
"Jangan lupa untuk sering-sering datang kemari ya Le. Ibu pasti akan selalu merindukanmu."
Derai air mata itu mengalir deras, membingkai tiap-tiap sudut wajah Maryati. Sambil memeluk erat tubuh Banyu, wanita paruh baya ini seakan begitu berat untuk berpisah dengan Banyu.
Banyu hanya bisa tersenyum haru. Berada di kampung ini sungguh merupakan salah satu karunia terbesar yang pernah Tuhan berikan untuknya. Bertemu dengan orang-orang baik, diperlakukan dengan baik dan pastinya juga menciptakan sebuah kenangan yang baik pula.
"Saya janji akan sering-sering datang kemari untuk mengunjungi bu Mar. Bagaimana pun juga, bu Mar juga sudah seperti ibu saya sendiri," ujar Banyu sembari mengusap-usap punggung Maryati.
Maryati mengurai pelukannya. Ia menepuk-nepuk bahu kekar pemuda ini. "Kamu pemuda yang baik Le, Ibu yakin kebahagiaan pasti akan senantiasa menyertaimu. Dan tentunya kamu juga akan dikelilingi oleh orang-orang baik pula."
"Terima kasih banyak untuk doa-doanya bu Mar."
Herlambang yang sebelumnya ada di belakang punggung Banyu, mulai mendekat ke arah Maryati dan Prasojo. Lelaki paruh baya itu juga tersenyum penuh arti di hadapan orang tua angkat selama sang putra berada di kampung ini.
"Pak Pras dan bu Mar, saya mewakili keluarga besar Banyu mengucapkan banyak-bayak terima kasih atas semua kebaikan yang telah Bapak dan Ibu berikan untuk putra kami. Saya benar-benar tidak tahu bagaimana nasib Banyu jika tidak ditemukan oleh Bapak dan Ibu."
"Sama-sama Pak, ini semua sudah merupakan kewajiban kita sebagai makhluk sosial, di mana harus saling tolong menolong. Dan mungkin Lingga lah yang menjadi jalan keselamatan untuk putra Bapak ini karena bagaimanapun dia lah orang pertama yang menemukan Banyu tergeletak di bawah curug."
Herlambang menautkan pandangannya ke arah Banyu yang entah mengapa saat ini lebih banyak terdiam. "Nyu, apakah kamu sudah mengucapkan rasa terima kasihmu kepada Lingga? Dan apakah kamu sudah memberikan sesuatu sebagai bentuk rasa terima kasihmu?"
"Sudah Pa, Banyu sudah mengucapkan rasa terima kasih Banyu kepada Lingga. Namun untuk memberikan sesuatu, Banyu belum melakukannya karena Lingga adalah wanita paling tulus yang pernah Banyu temui, ia tidak mau menerima apapun yang Banyu beri."
__ADS_1
Villia yang mendengar perkataan Banyu hanya bisa tersenyum sinis. Bibirnya mencebik seakan begitu jijik mendengar ada seseorang yang memuji rivalnya itu.
"Mana ada di zaman sekarang wanita tulus? Yang ada semua modus. Lagipula mengapa kamu ini polos sekali sih Nyu? Masa tidak bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang modus? Aku yang baru sekali bertemu dengan wanita bernama Lingga itu saja sudah bisa menilai bahwa dia itu wanita penuh modus. Heran aku, tertutup apa mata kamu ini?" kelakar Villia dengan penuh emosi.
Semua yang mendengar perkataan Villia ini hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Terlebih Prasojo dan Maryati. Sebagai manusia yang hidup di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi apa itu tata krama dan kesopanan, perilaku Villia ini benar-benar tidak mencerminkan itu semua. Wanita minim akhlak.
Semoga Banyu tidak salah pilih di dalam menentukan pendamping hidupnya. Wanita seperti ini kok mau diadu dengan Lingga. Jelas Lingga pemenangnya lah. Itu sudah fiks no debat.
Maryati hanya bisa bermonolog di dalam hati. Ia terlampau gemas dengan sikap dan perilaku Villia yang selalu saja merendahkan orang lain ini.
Herlambang tersenyum kikuk. Sebagai calon mertua Villia, lelaki itu sungguh merasa tidak enak hati. "Saya mohon maaf atas semua sikap dan perilaku calon menantu saya ini Pak, Bu. Kalau memang seperti itu, sebagai permohonan maaf dari saya dan sebagai ucapan rasa terima kasih kepada seluruh warga kampung ini, saya akan memberikan sesuatu untuk semua warga di sini, Pak."
Kening Prasojo berkerut. "Maksud pak Herlambang bagaimana? Saya kurang begitu paham."
Wajah Prasojo dan Maryati nampak berbinar. Ia tidak menyangka akan mendapatkan ini semua. Ternyata keberadaan Banyu juga memberikan banyak manfaat untuk orang-orang yang berada di kampung ini.
"Terima kasih banyak Pak, terim kasih."
"Sama-sama Pak, Bu. Kalau begitu saya dan keluarga mohon undur diri. Semoga persaudaraan kita akan senantiasa terjalin meskipun saat ini kita saling berjauhan."
Herlambang dan lainnya mulai mengayunkan tungkai kaki masing-masing untuk menuju mobil yang sudah siap di pelataran rumah. Namun baru beberapa langkah..
"Loh Al, kamu kenapa? Mengapa kamu menggaruk-garuk badanmu seperti itu?" tanya Pandu dengan keheranan melihat Aldo yang menggaruk-garuk semua bagian tubuhnya.
__ADS_1
Aldo hanya bisa nyengir kuda sembari menahan rasa gatal yang menyerang tubuhnya. "Sepertinya aku alergi air di kampung ini, Bang. Karena kulitku memang sedikit sensitif jadi tidak bisa sembarangan untuk terkena air di tempat yang asing."
"Atau kita mampir ke Puskesmas terlebih dahulu sebelum pulang? Agar kamu bisa mendapatkan pengobatan?" tawar Kinanti yang sebelumnya hanya lebih banyak terdiam.
Aldo menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak, tidak perlu Tan. Di rumah, saya sudah mempunyai obat pribadi jadi tidak perlu periksa di Puskesmas. Lebih baik sekarang kita segera pulang saja."
Pada akhirnya, satu persatu keluarga Herlambang mulai memasuki mobil.
"Kami pamit pak Pras, bu Mar," ucap Banyu sambil melambaikan tangan.
"Hati-hati Nak, semoga selamat sampai tujuan."
Perlahan, mobil yang dikemudikan oleh Pandu itu bergerak. Semakin lama, mobil tipe SUV warna putih itu meninggalkan pelataran kediaman Prasojo dan hilang dari pandangan mata sepasang paruh baya itu.
Sedangkan wanita yang sedari tadi berada tidak jauh dari kediaman Prasojo yang mengendap-endap memperhatikan pergerakan keluarga Herlambang itu hanya bisa tersenyum getir ketika bayangan mobil berwarna putih itu semakin menjauh dan menghilang. Tanpa terasa bulir bening dari pelupuk matanya mulai menetes satu persatu.
Akankah takdir akan berpihak kepada kita Nyu? Kalaupun tidak, aku sudah cukup berbahagia bisa mengenalmu.
.
.
. T A M A T
__ADS_1
TAPI BO'ONG..... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣