Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 106. Adu Argumen


__ADS_3


Sapto yang sudah tersadar dari pingsannya, buru-buru ia mengambil posisi duduk di sebuah lincak yang berada di teras. Kepalanya masih terasa sedikit kliyengan, namun ia berusaha untuk tetap kuat. Malu jika harus menampakkan kelemahannya lagi.


"Syukurlah, kamu sudah siuman Mas. Lama juga kamu pingsan," ucap Lingga seraya memberikan teh hangat kepada Sapto. "Minumlah Mas, semoga setelah ini kondisi tubuh kamu bisa segera pulih kembali."


"Terima kasih Dek." Sapto menerima teh hangat pemberian Lingga dan kemudian ia sesap kenikmatan dan kehangatan yang ada di dalam segelas teh ini.


Bibir Banyu mencebik saat melihat makhluk bernama Sapto ini begitu puas mendapatkan perhatian dari sang kekasih. Ia sampai berpikir jika Sapto berpura-pura pingsan hanya untuk mendapatkan perhatian dari Lingga.


"Kalau sudah tidak sakit, langusng pulang saja. Daripada di sini hanya membuat repot," ucap Banyu sedikit ketus.


Sapto terperangah. "Dek Lingga ... lihatlah pemuda ini. Dia menyangsikan sakitnya mas Sapto, Dek. Padahal mas Sapto benar-benar tidak enak badan."


Seperti anak kecil yang mengadukan perbuatan salah satu temannya yang nakal, Sapto pun juga nampak merengek di hadapan Lingga. Bahkan pria klimis dan nyentrik itu nampak begitu manja.


"Sssttt .... Banyu, jangan bicara seperti itu. Tidak sopan!" bisik Lingga lirih memberi peringatan.


"Ckckkckkckk ... sakit apa kamu? Aku yakin Itu semua hanya akal-akalanmu saja," timpal Banyu

__ADS_1


"Dek Lingga lihatlah, orang ini masih saja mengejekku. Sebenarnya dia ini siapa?" adu Sapto kepada Lingga.


Banyu seakan tersulut emosi. Sudah dari tadi ia mengatakan bahwa dia adalah kekasih sekaligus calon suami Lingga, namun masih saja Sapto mempertanyakannya.


"Apa kurang jelas perkataan yang aku katakan sebelum kamu pingsan tadi? Aku ini calon suami Lingga. Dan tidak sepantasnya kamu mengganggu calon istriku. Paham?"


Banyu sudah menggunakan intonasi tinggi sebagai pertanda bahwa ia sudah dikuasai oleh sedikit emosi.


Lingga sengaja memegangi pundak Banyu untuk sedikit meredam emosi pemuda ini. "Sabar Nyu ... sabar!"


"Bagaimana aku bisa sabar Sayang, dia seolah menutup mata akan siapa diriku," sungut Banyu menggebu-gebu.


Sapto menatap lekat wajah Banyu. Begitu pun dengan pemuda itu. Tatapan keduanya saling beradu. Seakan ada pemantik api kebencian yang tersulut di dalam pandangan keduanya.


"Ckkkk ... aku tidak percaya kalau kamu itu kekasih bahkan calon suami dari dek Lingga," ujar Sapto yang sontak membuat Banyu dan Lingga terperangah.


Banyu benar-benar merasa heran. Bagaimana bisa pria klimis plus nyentrik ini tidak percaya bahwa dirinya adalah calon suami Lingga. Padahal Lingga sendiri juga sudah menjelaskannya.


"Tidak percaya? Bagaimana bisa kamu tidak percaya dengan ucapanku. Jelas-jelas aku memanggil Lingga dengan 'sayang' itu sudah cukup membuktikan bahwa aku ini memang kekasih dan calon suami Lingga bukan?"

__ADS_1


"Hahahaha ... kamu itu lucu sekali, Banyu," ucap Sapto sembari terbahak. "Memang benar bahwa kamu memanggil dek Lingga dengan panggilan sayang. Namun bisa saja itu semua hanya akal-akalanmu saja bukan? Bahkan dek Lingga memanggilmu hanya dengan nama panggilan saja. Berbeda denganku. Kamu dengar sendiri bukan jika dek Lingga memanggilku dengan sebutan 'mas'? Itu berarti dek Lingga jauh lebih bersikap manis terhadapku daripada kamu!"


Banyu terhenyak. Kedua bola matanya membulat sempurna. Ia tidak menyangka jika akan diserang oleh Sapto justru dengan perkara sepele seperti ini.


Kini giliran Sapto yang tergelak. Ia benar-benar merasa puas melihat raut wajah Banyu yang nampak pias itu. "Lagipula apa buktinya jika kamu adalah calon suami dek Lingga? Cincin sebagai tanda pengikat pun tidak ada. Berbeda denganku. Aku sudah benar-benar membuktikan bahwa aku serius kepada dek Lingga dengan sesuatu yang aku bawa."


Kernyitan dahi nampak terlukis di wajah Banyu. "Sesuatu yang kamu bawa? Maksudmu apa?"


"Lihatlah bus pariwisata yang terparkir di depan itu. Bus itu yang akan menjadi salah satu tanda keseriusanku kepada dek Lingga. Sebagai bukti bahwa aku tidak main-main untuk mempersunting dek Lingga."


Banyu hanya bisa menelan salivanya. Ia teramat bingung harus melakukan apa.


.


.


. bersambung...


Mampir yuk Kak... Hihihihihihi😆😆😆

__ADS_1



__ADS_2