinanti memegang pundak Lingga. "Hei, hei, hei!" ucapnya sembari mengangkat dagu sang calon menantu. Sontak membuat wajah Lingga mendongak ke arah wajah Kinanti.
"Jangan panggil aku Tante, Sayang. Panggil aku Mama. Bagaimanapun juga sebentar lagi kamu akan menjadi istri Banyu dan otomatis akan menjadi anak Mama juga. Jadi jangan panggil Tante, oke?"
Hati Lingga menghangat seketika. Ia tidak pernah menyangka bahwa keberadaannya akan disambut dengan penuh kehangatan seperti ini. Padahal dulu saat ia dipertemukan dengan orang tua Banyu, ia menganggap kedua orang tua Banyu merupakan orang tua yang memiliki sifat keras hati, tapi kenyataannya itu semua salah besar.
__ADS_1
"Baik Tan .... eh, Mama!"
"Nah begitu, itu terdengar jauh lebih baik Sayang." Kinanti celingak-celinguk seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu. "Lalu Banyu di mana Sayang?"
"Sejak tadi Banyu belum kemari Ma. Entah, Lingga juga tidak tahu. Biasanya jam segini ia sudah ada di sini. Tapi hari ini Lingga tidak tahu ke mana."
"Cckkkckkk .... Mama ini apa belum tahu?" timpal Herlambang yang justru membuat Kinanti penasaran.
"Tahu apa Pa? Banyu tidak mengatakan apapun kepada Mama."
"Survei tempat? Memang acara pernikahan saya dan juga Banyu akan diadakan kapan Pa?"
"Minggu depan, Lingga. Minggu depan kalian akan menikah."
"Apa Pa, secepat itu? Apa mungkin dalam waktu satu minggu semua persiapannya dapat diselesaikan?"
Lingga sungguh tidak mengerti dengan apa yang direncanakan oleh Banyu. Yang ia tahu, persiapan untuk menikah itu memerlukan waktu yang cukup lama, minimal tiga bulan. Ini mengapa hanya satu minggu? Ia sampai berpikir, ini dia akan menikah atau hanya main-main?
__ADS_1
"Hahahaha!" tawa Herlambang terdengar membahana. "Nak, ini hanya cerita halunya si penulis. Jangankan satu minggu ke depan, nanti malam pun juga bisa, Nak. Jadi suka-suka dia saja lah ya. Lagipula mumpung mbak Rasti lagi baik hati nih. Dia mau menyediakan lemper satu gerobak untuk menjamu tamu-tamu kita nanti. Hahahaha!"
"Wah, wah, wah ... sepertinya akan jadi acara pernikahan paling hits di sepanjang novel bikinan mbak Rasti ini Pa," ucap Kinanti dengan pandangan mata yang menerawang.
"Itu sudah jelas Ma ... Apa Mama dan Lingga ingin tahu bagaimana konsep resepsi yang sudah Banyu rencanakan?"
Lingga dan Kinanti mengangguk bersamaan. "Jelas dong Pa..."
"Kita lihat besok ya!"
.
.
. bersambung...
Part2 menuju ending ya Kak... Hehehehe... InsyaAllah 10 bab lagi, Jamu-Gendong akan tiba di part akhir โบโบโบ Oh iya, di part akhir nanti, akan saya pilih 3 pembaca untuk mendapatkan give away. Pastinya pembaca yang memberikan kontribusi terbanyak di tulisan ini๐๐๐
__ADS_1