
Lingga menikmati suasana kota Jogja yang nampak begitu indah di malam hari ini. Lampu-lampu kota nampak berjajar menerangi jalanan beraspal yang terlihat mulai lenggang dan sepi. Wanita itu tiada henti menatap takjub karena bagaimanapun juga, ini merupakan pengalaman pertamanya pergi jauh hingga ke luar kota.
"Jogja indah ya, Ling? Suasananya benar-benar berbeda. Terasa begitu tenang."
Ambar, wanita seumuran Lingga yang baru saja berkenalan dengan Lingga namun sudah nampak begitu dekat. Selama di perjalanan mereka saling bercerita tentang keseharian masing-masing. Berasal dari kota yang berdekatan dan memiliki latar belakang kehidupan yang tidak jauh berbeda, membuat Ambar dan juga Lingga lebih cepat akrab. Tak mengherankan jika selama berada di Jogja nanti keduanya tidak ingin saling berjauhan.
"Iya. Dulu sewaktu kecil, bapakku pernah berjanji akan mengajakku jalan-jalan di kota ini. Tidak aku sangka jika hari ini semua itu terwujud, meskipun tidak ada bapak yang mendampingi."
Sorot mata Lingga nampak menerawang jauh ke depan. Teringat akan sang bapak yang dulu pernah berjanji akan mengajaknya ke Jogja untuk melihat panorama gunung Merapi. Tidak jauh dari kebiasaan sang bapak yang notabene seorang pendaki, yang ia janjikan pun juga tidak jauh berhubungan dengan gunung.
"Jalan hidup orang memang tidak ada yang tahu Ling. Bahkan untuk menginjakkan kaki di kota ini saja aku tidak pernah menyangka, Ling."
__ADS_1
Lingga menganggukkan kepala pertanda sependapat dengan ucapan Ambar. Jalan hidup seperti ini juga tidak pernah ia duga sama sekali. Menjadi janda di usia muda dan tiba-tiba berada di kota ini.
"Betul sekali itu Am, ku kira selamanya aku hanya berjualan jamu gendong sambil berkeliling kampung. Namun ternyata garis hidup menuliskan sesuatu yang berbeda. Itu artinya aku harus lebih bersemangat untuk bisa sukses dari sebelumnya."
"Iya Ling, apa yang kamu ucapkan semua benar. Asalkan kita selalu bersemangat dan pantang menyerah, aku percaya di kota ini kita bisa memperbaiki kualitas hidup meskipun kita hanya berstatus janda."
Lingga tersenyum getir kala mendengar kata janda yang diucapkan oleh Ambar. Ternyata menikah dengan Heru hanya mengantarkannya pada status yang dianggap sebelah mata oleh orang-orang di luar sana. Beruntung kala itu ada sosok pemuda bernama Bayu yang bisa sedikit meredam rasa sakitnya setelah diceraikan.
Lingga tersentak kala tiba-tiba ia teringat akan sosok pemuda bernama Banyu. Seorang pemuda yang susah payah ia lupakan namun sialnya selalu saja pikirannya tertuju kepada pemuda itu. Tak ayal, bayang sosok Banyu masih saja bergelayut manja di dalam pikirannya.
Lamunan Lingga sedikit terusik saat sayup-sayup terdengar riuh suara penumpang lainnya berteriak bahwa mereka telah sampai di depan sebuah bangunan yang berupa rumah besar. Lingga mengedarkan pandangan ke arah sekitar dan mobil yang ia tumpangi pun sudah berhenti tepat di pelataran rumah besar ini. Ia yakin, bahwa rumah inilah yang akan menjadi tempat tinggalnya selama ia mengikuti pelatihan ini.
Lingga dan yang lainnya mulai turun satu persatu. Mereka bergantian mengambil tas milik masing-masing dan sama-sama berdiri di depan rumah ini. Sebuah bangunan yang berbentuk limasan yang kental dengan ornamen-ornamen Jawa. Di sekelilingnya juga terdapat beraneka pohon. Seperti pohon mangga, jambu, rambutan dan nangka. Bisa dipastikan jika siang hari suasana rumah ini begitu rindang dan asri.
__ADS_1
"Nah mohon perhatian semuanya. Nanti di dalam sudah tersedia delapan kamar. Setiap kamar bisa diisi oleh dua orang. Untuk siapa saja yang akan menempati kamar, itu semua kami serahkan kepada kalian. Kalian boleh memilih teman kamar yang sudah kalian kenal selama di perjalanan tadi. Ingat ya, setiap pagi jam setengah delapan, kalian sudah harus bersiap karena saya akan datang kemari untuk menjemput kalian dan kemudian berangkat ke pabrik. Mengerti?"
"Mengerti Pak!"
"Baiklah kalau begitu. Sekarang silakan masuk dan selamat beristirahat."
Lingga menatap lekat bangunan rumah berbentuk limasan ini. Ia tersenyum penuh arti seolah melihat masa depannya yang cerah di kota ini.
Kulo nuwun Jogja... Bersahabat baiklah denganku. Yang nantinya akan menjadi saksi perjalanan kesuksesanku. Lingga, semangat!!!
.
.
__ADS_1
. bersambung...