Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 122. Sebentar Mas


__ADS_3


Rembulan membulat penuh, menghias kanvas langit menjelang subuh. Tirai putih bergoyang seiring seirama dengan hembusan angin pantai yang masuk ke dalam ruangan melalui jendela kaca yang dibiarkan terbuka. Entah apa yang tengah dialami oleh penghuni kamar resort ini sehingga membuat mereka lupa untuk menutup jendela kamar. Beruntung tidak ada orang jahat yang masuk. Jika ada pencuri atau perampok bisa-bisa barang bawaan mereka habis tanpa sisa.


Kedua bola mata Lingga mengerjap kala merasa hawa panas kian meraba. Atomosfer yang seharusnya sejuk dan dingin karena berada di tepian pantai entah mengapa justru hawa panas yang yang kian terasa. Kelopak matanya terbuka dan ia edarkan pandangan matanya ke arah sekitar. Dan ternyata, hawa panas ini bisa ia rasakan karena ball gown warna gold yang ia kenakan dalam acara resepsi kemarin masih melekat di tubuhnya.


Ia menggeser tubuhnya hingga kini ia dalam posisi bersandar di head board ranjang. Dahinya sedikit mengernyit kala mencoba mengingat apa yang terjadi semalam sampai ia ketiduran dalam keadaan masih berbalut gaun pengantin seperti ini. Memorinya seakan berkelana ke dalam peristiwa yang ia alami sebelumnya.


flashback on


Pesta masih belum usai, bahkan suasana pun semakin malam semakin ramai dengan adanya pesta lampion dan kembang api sebagai puncak acara. Para tamu undangan istimewa pun juga masih terlihat berada di dalam acara sampai tengah malam. Pada akhirnya, mereka semua menginap di salah satu hotel yang berada di dekat pantai.


"Aduh Mas ... kepalaku berat sekali. Rasa-rasanya aku ingin pingsan!"


Lingga berjalan sempoyongan kala kepalanya terasa begitu berat. Banyu sampai kesulitan memapah istrinya ini untuk bisa sampai ke resort yang sudah ia pesan.


"Tahan sebentar Sayang, sebentar lagi kita sampai di resort. Setelah itu kamu bisa beristirahat, oke?!"


"Tapi kepalaku terasa berat dan tubuhku juga terasa panas Mas. Aku sungguh tidak kuat. Aku ingin..."


"Eh, eh, eh Sayang, Sayang...."


Banyu semakin panik kala merasakan tubuh Lingga yang semakin melemah. Tanpa banyak berpikir, lelaki itu merengkuh tubuh Lingga untuk kemudian ia bopong. Dengan susah payah, Banyu menyusuri tepian pantai ini sambil membopong tubuh Lingga sampai ke resort.

__ADS_1


Perlahan, ia letakkan tubuh Lingga di atas ranjang. Ia tersenyum tipis melihat apa yang dialami oleh istrinya ini. Biasanya orang-orang mabuk al*kohol, tapi istrinya ini mabuk karena kebanyakan daging kambing. Ia sampai menggeleng-gelengkan kepala. Ada-ada saja kejutan yang dibawa oleh para tamu undangan istimewa itu. Alih-alih bisa melewati malam pertama dengan penuh bergairah. Yang terjadi justru sebaliknya, sang istri justru pusing dan sekarang justru lemas sekali seperti ini.


Nasib ... nasib ... bakalan mundur nih acara malam pertamaku. Tapi tidaklah mengapa. Masih ada malam-malam selanjutnya.


Banyu bermonolog lirih sembari tersenyum simpul. Akibat dilanda rasa lelah dan kantuk yang luar biasa, pada akhirnya ia pun juga ikut merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mulai memeluk mimpi tanpa berganti pakaian terlebih dahulu.


flashback off


"Sayang, kamu sudah bangun?"


Suara bariton yang berasal dari dalam kamar mandi, membuat Lingga yang sebelumnya larut dalam pikirannya, mulai tersadar. Nampak sang suami keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian perut dan bawah perut itu.


"Mas, kamu....?"


Banyu tergelak lirih. Ia mengayunkan tingkai kakinya untuk mendekat ke arah Lingga. Ia pun ikut menyenderkan tubuhnya di head board ranjang. Perlahan, ia menarik dagu Lingga untuk membuatnya sedikit lebih tegak.


"Hei, kenapa kamu harus malu seperti itu sih Sayang? Apa yang aku miliki sudah menjadi milikmu pula. Jadi, kamu tidak perlu malu seperti itu."


"Tapi itu terlihat .... "


Lingga sampai tidak bisa berucap apapun. Ia tidak bisa merangkai kata untuk mendeskripsikan apa yang dimiliki oleh suaminya ini.


Banyu semakin tergelak. Ia raih jemari tangan Lingga dan ia pandu untuk memegang benda pusaka miliknya ini. Kedua bola mata Lingga terbelalak dan bibirnya menganga lebar. Namun buru-buru dibungkam oleh bibir Banyu.

__ADS_1


Perlahan, ciuman lembut itu mendarat di bibir Lingga. Ciuman yang sebelumnya terasa begitu lembut, kini berubah menjadi panas. Bibir keduanya saling berpagut. Lidah keduanya saling melilit seakan diikat oleh sebuah tali. Banyu seakan mencoba untuk menyesap semua kenikmatan yang ada di dalam bibir istrinya ini.


"Ini sudah menjadi milikmu Sayang. Dan aku akan menggunakan ini untuk membahagiakan batinmu, yang selama ini belum pernah kamu dapatkan," ucap Banyu parau saat merasakan jemari tangan Lingga meremas benda pusaka miliknya.


"Aaaahhhh ....."


Udara yang sebelumnya terasa begitu panas, semakin bertambah panas dengan gelora hasrat yang sudah berada di atas ubun-ubun. Bahkan Lingga sudah mende*sah kala ciuman panas sang suami sudah beralih di lehernya.


"Mende*sahlah Sayang ... keluarkan semuanya. Aku ingin membuatmu menjadi wanita seutuhnya di malam ini."


Tubuh Lingga semakin panas dan meliuk-liuk kala tangan Banyu sudah semakin liar bermain-main di area dadanya. Namun ia teringat akan satu hal dan ia pun mencoba untuk menghentikan permainan.


Dahi Banyu berkerut. "Ada apa Sayang?"


"Biarkan aku mandi terlebih dahulu Mas. Setelah itu, bisa kita lanjutkan ritual kita ini!"


Banyu hanya tersenyum simpul. Ya, ia ingat bahwa sang istri belum membersihkan diri sama sekali. "Baiklah Sayang. Namun setelah itu aku ingin kita sama-sama menuju surga dunia!"


.


.


. bersambung...

__ADS_1


Haadoohhh ... udah lama gak bikin part hot, jadi lupa gimana caranya... Sampai bersemedi berhari-hari pun belum dapat inspirasi... Hihi hihihihi 😅😅😅 Sabar ya Kak...


__ADS_2