
Satu Bulan Kemudian..
Waktu terus bergulir menyisakan jejak-jejak kenang yang telah tercipta. Suka, duka, tangis, tawa semua terbingkai indah dalam satu lembar kehidupan yang menjadi cerita dalam setiap jalan kehidupan. Setiap kebaikan menjadikan salah satu alasan untuk bersyukur, sedangkan setiap keburukan dijadikannya sebuah pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Hitam maupun putih selalu saja menyimpan sebuah hikmah dalam kehidupan.
Banyu menatap lekat sebuah bangunan yang berdiri di hadapannya. Bibirnya tiada henti menyunggingkan senyum. Ada rasa bahagia yang membuncah, pada akhirnya ia bisa melakukan sesuatu untuk seseorang yang ia anggap paling berjasa untuk kehidupannya ketika berada di kota Jogja.
Rumah yang pak Kardi miliki kini terlihat jauh lebih layak untuk ditinggali. Dinding-dinding yang sebelumnya nampak kasar, kini sudah lebih halus dengan proses peng-aci-an dan juga penge-cat-an. Tidak lupa, Banyu bangunkan sebuah bangunan yang lumayan luas untuk menjadi depot isi ulang air mineral. Dengan begitu, pak Kardi tidak perlu capek-capek mengayuh becak untuk menyambung hidupnya.
"Cah Bagus!!!"
Suara seseorang yang berasal dari balik punggung, membuat Banyu sedikit tersentak. Ia menoleh ke arah belakang dan terlihat pak Kardi sudah menghampirinya.
"Ya Pak?"
__ADS_1
"Bapak tidak tahu lagi harus berkata apa untuk mengucapkan rasa terima kasih kepadamu, Nak. Karena kamulah kualitas hidup Bapak ini jauh lebih terjamin."
Kardi menatap sendu wajah Banyu dengan menepuk-nepuk bahu pemuda ini. Hatinya benar-benar tersentuh dengan apa yang sudah Banyu lakukan. Padahal ia hanya memberikan tempat tinggal selama Banyu ada di kota Jogja namun pemuda ini membalasnya dengan beribu-ribu kebaikan.
Banyu mengulas sedikit senyumnya. "Bapak tidak harus berterima kasih. Karena seharusnya saya lah yang harus berterima kasih kepada Bapak. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya saya jika tidak bertemu dengan orang baik seperti Pak Kardi di kota ini."
"Tapi ini semua sangat berlebihan Cah Bagus."
"Tidak Pak, bahkan ini semua masih belum mampu untuk membalas semua budi baik Pak Kardi memberikan tumpangan hidup untuk saya. Ini merupakan hal kecil yang bisa saya lakukan untuk berterima kasih kepada Pak Kardi dan untuk mewujudkan apa yang menjadi mimpi mendiang istri dan putra Pak Kardi."
Kedua bola mata Kardi memanas dan kemudian membentuk titik-titik embun di sana. Ia pun memeluk tubuh pemuda ini dengan erat.
"Terima kasih banyak Cah Bagus, terima kasih. Bapak tidak bisa membalas dengan apapun selain hanya doa semoga hidupmu dipenuhi oleh keberkahan dan kebahagiaan dan pastinya kamu segera disatukan dengan nak Lingga di dalam sebuah ikatan pernikahan."
Banyu menganggukkan kepala di dalam dekapan Kardi. "Aamiin ... Terima kasih Pak. Untaian-untaian doa itulah yang saya harapkan."
__ADS_1
Kardi melerai pelukannya dan menatap intens wajah pemuda ini. "Lalu, apa kamu jadi pulang ke Jakarta Nak?"
Banyu menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis. "Tidak Pak. Saya merubah rencana awal. Saya berencana mendatangkan orang tua saya kemari untuk bisa langsung bertemu dengan Lingga. Bahkan jika Lingga mau, saya akan mengadakan acara pernikahan di kota ini. Rasanya tidak perlu berlama-lama lagi. Jadi mungkin tiga hari setelah keluarga saya tiba di Jogja, saya akan langsung menikahi Lingga."
Senyum lebar mengembang di bibir Kardi. Ia turut berbahagia mendengar rencana Banyu ini. Setidaknya jika acara pernikahan itu diadakan di sini, ia masih bisa melihat pemuda itu menemukan kebahagiaannya.
"Semoga Tuhan senantiasa memberikan kelancaran, Cah Bagus. Dan semua bisa berjalan sesuai dengan rencana."
"Aamiin Pak... Terima kasih..."
.
.
. bersambung...
__ADS_1