
Angin malam yang berhembus kencang membuat tirai putih di balik jendela yang terbuat dari kayu bergoyang. Hembusannya terasa dingin hingga menembus tulang. Dewi malam pun enggan menampakkan wajah, menjadikan permadani langit tak bermandikan cahaya terang.
Lingga Sari Andhini, wanita berusia dua puluh lima tahun itu masih setia berdiri di balik jendela. Sesekali kepala wanita itu menyembul keluar seperti tengah menunggu kedatangan seseorang yang istimewa. Ia mengusap-usap kedua lengan tangannya. Tatkala udara dingin khas lereng gunung mulai merajam tubuh langsingnya.
"Hahhhh .... kemana perginya mas Heru? Jam segini mengapa belum pulang? Padahal sudah sejak sore tadi ia pergi."
Sorot mata Lingga tiada henti membidik sebuah jam yang menempel di sebuah bilik yang terbuat dari papan triplek. Bilik inilah yang menjadi kamar pribadinya bersama Heru, sang suami. Sebuah kamar yang sangat sederhana dan menjadi gambaran bagaimana kehidupan yang selama ini ia jalani. Hidup di sebuah desa yang berada di lereng gunung yang identik dengan kehidupan yang sederhana.
Jarum panjang tipis itu terus saja berdetak dan jarum penunjuk jam dan menit semakin bergeser ke kanan. Tidak terasa jika saat ini sudah masuk pukul sebelas malam. Lingga masih setia menunggu kepulangan Heru. Tanpa pernah ia tahu, kapan lelaki itu akan tiba di rumah.
Lingga menutup jendela. Ia putar tumitnya untuk bisa duduk di tepian rajang. Tak mampu lagi menahan rasa kantuk yang mendera, ia pun memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Namun baru saja ia akan memejamkan kedua matanya, tiba-tiba terdengar pintu kamar dibuka. Tak selang lama, Heru memasuki kamar.
"Mas Heru!"
Rasa kantuk yang sebelumnya menyergap itu tiba-tiba saja menghilang saat Lingga melihat kepulangan sang suami. Tubuh yang sebelumnya terbaring di atas ranjang, ia paksa untuk bangkit kembali. Dan kini wanita itu berdiri tepat di depan tubuh Heru.
Tidak seperti sore tadi di mana wajah Heru nampak begitu ketus dan seolah jengah saat memandang Lingga. Malam ini, wajah Heru nampak lebih sumringah bahkan nampak begitu manis. Lelaki itu tersenyum lebar di hadapan Lingga.
"Apa kamu sudah tidur?" tanya Heru sembari melepas jaket kulit yang ia pakai dan ia gantungkan di belakang pintu kamar.
__ADS_1
Lingga menggelengkan kepala. "Belum Mas. Baru saja aku ingin tidur, namun aku urungkan saat melihatmu masuk ke kamar."
Heru kembali tersenyum simpul. Ia rapatkan tubuhnya di tubuh Lingga. Ia belai wajah Lingga. Menyusuri tiap lekuk wajah sang istri dengan telapak tangannya.
"Kamu cantik!"
Lingga tersipu malu mendapatkan perlakuan manis seperti ini dari Heru. Jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang tiada terkendali. Merasakan sensasi rasa yang selama ini ia damba sebagai seorang istri. Lima bulan menjadi istri Heru, baru malam ini ia merasa diperlakukan istimewa oleh sang suami.
"Terima kasih Mas."
Jemari tangan Heru mengambil jepit rambut yang dipakai oleh Lingga. Hingga kini, rikma hitam milik wanita itupun seketika tergerai dan justru semakin memancarkan aura kecantikannya.
Lingga semakin menunduk dalam. Suara Heru terdengar begitu sensual sehingga membuat jantungnya semakin bertalu-talu. Mendadak, Lingga tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Heru memandu Lingga untuk duduk di tepian ranjang. Dengan perlahan, Heru merebahkan tubuh Lingga di atas tempat tidur ini. Tagan kekar lelaki itu mulai membuka satu persatu kancing baju yang dikenakan oleh Lingga. Hingga kini hanya ada sebuah di bra berwarna hitam yang membungkus bagian atas tubuhnya.
Bagian atas telah terbuka, tangan Heru berpindah ke bagian bawah. Ia sibak rok yang dipakai oleh Lingga dan menurunkannya. Hanya tinggal kain berbentuk segitiga yang menutupi bagian bawah milik Lingga. Hal itulah yang membuat senyum seringai terbit di bibir Heru.
Seakan tidak sabar, Heru bergegas melucuti seluruh pakaian yang ia kenakan. Ia tanggalkan kain berbentuk segitiga yang masih menutupi bagian bawah tubuh Lingga dan bergegas mengungkung tubuh istrinya ini.
Namun baru saja ia akan melakukan penyatuan raga tiba-tiba...
__ADS_1
Hoek... Hoek... Hoekk...
"Apa-apaan ini? Mengapa bau milikmu seperti ikan asin? Ihhh... menjijikkan sekali!"
Tanpa banyak kata, Heru kembali memunguti pakaiannya dan kembali ia kenakan. Lelaki itu buru-buru pergi dari bilik kamar pribadi miliknya ini.
"Mas Heru!" teriak Lingga mencoba untuk menghentikan langkah kaki Heru. Namun tiada guna, Heru bahkan nampak mengabaikan panggilan Lingga.
Brakkk!!!
Heru membanting pintu kamar hingga menimbulkan suara yang terdengar memekak telinga. Sontak suara itu membuat tubuh Lingga terperanjat seketika. Sorot mata wanita itu memancarkan ekspresi ketakutan, rasa bersalah dan ketidaktahuan akan apa yang sebenarnya terjadi terhadap Heru. Setiap akan melakukan penyatuan raga, lelaki itu selalu saja mengucapkan kata-kata bau ikan asin.
Lingga juga turut memunguti pakaian yang berada di sisi ranjang dan kembali ia kenakan. Ia hanya bisa terduduk lemas di tepian ranjang saat melihat respon Heru yang seperti seseorang yang jijik kala mencium bau ikan asin. Wanita itu seperti larut dalam pikirannya sendiri.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan mas Heru? Mengapa dia selalu saja mengatakan bahwa milikku ini bau ikan asin? Padahal aku merasa bahwa milikku ini wangi, karena aku sering menggunakan ramuan air mawar dan daun sirih untuk membasuhnya. Tapi mengapa dia selalu mengatakan bau?
.
.
bersambung...
__ADS_1