
Lingga duduk santai di lincak sembari menikmati cicit anak-anak burung pipit yang bersarang di atas pohon mangga. Selepas memberi makan ayam, Lingga memilih untuk menikmati pagi hari ini dengan bersantai ria. Entah apa yang terjadi, satu minggu setelah kepergian Banyu, membuat wanita itu selalu bermalas-malasan seperti ini. Alhasil, sudah selama itu pula ia tidak berkeliling.
Secangkir wedang secang dan sepiring ubi rebus yang masih panas menemani Lingga bersantai pagi ini. Sambil memperhatikan ayam-ayam peliharaannya begitu lahap menyantap makanan, membuat senyum Lingga terbit di bibirnya. Tidak terduga, ayam yang dari awal hanya beberapa ekor saja, kini sudah beranak pinak sebanyak ini.
Senyum yang terbit di bibir tiba-tiba sirna saat bayangan Banyu mucul begitu saja di dalam pikirannya.
"Hah .... bahkan ayam-ayam itu mengingatkanku kepada pemuda itu. Entah apa yang saat ini ia lakukan di kotanya."
Lingga hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Hampir setiap sudut di rumahnya ini selalu saja mengingatkannya kepada Banyu. Mulai dari kandang ayam, tenggok jamu dan ruang dapur. Setelah pemuda itu pergi dari kampung ini tidak lantas membuat bayangan Banyu semakin hilang, namun justru semakin nyata terbayang di dalam pikiran.
"Kalau seperti ini, bisa-bisa aku gila karena teringat akan pemuda itu."
Lingga merogoh saku kemeja yang ia pakai. Ia ambil kartu secarik kartu nama yang diberikan oleh lelaki yang beberapa waktu yang lalu menabraknya. Ia membolak-balik kartu nama itu sambil memikirkan sesuatu.
"Apa aku ke Jakarta saja ya, untuk mengikuti pendidikan dan latihan ini? Barangkali, aku bisa mendapatkan pengalaman baru di sana? Dan, jika aku ke Jakarta, bukankah aku bisa bertemu dengan .... Astaga Lingga, mengapa kamu masih saja memikirkan Banyu? Lagipula Jakarta itu luas, belum tentu juga kamu dipertemukan dengan Banyu."
Berkali-kali Lingga mengusap wajahnya kasar. Berupaya untuk menghilangkan bayang wajah Banyu yang masih saja merayu dan menggodanya. Sosok yang ingin sekali ia lupakan, yang terjadi justru sebaliknya. Wajah Banyu seakan tidak bisa lepas dan pergi dari pikiran wanita itu.
__ADS_1
"Ah, sepertinya tekadku semakin bulat. Aku akan ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan itu dan sepertinya, aku harus meminta wejangan dari pak Pras dan bu Mar."
Lingga beranjak dari posisinya. Ia bergegas ke rumah Prasojo untuk meminta pendapat perihal pelatihan yang diadakan oleh PT Sido Mundur ini.
***
"Jadi seperti itu maksud dan tujuan saya datang kemari Pak, Bu. Menurut pak Pras dan bu Mar bagaimana?"
Binar-binar kebahagiaan terlukis jelas di raut wajah Prasojo dan Maryati saat mengetahui apa yang menjadi rencana Lingga. Di mata mereka Lingga merupakan sosok wanita tangguh, pantang menyerah dan selalu berusaha untuk maju sehingga saat mereka mendengar Lingga memiliki rencana ingin mengikuti pelatihan pengolahan jamu, membuat dua paruh baya itu berbahagia.
"Bapak benar-benar mendukung jika kamu memiliki niat untuk mengikuti pelatihan itu Nduk. Lalu saat ini apa yang bisa Bapak dan ibu lakukan untuk membantumu?" tanya Prasojo begitu antusias.
Lingga tersenyum kikuk sembari menggaruk ujung hidungnya yang tidak gatal. "Kalau boleh, saya minta tolong pak Pras untuk menghubungi nomor yang ada di kartu nama ini. Saya ingin tahu apa saja yang harus saya persiapkan."
Prasojo mengambil kartu nama yang di ulurkan oleh Lingga. Ia gunakan ponsel yang hanya bisa untuk berkirim pesan dan telepon itu untuk menghubungi nomor yang tertera di kartu nama itu.
Setelah panggilan telepon itu terhubung, terlihat Prasojo berbincang-bincang dengan si pemilik nomor telepon. Dan tak selang lama, ia mengakhiri percakapannya.
"Bagaimana Pak?" tanya Lingga yang seakan tidak sabar dengan apa yang akan disampaikan oleh Prasojo.
__ADS_1
"Jadi begini Nduk, pelatihan yang rencananya akan diadakan di Jakarta, ternyata dipindahkan ke Jogja. Nah jika memang kamu berminat, kamu bisa menghubungi nomor ini kembali dan semua biaya akomodasi akan ditanggung oleh perusahaan. Jadi, kamu tinggal berangkat dengan membawa pakaian saja."
Lingga sedikit terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Prasojo. Terlebih kota yang akan menjadi tempat pelatihan itu.
Di Jogja? Itu artinya aku tidak akan satu kota dengan Banyu? Dan itu artinya, akan semakin kecil pula kesempatanku untuk bertemu dengan pemuda itu? Astaga Lingga... Kamu memikirkan apa? Ingat, ini semua untuk masa depanmu, jadi tolong, jauhkan semua pikiran-pikiranmu tentang Banyu.
Prasojo dan Maryati yang melihat Lingga hanya terbengong sendiri hanya bisa saling melempar pandangan.
"Nduk.., Nduk... mengapa kamu malah bengong sendiri?" ujar Maryati sambil menepuk pundak Lingga.
Lingga terkesiap. Gegas ia bangun dari lamunannya. "Eh iya Bu, bagaimana?"
Maryati terkekeh pelan melihat Lingga yang justru seperti orang yang tengah kebingungan. "Justru Ibu yang seharusnya bertanya. Bagaimana keputusanmu, Nduk? Apakah kamu akan mengambil kesempatan ini? Jika kamu mengambil kesempatan ini, Ibu dan bapak akan membantumu untuk mempersiapkan semuanya."
Hati Lingga diliputi oleh rasa haru yang luar biasa. Dua paruh baya ini teramat baik dan mereka seperti berharap agar dirinya mengikuti pelatihan ini. Tanpa banyak berpikir lagi, Lingga menganggukkan kepala.
"Iya Pak, Bu. Saya akan mengambil kesempatan itu. Saya akan mengikuti pelatihan di Jogja. Saya yakin dengan mengikuti pelatihan itu, saya bisa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang jauh lebih banyak lagi!"
.
__ADS_1
.
. bersambung