Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 105. Shock


__ADS_3


"Hai dek Ambar!!!"


Sosok pria dengan pakaian nyentrik dan rambut klimis turun dari bus. Ia berjalan mendekat ke arah Ambar yang tengah menyapu halaman.


"Eh mas Sapto. Hallo juga Mas!"


Ambar tersenyum kikuk kala membalas sapaan putra pemilik PT Sido Mundur ini. Ada sedikit rasa takut jika sampai pria ini bertemu dengan Banyu yang tak lain dan tak bukan adalah kekasih Lingga. Namun, ia mencoba untuk tenang menghadapinya.


Sapto melepas kaca mata hitamnya kemudian ia selipkan di depan dada. Seperti biasa, ia ambil sisir kecil berwarna pink yang ada di saku kemeja untuk kemudian ia rapikan rambut klimisnya.


"Kok sendirian saja dek Ambar? Dek Lingga mana? Biasanya kalau ada kamu pasti juga ada dek Lingga." Sapto bertanya sembari mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling. Ia mencari sosok wanita yang teramat ia rindukan. Siapa lagi jika bukan Lingga.


"Eh anu .... itu Lingga anu...."


Mendadak Ambar seperti seseorang yang tergagap. Ia sampai bingung harus mengatakan apa kepada pria ini. Ia benar-benar takut jika sampai Sapto sampai mengetahui bahwa Lingga sudah memiliki kekasih.


Melihat Ambar yang dilanda oleh kegugupan membuat Sapto tergelak pelan. "Kenapa kamu gugup seperti itu Dek? Oh, apakah kamu gugup karena melihat penampilan mas Sapto yang nampak tampan ini? Mas Sapto sengaja berpenampilan tampan seperti ini khusus untuk pergi bersama dek Lingga. Eh ralat, bukan hanya pergi bersama dek Lingga saja tapi juga semua peserta pelatihan."


Ambar terhenyak. "Semua peserta pelatihan?"


Sapto menganggukkan kepala. "Ya, karena sebentar lagi pelatihan kalian akan paripurna, maka mas Sapto berniat ingin mengajak kalian piknik. Dan untuk puncaknya, nanti akan ada acara spesial."


Mendengar kata piknik sontak membuat hati Ambar kegirangan. Wajahnya nampak berbinar. "Piknik? Piknik kemana Mas?"


Sapto seperti tengah memikirkan sesuatu. Namun sejenak kemudian ia tersenyum lebar. "Kita akan ke kebun binatang Gembira Loka. Ya, kita akan ke sana untuk melihat beraneka rupa fauna. Bagaimana? Eh, tapi mas Sapto tanyakan dulu sama dek Lingga. Sekiranya dia setuju, kita akan langsung ke sana!"

__ADS_1


Sapto kembali memakai kacamata hitamnya. Tungkai kakinya pun terayun untuk menemui Lingga di dalam mess. "Mas Sapto ke dalam dulu ya dek Ambar!"


"Oh, eh, iya silakan Mas!"


Tubuh Ambar sedikit bergidik ngeri saat membayangkan pertemuan antara Sapto dengan Banyu. Ia merasa akan terjadi perang besar di mana dua lelaki memperebutkan seorang wanita. Tak ingin ambil pusing, ia pun memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.


Sedangkan Sapto, pria dewasa itu telah tiba di depan pintu depan. Ia pun bermaksud untuk masuk ke dalam untuk mencari keberadaan sang pujaan hati. Namun betapa terkejutnya ia saat melihat sang pujaan tengah berbincang mesra bersama seorang pemuda.


"Dek Lingga, itu siapa Dek?!"


Pekikan suara Sapto terdengar menggema memenuhi ruangan dan sukses membuat Lingga dan Banyu terkejut.


"Mas Sapto?" lirih Lingga.


Dahi Banyu mengernyit. "Hah, Mas Sapto? Siapa Sayang?"


Lingga hanya bisa membuang napas sedikit kasar. Entah apa yang terjadi ketika dua orang ini bertemu, namun ia berniat akan menceritakan perihal Sapto kepada Banyu, setelah ini. Lingga pun melangkahkan kaki untuk mendekat ke arah Sapto.


Suasana hati Sapto sudah tidak menentu. Ia merasakan sebuah firasat yang tidak baik dengan keberadaan seorang pemuda yang nampak asing ini. Begitu pula dengan Banyu, ia juga merasakan ada sesuatu yang ganjal dengan kehadiran pria berpakaian nyentrik ini.


Ini lelaki kelahiran tahun berapa? Mengapa penampilannya jadul seperti ini? Persis model tahun 80-an.


Banyu, Lingga dan Sapto duduk di kursi masing-masing yang telah tersedia. Sejenak, suasana terasa begitu hening karena tidak ada satupun yang berbicara. Namun tak selang lama Lingga berdehem untuk mencairkan suasana.


"Ehemmmmm ... mas Sapto, kenalkan. Pemuda ini bernama Banyu. Dan Banyu, kenalkan ini adalah mas Sapto," ucap Lingga memperkenalkan.


Sapto dan Banyu saling bertatap netra. Pandangan keduanya saling beradu. Bahkan tangan keduanya tidak bergerak sama sekali.

__ADS_1


"Mas Sapto, Banyu, ayo salaman! Tidak baik jika pertama bertemu kalian tidak bersalaman ataupun berkenalan."


Perkataan Lingga membuat dua pria itu tersadar. Mereka pun saling berjabat tangan.


"Sapto."


"Banyu."


Banyu merapatkan tubuhnya ke tubuh Lingga. Pemuda itupun berbisik lirih di telinga Lingga. "Sayang, lelaki ini siapa?"


Lingga tersenyum simpul. "Nah Banyu, mas Sapto ini adalah putra dari pemilik PT Sido Mundur, tempat di mana aku melakukan pelatihan."


Hanya dianggukki kepala oleh Banyu, seakan menegaskan bahwa ia sudah cukup puas dengan jawaban yang diberikan oleh Lingga.


Sedangkan Sapto sendiri, beribu pertanyaan muncul di dalam benak pria berpenampilan nyentrik itu. Terlebih saat melihat sepasang manusia di hadapannya ini nampak begitu mesra.


"Lalu, Banyu ini siapa Dek? Apakah dia merupakan salah satu kerabatmu?"


Lingga mengangguk pelan. "Iya Mas, Banyu ini adalah...."


"Calon suami Lingga!!!" timpal Banyu memangkas ucapan Lingga.


Sapto terkejut setengah mati. Apa yang diucapkan oleh Banyu sudah cukup membuat kepalanya terasa begitu berat dan pening seketika. Pria berpenampilan nyentrik itu tiba-tiba diserang oleh sakit kepala hebat. Semua seakan berputar-putar yang membuatnya kliyengan. Jantungnya berdegup kencang dan keadaan sekitar terasa gelap. Gelap semakin gelap. Dan pada akhirnya, ia pingsan di tempat.


"Mas Sapto!"


.

__ADS_1


.


. bersambung


__ADS_2