
Sapto berjalan mendekat ke arah Banyu yang tengah berada di sebuah dermaga kecil yang menjorok ke lautan. Lelaki itu menepuk pundak Banyu yang seketika membuat Banyu yang tengah larut dalam pikirannya itu terperanjat seketika.
"Tidak perlu dipikirkan. Semuanya akan berjalan dengan natural kok. Jadi kamu tidak perlu memeras otak untuk mencari cara."
Banyu terperangah dengan dua bola mata yang menyipit. "Maksud kamu apa Sap? Apa yang kamu bicarakan?"
"Hahahaha ... jangan sok polos kamu Nyu." Sapto merapatkan tubuhnya ke arah Banyu. "Kamu pasti sedang mencari teknik untuk malam pertama kan?"
Kedua bola mata yang sebelumnya menyipit, kini membulat sempurna. Buru-buru Banyu layangkan sebuah pukulan di perut Sapto hingga membuat lelaki itu meringis kesakitan.
"Dasar otak me*sum kamu Sap. Ini nih, akibat sampai berumur tiga puluh lima tahun jadi perjaka tua. Otakmu jadi gesrek dan me*sum. Ternyata lelaki klimis dan culun memiliki otak mes*um seperti ini!"
"Hahahahahaha, seharusnya kamu bersyukur dengan penampilanku yang culun dan klimis itu Nyu. Karena seandainya aku tampakkan wujud asliku saat pertama masuk scene cerita, aku jamin para pembaca akan langsung terpesona denganku. Dan membuatmu keberadaanmu tersisih."
"Ckkkckkkk ... kamu ini ngeles aja bisanya!"
"Itu fakta Nyu!"
Banyu hanya acuh tak acuh. Ia kembali menatap ombak yang bergulung di lautan yang memecah batu karang. Dari batu karang itu ia belajar. Sekuat apapun ombak kehidupan yang datang, akan ia hadapi dengan tegar.
"Banyu ... Sapto .... kalian kenapa malah ada di sini? Ayo siap-siap. Tamu kehormatan kita akan segera sampai!"
Suara bariton milik Pandu yang menggelegar, membuat perhatian Banyu dan Sapto sedikit terusik. Mereka menoleh ke arah sumber suara.
"Benarkah Bang? Lalu, sampai di mana mereka?"
Pandu mengarahkan jari telunjuknya ke arah atas. "Itu mereka. Sebentar lagi mereka akan mendarat di tepian pantai. Di dekat tempat resepsi pernikahan kalian."
Banyu dan Sapto sama-sama mendongakkan kepala. Betapa terkejutnya ia melihat kumpulan balon udara beraneka warna yang menghiasi langit tepian pantai Krakal ini.
"Opo kih????" pekik Sapto terkejut.
"Keren bukan? Para pembaca cerita kalian memang keren-keren. Buktinya mereka bisa mempersiapkan kejutan untuk kalian se-keren ini. Ini eksklusif loh dan hanya ada di nupel mbak Rasti," jelas Pandu sekaligus promosi 😂😂😂
"Gila ..... ini benar-benar keren. Ayo kita segera ke sana Kak!"
Tanpa basa-basi, Banyu, Sapto dan Pandu berlarian menuju tempat resepsi. Pastinya untuk menyambut kedatangan para tamu istimewa."
"Sayang ... Sayang!!!" teriak Banyu di hadapan Lingga dengan napas yang sedikit ngos-ngosan.
__ADS_1
"Ada apa Mas (ceillleee, udah panggil Mas ajja tuh si Lingga kepada suaminya🤣)? Kenapa kamu berlarian seperti itu?"
"Lihatlah ke atas Sayang. Lihat!"
Kepala Lingga mendongak dan betapa terkejutnya ia saat melihat para wanita cantik dan pria-pria tampan yang melambaikan tangan mereka ke arahnya.
"Lingga .... Banyu .... Selamat menikah. Bahagia selalu untuk kalian!!!"
Terdengar riuh suara para tamu istimewa membahana, memenuhi atmosfer.
"Mas .... itu?"
Banyu menganggukkan kepala. "Benar Sayang, mereka adalah tamu istimewa kita. Dan apakah kamu setuju bahwa kejutan dari Kakak-kakak kece ini sungguh luar biasa?"
Lingga menganggukkan kepala dengan wajah yang dipenuhi oleh binar-binar bahagia. "Sumpah, ini keren sekali Mas. Aku serasa berada di Cappadocia. It's my dream Mas, it's my dream!!"
"Hahahaha .... ucapan kamu ini persis Kinan yang ada di nupel Layangan Putus, Sayang!"
"Ummmmm... tidak masalah Mas, asalkan kamu jangan seperti Mas Aris yang hobi selingkuh!"
"Tenang Sayang. Aku tidak akan selingkuh!"
"Ya kalau selingkuh tinggal aku sunat lagi kamu!"
****
"Terima kasih atas kedatangannya Kakak-kakak semua. Mari silakan dinikmati semua hidangan yang ada di sini!" ucap Lingga mempersilakan para tamu istimewa setelah bersalaman mengucapkan selamat.
"Waahhhh ... pas sekali itu Ling .... perut kita juga sudah perih karena tadi cuma makan lemper. Bahkan sampai mabok lemper," seloroh Andika menyetujui usulan Lingga.
"Ya sudah, silakan dinikmati semua sajian yang ada, Kak. Aku juga sudah sudah siapkan gudeg kaleng, sambel krecek, yang bisa bertahan sampai satu bulan ke depan dan bisa di bawa pulang ke rumah masing-masing," sambung Banyu.
"Waahhh .... rezeki nomplok itu Nyu. Oke lah, nanti aku bawa pulang. Terus untuk souvenirnya, kamu berikan apa untuk kami?"
"Tenang Kak Andik." Banyu merogoh saku celana yang ia pakai dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. "Taraaaa ... ini souvenir di hari pernikahanku dan Lingga, Kak."
Sesuatu yang berada di dalam kotak kaca membuat dahi Andika mengernyit. Ia tataplekat benda yang diberikan oleh Banyu ini. "Ini apa Nyu?"
Banyu terkekeh pelan. "Ini adalah gigi ikan piranha yang dilapisi oleh emas dua puluh empat karat, Kak."
"Apa? Gigi ikan piranha? Gak sekalian gigi buaya Nyu?" protes Andika yang sedikit gemas karena souvenir gigi ikan piranha seperti ini.
__ADS_1
"Buaya adanya di rawa Kak, jadi yang ada hanya ikan piranha."
Andika hanya menatap datar ketika melihat wujud souvenir ini. Namun sejenak kemudian, senyum simpul terbit di bibirnya.
Mau gigi ikan piranha, ikan hiu, ikan paus atau buaya terserah saja lah. Yang jelas ini souvenir dilapisi oleh emas dua puluh empat karat. Lumayan, kalau pas lagi kepepet, ini gigi bisa aku jual. Ya, buat tambah-tambah. Hahahaha.
"Okelah kalau begitu Nyu."
"Eitss ... eiittsss tunggu!!!" teriak Novi Aryani.
"Kenapa Nov?"
"Sebelum kita makan, ayo kita ajak Banyu dan Lingga untuk melihat kado spesial dari kita dulu Bang. Pokoknya pengantin baru ini harus menghabiskannya tanpa sisa." Novi menarik lengan tangan Banyu. "Ayo Nyu, ikut kami!"
Banyu dan Lingga dipandu untuk menuju ke arah bibir pantai. Di sana sudah berjajar dua buah mobil pickup yang dihias dengan beraneka rupa.
"Nah, Banyu ... Lingga ... ini adalah kado spesial dari pembaca untuk pernikahan kalian. Semoga dengan ini, kalian bisa melaksanakan ritual malam pertama dengan penuh gairah."
"I-ini apa kak Nov?" tanya Banyu dan Lingga bersamaan.
"Oke semua, ayo kita buka sama-sama. Satu .... dua .... tigaaaa!!!!"
Yeeeaaaaayyyyyyy!!!!!!
Banyu dan Lingga terkejut setengah mati di kala melihat tujuh ekor kambing guling dengan aroma nikmat yang sudah menguar memenuhi indera penciuman.
"Mabuk kambing kita Yank!!!"
"Hahahaha!"
Sedangkan di salah satu sudut tempat, terlihat Ningrum menekuk wajahnya. Sedari tadi wanita yang tengah hamil itu mengerucutkan bibirnya dan uring-uringan sendiri. Heru, sang suami sampai kebingungan bagaimana caranya untuk membujuk sang istri agar tidak cemberut lagi.
"Pokoknya aku mau setelah sampai di kampung nanti, kita mengadakan acara pernikahan yang lebih mewah dari ini Mas. Masa, aku bisa kalah dari Lingga? Aku tidak terima Mas!"
Heru hanya bisa mengangguk pasrah. "Baiklah Ning, akan aku turuti permintaanmu. Aku pastikan acara kita jauh lebih meriah dan mewah daripada ini."
"Itu harus Mas. Awas saja kalau tidak bisa lebih mewah dari ini."
Tak selang lama, wanita itu melenggang pergi meninggalkan tempat ini. Rupa-rupanya sedari tadi ia bad mood karena tidak mengadakan acara pernikahan yang mewah seperti milik adiknya ini. 🤣🤣🤣🤣
.
__ADS_1
.
.bersambung...