
Lingga dan Banyu keluar ruangan acara lamaran, bersisihan dan saling bergandengan tangan. Jemari tangan keduanya saling bertautan, saling menggenggam dengan erat seakan tidak ingin terlepas. Senyum yang terbit di bibir keduanya pun seakan ikut menunjukkan kepada dunia bahwa mereka tengah berbahagia.
Banyu menghentikan langkah kakinya saat tiba di depan restoran. Sejatinya sejak pembicaraannya perihal Sapto dan Ambar, pemuda itu semakin bersemangat untuk menyomblangi keduanya. Entahlah, mungkin karena rasa ingin balas budinya kepada Sapto sehingga membuat Banyu cepat-cepat melancarkan upaya ini.
"Nyu, ada apa? Kok berhenti?" heran Lingga ketika calon suaminya ini tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.
"Sayang.... bagaimana kalau kita langsung mengeksekusi rencana yang telah kita susun? Nyomblangin Sapto dengan Ambar?"
Lingga terlihat sedikit berpikir. Ia rasa tidak terlalu buruk ide yang disampaikan oleh Banyu. Bukankah sesuatu yang baik itu harus disegerakan?
"Aku setuju Nyu. Kalau begitu mari kita cari mereka."
Keduanya kembali melangkah menyusuri pelataran depan restoran ini. Mereka celingak-celinguk mencari keberadaan Sapto, yang entah mengapa saat ini sungguh sangat sulit untuk ditemukan.
"Ini Sapto kemana, lagi? Perasaan sebelumnya lelaki itu berseliweran di sini, tapi ini kenapa jadi sulit sekali ditemui?"
"Ambar juga begitu Nyu. Padahal ia tadi hampir selalu berada di sekitar sini, tapi kok jadi seperti hilang ditelan oleh bumi ya?"
Sepasang kekasih itu masih mengedarkan pandangan masing-masing ke arah sekitar. Hingga pada akhirnya pandangan mereka saling beradu dan sama-sama tersenyum lebar saat melihat sepasang manusia yang sedang duduk di bagian samping restoran di mana ada sebuah kolam di sana. Keduanya pun bergegas untuk menghampiri sepasang manusia itu.
"Ambar, mas Sapto!" pekik Lingga.
__ADS_1
Kedua netra Lingga membulat penuh saat melihat dua orang yang tengah duduk di sebuah bangku taman ini saling bermesraan. Keduanya duduk bersisihan dengan kepala Ambar yang diletakkan di atas pundak Sapto. Dan yang lebih mencengangkan lagi, kedua telapak tangan mereka saling menggenggam erat seakan tidak ingin terlepas lagi.
Sapto dan Ambar terkesiap. Mereka pun bergegas mengambil posisi tegak. Dan seketika suasana menjadi kikuk.
"Lingga!" lirih Ambar sembari membenahi tatanan rambutnya. Wanita itu menundukkan kepala seakan menghindar dari tatapan mata Lingga.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
Kini giliran Banyu yang bertanya. Ia melihat gelagat tidak biasa yang muncul dari aura Sapto dan Ambar ini. Sepasang manusia ini terlihat malu-malu untuk mengutarakan apa yang terjadi. Sapto yang mendengar pertanyaan Banyu hanya nyengir kuda sambil menggaruk ujung hidungnya yang tiada gatal.
"Hehehehe ... itu anu Nyu. Aku ...."
Kedua bola mata Banyu terbelalak saat menyadari akan satu hal. "Hah ... jangan-jangan kalian....?"
Sapto meraih jemari tangan Ambar. Memberikan sebuah isyarat agar calon istrinya ini memperlihatkan cincin emas putih yang melingkar di jarinya ke arah Banyu dan juga Lingga.
"Lihatlah, sebentar lagi kami pun juga akan segera menikah!"
"Ya Tuhan ...," pekik Lingga dan Banyu bersamaan sembari menutup kedua mulut mereka dengan telapak tangan masing-masing.
Sapto mengernyitkan dahi. "Kok ekspresi wajah kalian seperti itu? Bukankah seharusnya kalian turut berbahagia karena melihat kami juga berbahagia?"
Banyu membuang napas sedikit kasar. "Bagaimana aku dan Lingga tidak terkejut? Karena rencana kami ternyata sia-sia."
__ADS_1
"Rencana? Rencana untuk apa Nyu?"
"Rencana untuk menyomblangi kamu sama Ambar, Sapto!"
Sapto hanya tergelak. "Hahahaha terlambat kamu Nyu. Dalam perkara seperti ini, aku pun juga tidak lola-lola amat. Aku harus bisa bergerak cepat, karena umurku semakin hari juga semakin bertambah tua. Rasanya akan sangat menyedihkan jika aku sampai melewati masa-masa tuaku dalam kesendirian. Dan yang lebih mengenaskan lagi jika sampai aku mati dalam keadaan melajang dan sama sekali belum pernah merasakan apa itu surga dunia!"
Banyu semakin dibuat terperangah tiada percaya. Perjaka tua yang ia anggap begitu polos ternyata punya otak me*sum juga.
"Dasar Sapto..... Sapto!"
.
.
bersambung...
Mohon maaf ya kak, baru sempat update. Sedang disibukkan dengan urusan RL ☺☺☺
Oh iya, numpang promosi ya Kak... Alhamdulillah ini ada buku terbit saya yang pertama. Judulnya Lentera Cinta untuk Raina. Monggo, yang mau beli, bisa didapatkan di beberapa marketplace ya kak... di Shopee, Tokopedia, Bukalapak, guepediastore.
Dan bisa juga pesan lewat saya sendiri dan dapatkan diskon 15%☺☺☺☺
__ADS_1