Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 87. Game Over


__ADS_3


Jordan, lelaki yang terpaut satu tahun lebih muda dari Banyu itu dengan lantang menceritakan semua yang terjadi diantara dirinya dan juga Villia. Mulai dari proses perkenalan, bertemu secara diam-diam dan puncaknya pada saat mereka tidur bersama dan dipergoki oleh Banyu. Tidak ada raut wajah penuh keterkejutan yang ditampakkan olehnya. Karena sejak ingatannya mulai pulih, ia paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Berbeda dengan Banyu, Herlambang, Kinanti dan Pandu justru terlihat terkejut setengah mati. Ia benar-benar tidak percaya jika calon menantunya merupakan salah satu wanita murahan yang sanggup bermain-main dengan na*fsu birahinya.


"Jadi seperti itulah cerita diantara saya dan juga Villia, Om, Tante. Sebenarnya saya sudah mengetahui bahwa Villia ini telah memiliki kekasih. Namun, saya hanyalah lelaki biasa yang memiliki na*fsu, jadi ketika ada seorang wanita dengan suka rela menawarkan keintiman dan kenikmatan raga itu, saya tidak bisa menolaknya. Sekali lagi saya minta maaf karena sudah mengacaukan hubungan antara Banyu dan juga Villia."


Jordan menunduk dalam seolah menyesali semua yang terjadi. Namun, Banyu dan yang lainnya atau mungkin para pembaca juga paham bagaimana posisi Jordan saat itu. Sangat sulit menghindar dari sebuah godaan yang akan mengantarkannya kepada kenikmatan ragawi. Benar seperti itu bukan? 😆😆😆 Kucing ketika dikasih ikan asin pasti tergoda juga kan? 😅😅


Banyu menyeringai. "Sudahlah Jor, aku sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Lagipula, aku sangat berterima kasih karena kehadiranmu lah yang membuka sifat asli Villia." Banyu menautkan pandangannya ke arah Villia. "Bagaimana Vi? Apakah kamu ingin menyangkal ucapan Jordan? Jika ada, aku persilahkan."


Banyu tersenyum girang. Jika sampai Villia kembali menyangkal, akan ia biarkan wanita itu berdebat dengan Jordan. Sepertinya terlihat sangat mengasyikkan jika dua orang yang terlibat dalam sebuah skandal saling membela diri.

__ADS_1


Sadar bahwa sudah tidak ada yang dapat dilakukan, Villia bangkit dari posisinya. Ia bersimpuh di bawah telapak kaki Kinanti dan juga Herlambang. Ia menangis sesenggukan di sana.


"Maaf .... maafkan Villia Om, Tante. Villia saat itu khilaf. Sehingga membuat Villia melakukan hal itu."


"Om benar-benar tidak menyangka bahwa kamu perempuan seperti ini Vi. Seorang perempuan yang tidak bisa menjaga kehormatannya. Om benar-benar kecewa sama kamu."


Herlambang hanya bisa memijt-mijit pelipisnya yang berdenyut nyeri. Hampir saja ia dan keluarga salah langkah dengan menjadikan Villia menantu. Beruntung sang putra segera mengingat semua.


"Sekali lagi maafkan Villia Om, Tante. Villia mohon jangan batalkan rencana pernikahanku dengan Banyu. Villia benar-benar mencintai Banyu, Om, Tante!"


"Apa kamu bilang? Kamu tidak ingin rencana pernikahanmu dengan Banyu dibatalkan? Please Vi, kalau bercanda jangan keterlaluan. Mana mungkin kami keluarga Banyu mengizinkan Banyu untuk melanjutkan hubungannya denganmu. Satu hal yang sangat mustahil."


"Tapi Bang...."

__ADS_1


"Sudah, sudah, sudah. Tante rasa tidak ada yang perlu dibahas lagi. Tante memutuskan untuk membatalkan rencana pertunangan dan pernikahanmu dengan Banyu, Vi. Dan sampai kapanpun Tante tidak akan mau untuk menjadikanmu sebagai calon menantu. Lebih baik sekarang kamu pulang dan merenungi semua kesalahanmu. Itu yang mungkin akan menjadikanmu manusia yang jauh lebih baik lagi."


"Tante ...."


"Stop Vi! Sekarang pulanglah. Masih ingat pintu keluarnya bukan?" timpal Banyu dengan sadis.


Villia bangkit dari posisi duduknya. Ia ambil tas selempang yang teronggok di atas meja dan mulai berjalan gontai keluar dari ruangan ini.


Banyu hanya bisa menatap punggung Villia yang semakin lama semakin hilang di telan oleh dinding dengan senyum kelegaan. Tiba-tiba saja ingatannya tertuju pada satu sosok yang dulu selalu ada di sisinya.


Kamu seharusnya melihat ini Ling bahwa aku tidak pernah melakukan hal rendah seperti itu. Kamu seharusnya percaya kepadaku, tapi kamu justru berada di barisan seseorang yang meragukanku. Entahlah, aku memang mencintaimu, Lingga. Namun ternyata aku hanya jatuh cinta sendirian. Sedangkan kamu tidak pernah mencintaiku.


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2