
"Ibu jadi tidak enak karena merepotkanmu Ndhuk. Kalau saja Ibu tidak diminta untuk ke kelurahan secara mendadak seperti ini, pastinya Ibu sendiri lah yang pergi ke sawah mengantarkan bekal makan siang ini untuk Banyu."
Lingga yang baru saja pulang dari berjualan jamu terpaksa harus menghentikan langkah kakinya ketika melintas di depan rumah Maryati. Rupa-rupanya wanita paruh baya itu membutuhkan bantuan darinya mengantarkan bekal makan siang untuk Banyu yang tengah berada di sawah.
"Tidak apa-apa Bu, saya merasa tidak direpotkan kok. Lagipula saya ingin tahu, apa yang dilakukan oleh Banyu di sawah."
Sembari memasukkan nasi dan juga lauk ke dalam rantang, Maryati hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Lingga ini. "Kamu tidak tahu saja Ndhuk, sebulan lebih Banyu berada di sini, dia itu semakin pandai mengurus sawah. Ibu sampai heran, dia itu sebelumnya bekerja di mana, diajari sedikit saja oleh Bapak tentang ilmu bercocok tanam di sawah, dia sudah sangat menguasai. Benar-benar cerdas itu orang."
"Benarkah seperti itu Bu?"
"Betul Ndhuk, kalau kamu tidak percaya nanti kamu pantau dari kejauhan. Pasti kamu akan terkesima." Maryati mengulurkan tantang ke arah Lingga. "Nah, ini sudah siap Ndhuk. Sekali lagi Ibu minta maaf karena sudah merepotkan."
Lingga menyunggingkan senyum manis di bibirnya hingga terbit dua lesung pipit di tulang pipinya. "Tidak Bu, saya sama sekali tidak merasa direpotkan. Kalau begitu saya permisi ya Bu. Untuk sementara saya titip tenggok jamu ini terlebih dahulu di rumah bu Mar."
"Tidak apa-apa Ndhuk, simpan di atas amben yang berada di dapur saja."
"Baik Bu."
****
__ADS_1
Suara traktor sawah terdengar menggema memekak telinga. Alat pertanian yang dikendalikan oleh manusia itu nampak berputar mengelilingi bidang-bidang sawah sebagai pertanda bahwa musim tanam telah tiba. Dulu, sebelum ada traktor ini, para petani menggunakan kerbau atau sapi untuk membajak sawah. Beruntung, perkembangan teknologi semakin maju, sehingga dengan alat ini para petani bisa membajak sawah dengan cepat dan tanpa mengeluarkan banyak tenaga.
Lingga nampak begitu bersemangat menjejakkan kakinya melewati pematang sawah yang terhampar luas di area persawahan ini. Tanpa alas kaki, wanita itu nampak begitu bahagia menikmati suasana siang hari di pedesaan seperti ini. Meskipun terasa terik, beruntung awan-awan tipis yang membentuk jaring-jaring kapas menampakkan wajahnya. Sehingga bisa sedikit meredam rasa terik itu.
Burung-burung blekok sawah berwarna putih juga nampak terbang ke sana kemari. Bahkan mereka terlihat menjejakkan kaki mereka di hampran tanah basah yang sedang dibajak ini. Sebuah pemandangan langka. Yang pasti hanya bisa ditemukan di pedesaan saja. Satu buah rantang susun tiga dan satu buah ceret berada di dalam genggaman tangan Lingga yang nantinya akan ia berikan kepada Banyu untuk mengisi perut di waktu siang.
"Banyu!!! Berhenti dulu. Aku membawakan makanan untukmu!"
Lingga berteriak lantang ke arah Banyu yang tengah sibuk mendorong traktor untuk membajak sawah milik Prasojo ini. Tak selang lama pemuda itu berbalik badan dan menggiring manik matanya ke arah sumber suara.
"Lingga? Ada apa?" teriaknya pula. Karena saat ini posisinya berada di ujung bidang sawah milik Prasojo yang memiliki luas setengah hektare. Bisa dibayangkan berapa luasnya bukan? 😅
Lingga mengangkat rantang yang ia bawa. "Kemarilah, kamu makan terlebih dahulu. Aku membawakan makan siang untukmu!"
"Kamu membawakan makanan untukku Sayang?" tanya Banyu dengan raut wajah bersinar. Ia mulai naik ke pematang sawah dan duduk di samping Lingga.
"Memang aku yang bawa, tapi ini semua masakan bu Mar. Aku hanya bertugas mengantarkannya saja."
"Adudududu ... manis sekali calon istriku ini. Kalau kamu sudah menjadi istriku pasti aku akan lebih senang karena setiap hari bisa memakan masakanmu."
Lingga hanya tersipu malu. Banyu memang berbeda dari Heru. Pemuda ini tahu betul membuat hatinya berbahagia. Meskipun hanya dengan kata-kata sederhana namun sungguh ini semua merupakan pengalaman pertama yang ia rasa. Dipuji dan merasa dibutuhkan oleh seorang pria.
__ADS_1
"Sudah, bersihkan tanganmu terlebih dahulu. Setelah itu makanlah!" titah Lingga mencoba untuk menutupi kegugupannya.
Banyu kembali turun ke sebuah sungai kecil yang mengalir di sekitar tempat ini. Ia bersihkan tangannya dan mulai membuka kaos yang ia kenakan. Ia berpikir akan jauh lebih nikmat jika makan siang di area sawah seperti ini sembari bertelanjang dada.
"Banyu, apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu melepaskan pakaianmu itu!" teriak Lingga sembari menutup matanya. Baru kali ini ia melihat potongan roti sobek di tubuh pemuda ini.
Banyu terkekeh pelan. Ia kembali duduk di samping Lingga. "Tidak perlu menutup mata seperti itu Sayang. Anggap saja ini simulasi. Jadi ketika kamu menjadi istriku nanti, kamu sudah terbiasa melihatku bertelanjang dada seperti ini."
"Issshhh ... kamu ini. Ada saja alasannya," cebik Lingga.
"Sudahlah Sayang, aku keburu lapar. Suapi aku ya."
Lingga terperangah. "Kamu sudah besar Banyu, jadi bisa makan sendiri."
Banyu menggelengkan kepala. "Tidak Sayang, ketika berada di dekatmu aku ingin selalu menjadi anak kecil saja sehingga bisa terus bermanja di pelukanmu!"
Lingga hanya bisa membuang napas sedikit kasar. Pada akhirnya, ia pun menyuapi si bayi besar ini. Banyu tersenyum penuh arti saat suap demi suap nasi dan lauk masuk ke dalam rongga mulutnya. Tatapannya pun tidak lepas dari netra Lingga. Tidak pernah terduga, sepasang manusia itu semakin hari semakin dekat saja seakan tidak terpisahkan.
.
.
__ADS_1
. bersambung...