
Pukul setengah tujuh malam, keramaian terlihat di sepanjang jalanan ibu kota. Kelap-kelip lampu kendaraan menghiasi jalanan, sesekali terdengar bunyi klakson bersahutan dari beberapa kendaraan yang melintas seolah menambah keramaian suasana malam hari ini.
Mobil tipe SUV berwarna putih melaju membelah jalanan. Setelah tiga jam menunggu seorang wanita yang sibuk berdandan, pada akhirnya Banyu tiba juga di sebuah restaurant di mana akan menjadi tempat dinner bersama keluarga. Gegara Villia yang begitu lama berkutat di depan kaca pada akhirnya, ia memilih untuk membasuh wajah saja untuk membuat kesan sedikit lebih segar.
"Sayang, kamu beneran tidak mandi?" tanya Villia sembari men-touch up lipstik di bibir tipisnya. Seketika, bibir wanita itu nampak merah membara.
"Pantaskah kamu menanyakan hal itu setelah tiga jam aku menunggumu berdandan?"
Banyu menjawab dengan ketus tanpa sedikitpun menoleh ke arah Villia. Serbuk rasa kesal dipadu dengan didihan rasa dongkol seakan menguasai panci kesabarannya. Membuat uap-uap amarah mengepul di atas ubun-ubunnya.
"Ya mau gimana lagi Sayang? Aku benar-benar ingin tampil sempurna di depan keluargamu. Maka dari itu aku membutuhkan waktu tiga jam untuk bisa menyelesaikannya."
Setelah men-touch up lipstik, kini wanita itu juga men-touch up bedak di area wajahnya. Khawatir make-up yang ia pakai luntur terkena keringat, maka dari itu ia sibuk me-retouch makeup di tiap sudut wajahnya.
"Ckckckck... gak bertambah cantik yang ada justru seperti ondel-ondel di Monas!" timpal Banyu dengan kesal. Ia lepas safety belt yang ia kenakan dan keluar dari dalam mobil.
Villia sedikit terperanngah saat melihat Banyu sudah melangkahkan kakinya dan hampir sampai ke area dalam restaurant ini. "Eh, eh, eh, Sayang .... tunggu aku!!!"
Dengan gerak cepat, Villia memasukkan kembali peralatan makeup nya ke dalam sebuah pouch warna pink. Gegas, ia turun dari mobil dan menyusul Banyu.
Tak... tak... tak....
Suara heels yang beradu dengan lantai yang dilapisi oleh marmer terdengar memekak telinga. Setelah bersusah payah mengejar sang pujaan, pada akhirnya si pemilik heels itu bisa menyamakan langkahnya.
"Lepas, Vi! Kamu bisa berjalan sendiri tanpa menggamit lengan tanganku, bukan?" ujar Banyu sembari menghempaskan tangan Villia.
__ADS_1
"Tidak bisa Nyu. Aku harus menggandengmu. Apa kata om Herlambang dan tante Kinanti jika jika berjalan saling berjauhan? Bisa-bisa kita dikira sedang perang dingin. Lagipula tidak ada salahnya bukan jika kita tampil mesra?"
"Tidak usah lebay, Vi. Aku benar-benar risih. Jauhkan tubuhmu dari tubuhku!"
Bibir Villia nampak mengerucut. Dengan setengah hati, ia menjauh dari tubuh lelaki ini. "Awas saja kalau aku sampai digoda lelaki lain, Nyu. Kamu pasti akan menyesal!"
Meski ucapan Villia terdengar lirih namun masih terdengar jelas di telinga Banyu. Ia menghentikan langkah kakinya dan menatap lekat wajah wanita ini.
"Apa? Kamu digoda lelaki lain? Silakan! Aku bahkan akan sangat bersyukur jika kamu digoda dan membuatmu tergoda. Bahkan aku akan mengadakan syukuran tujuh hari tujuh malam untuk mengucapkan rasa syukur ku. Karena itu artinya aku bisa terlepas dari dedemit macam kamu ini!"
Selepas meluapkan semua yang tertanam di dalam dada, Banyu kembali meninggalkan Villia. Sedangkan Villia, wanita itu hanya bisa terperangah dibuatnya. Dengan bibir menganga dan dengan kedua bola mata membulat sempurna.
***
Beberapa waitress mendekat ke arah meja yang dipesan oleh Herlambang. Dengan hati-hati, mereka menyajikan menu-menu yang telah dipesan.
Pandu, Banyu dan Villia sama-sama menggelengkan kepala dan membuat Kinanti tergelak lirih.
"Maka dari itu, sengaja Mama ajak kalian kemari untuk menikmati steak di restoran ini. Mama yakin, kalian pasti akan ketagihan." Kinanti menjeda sejenak ucapannya dan melirik ke arah Herlambang. "Benar begitu kan Pa?"
Seakan sependapat dengan apa yang diucapkan oleh sang istri, Herlambang menganggukkan kepala. "Itu benar sekali Ma. Olahan dagingnya benar-benar empuk, lembut, dan bumbu rempahnya meresap hingga ke dalam."
"Wah, ternyata selera Tante dan Om tinggi ya, sama seperti aku. Aku juga kalau tidak makan steak ditempat mewah seperti ini juga tidak akan cocok dengan tubuhku loh Om, Tan!" timpal Villia menanggapi ucapan Kinanti.
"Oh ya? Memang apa yang terjadi dengan tubuhmu jika tidak memakan steak di restoran mewah seperti ini, Vi?"
"Tubuhku langung memberikan respon yang tidak bagus, Tante. Ya seperti gatal-gatal seperti itu."
__ADS_1
"Waahhh .... berarti tubuhmu terbiasa dengan tipe-tipe highclass ya Vi?"
"Nah itu betul sekali Tan. Maka dari itu aku juga mencari calon suami yang highclass pula."
Seorang waitress pembawa menu minuman mulai menyajikan aneka minuman itu di hadapan orang-orang yang mengitari meja ini. Namun tiba-tiba...
"Aaarrrggghhh ... apa-apaan ini?"
Villia cepat-cepat bangkit dari posisi duduknya saat gelas berisi jus alpukat di hadapannya ini tumpah. Dan pakaian yang ia kenakan menjadi basah. Sedangkan di waitress yang membawa minuman itu juga tidak kalah kagetnya.
"M-maaf Nona, saya tidak sengaja!"
"Maaf, maaf. Kamu itu bisa kerja yang benar atau tidak!!"
"Maaf Nona!"
"Kalau kerja itu pakai mata dong. Kamu buta, hah? Bisa-bisanya orang buta bekerja di sini. Apa kamu tahu berapa harga pakaianku ini? Gaji kamu satu tahun pun tidak akan bisa untuk membeli pakaian ini!"
"Maaf Nona!"
"Tidak bisa. Aku tidak terima pakaian mahalku kamu bikin kotor seperti ini. Panggil manager restoran ini. Akan aku suruh dia memecatmu!"
"Hentikan Vi! Kamu benar-benar keterlaluan. Perkara kecil saja kamu besar-besarkan seperti ini!"
"Tapi Nyu!"
"Stop. Kalau kamu masih bersikap seperti ini, lebih baik kamu pergi dari tempat ini!!"
__ADS_1
Apakah itu benar-benar Villia, calon istri putraku? Mengapa dia terkesan kasar dan ingin menang sendiri? Ya Tuhan, apakah hal yang benar jika aku menikahkan anakku dengan Villia? Tapi bukankah sudah tiga tahun Banyu menjalin hubungan dengan Villia? Apakah baru kali ini Banyu tahu akan sifat asli Villia? Dan membuatnya begitu marah seperti itu? monolog Kinanti di dalam hati.