Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 107. Cincin Di Dalam Es Krim


__ADS_3


Bus besar itu melaju membelah jalanan kota Jogja yang nampak ramai. Hiruk pikuk kondisi jalan di hari libur seperti ini mulai terlihat. Kuda-kuda besi dengan berbagai macam bentuk dan merk juga mulai memadati jalan arteri. Suara klakson saling bersahutan yang semakin membuat ramai suasana jalanan siang ini.


Lingga, Banyu, Sapto dan seluruh peserta pelatihan tiba di salah satu destinasi wisata yang berada di kota Jogja, ya Gembira Loka Zoo. Setelah memesan tiket masuk, rombongan itupun mulai menikmati segala pesona yang tersaji di kawasan ini. Mereka memilih untuk berjalan kaki untuk mengelilingi area kebun binatang ini, sembari menikmati udara segar dan sejuk yang berada di sekitar.


"Memang tidak ada tempat yang jauh lebih romantis dari kebun binatang ini?" tanya Banyu sembari melihat-lihat ke arah sekitar.


Sejatinya tidak ada yang salah dengan kebun binatang ini karena di tempat ini ia bisa tahu hewan-hewan apa yang hampir punah dan dilindungi. Namun jika untuk sepasang kekasih yang sedang berpacaran, tempat ini sepertinya kurang romantis.


Haduhhh Nyu.... kamu itu kurang bersyukur. Masih mending kamu diajak piknik geratis daripada di mess sendirian? 🤣


Sapto tersenyum sinis mendengar pertanyaan pemuda yang ia anggap sebagai rivalnya ini. "Di Jogja banyak sekali tempat-tempat yang romantis. Namun saat kamu ikut dengan rombongan ini aku rasa jauh lebih pantas jika kita datang kemari. Karena itu akan memberikan banyak manfaat untukmu!"


"Hah, manfaat apa yang bisa aku dapatkan?" ujar Banyu seperti kebingungan dengan maksud pembicaraan Sapto ini.


"Ya jelas bermanfaat, karena di sini kamu bisa bertemu dengan saudara kembarmu." Sapto menunjuk ke arah kanan dari tempatnya berdiri. "Tuh kembaranmu. Pasti kalian senang bukan bisa saling melepas rindu, hahahaha!"


Tatapan Banyu mengikuti kemana arah telunjuk tangan Sapto. Kedua bola matanya pun membulat sempurna saat beberapa ekor kera bergelantungan di pohon.


"Dasar buntelan kentut. Awas saja kamu!" ejek Banyu yang juga tidak ingin kalah dari Sapto.


Lingga yang berjalan seperti seorang ratu karena diapit oleh dua orang pengawal hanya bisa berdecak lirih dan geleng-geleng kepala. Tingkah polah kedua lelaki ini benar-benar mengocok perutnya. Entah sudah berapa banyak mereka saling mengejek. Yang pasti sejak di dalam perjalanan tadi pun mereka juga terlihat berseteru. Ada saja yang diributkan dan dua-duanya juga tidak ada yang mau mengalah.


"Oh iya, yang ingin naik gajah, jerapah atau unta, mas Sapto persilakan ya. Nanti kita kumpul di tempat ini lagi."


Sapto berujar ke arah para peserta pelatihan yang berjalan di belakang. Ia ingin memberikan kesempatan para peserta pelatihan untuk bisa bersantai sembari merefresh pikiran. Ia paham betul jika para peserta ini merasakan kejenuhan.

__ADS_1


"Oke Mas!"


Ambar dan yang lainnya mulai memisahkan diri untuk menggunakan kesempatan yang diberikan oleh Sapto. Sedangkan Lingga memilih untuk duduk di bangku yang terbuat dari beton sambir menunggu teman-temannya. Berkali-kali ia dipaksa Ambar untuk ikut naik juga namun ia menolaknya. Ia jauh lebih ingin duduk-duduk santai saja.


"Oh iya Sayang, kamu mau minum atau makan apa? Biar aku belikan," ucap Banyu menawarkan.


"Sudah, tidak usah kamu belikan, biar aku saja yang membelikannya untuk dek Lingga," timpal Sapto. Ia pun menautkan pandangannya ke arah Lingga. "Nah Dek, kamu mau makan apa?"


Banyu menarik pakaian yang dikenakan oleh Sapto. "Eh, eh, eh, apa-apaan ini? Mengapa kamu ikut-ikutan menawarkan diri? Yang kreatif dong!"


"Siapa yang gak kreatif? Aku juga punya hak untuk menawarkan untuk dek Lingga. Ingat ya, selama janur kuning belum melengkung, aku masih ada kesempatan untuk menikung. Dan aku pastikan setelah ini dek Lingga akan memilihku," papar Sapto dengan meyakinkan. Hal itulah yang membuat Banyu geleng-geleng kepala.


"Aaarrrggghhh ... ucapan macam apa itu." Banyu menatap lekat netra Lingga. "Sudah Sayang, sekarang bilang. Kamu mau makan atau minum apa biar aku belikan!"


"Hemmmmm .... terserah kamu saja Nyu. Apa yang ada di sini saja."


Sapto berhenti di stand penjual ice cream. Sedangkan Banyu berhenti di penjual aneka macam jus buah.


"Mbak aku mau yang vanila sama strawberry dijadikan satu ya," pinta Sapto kepada si penjual ice cream.


"Oh iya, tunggu sebentar ya Mas."


Satu cone ice cream rasa strawberry-vanila telah siap. Setelahnya, Sapto mengeluarkan sesuatu dari dalam saku kemejanya. Sebuah cincin emas putih, ada di dalam genggaman tangannya.


"Aku sering melihat bagaimana cara seorang laki-laki melamar wanitanya dengan meletakkan cincin ini di dalam ice cream. Semoga dengan melihat ke-so sweet-an ini, pintu hati dek Lingga terbuka dan ia bisa menerimaku."


Sapto bermonolog lirih. Ia selipkan cincin ini ke dalam es krim yang ia beli. Ia tersenyum penuh arti karena memiliki rencana manis seperti ini. Ia bahkan sangat yakin bahwa Lingga akan menerima cincin ini sebagai pertanda wanita itu memilihnya. Dan pastinya Banyu akan tersingkirkan.

__ADS_1


Dengan langkah kaki lebar dan hati yang berbunga-bunga, Sapto kembali menghampiri Lingga yang masih duduk sendiri. Ia teramat senang karena sang rival masih belum kembali.


"Dek Lingga, ini mas Sapto belikan es krim untumu!" ucap Sapto sembari mengulurkan es krim itu untuk Lingga.


Lingga tersenyum simpul. "Oh, terima kasih ya Mas."


"Sama-sama Dek."


Sapto tiba-tiba terserang HIV (hasrat ingin Vivis 😅) Ia sedikit mengumpat dalam hati karena serangan ini sangat dadakan. Ingin sekali ia melihat Lingga menghabiskan es krim ini sampai wanita itu menyadari ada cincin di dalam es krim ini. Namun rasa kebelet ini benar-benar tidak bisa ia tahan.


Lingga masih belum menikmati es krim yang ada di tangannya. Ia justru kebingungan melihat ekspresi wajah Sapto yang terlihat gelisah ini.


"Loh Mas, ada apa? Kok gelisah seperti itu?"


"Hehehehe ... anu Dek ... Mas Sapto ke toilet dulu ya. Mas Sapto kebelet!"


Tanpa memperdulikan Lingga yang masih kebingungan, Sapto pun ngacir begitu saja untuk menuju kamar mandi.


.


.


. bersambung....


Hayoooo... Kira-kira ekspresi Lingga bagaimana ya saat tahu ada cincin di dalam es krim?? 🤣🤣🤣🤣🤣 hihihihi tunggu episode selanjutnya ya kak❤️❤️


Yuk yang belum mampir ke Gerbang Alam Ghaib, silakan mampir ya Kak. Berikan juga dukungan kakak-kakak semua dengan like, komentar, dan juga favorit. Terima kasih 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2