Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 2. Masih Bernyawa?


__ADS_3


Tiba-tiba saja tubuh Lingga bergidik ngeri di saat membayangkan bahwa yang ia lihat itu merupakan salah satu mayat salah seorang pendaki yang jatuh dari tebing curam dan pada akhirnya sampai di bawah curug. Bukan hanya sekedar dongeng ataupun isapan jempol belaka. Di kawasan ini memang sering ditemukan jenazah para pendaki yang biasanya tersesat lalu mencoba mengikuti aliran sungai untuk bertemu dengan rumah penduduk. Namun ketika tengah tersesat di gunung mengikuti aliran air sejatinya justru merupakan salah satu kesalahan. Dengan mengikuti aliran sungai sejatinya justru akan mengantarkan ke sebuah tebing curam hingga pada akhirnya mereka terpeleset, terjatuh dan akhirnya mempertemukan mereka dengan akhir hayatnya.


Selain kisah para pendaki, tidak sedikit pula ditemukan mayat para pemburu liar yang berkeliaran di hutan ini. Macan kumbang, rusa, burung elang bahkan harimau Jawa sering menjadi incaran mereka. Tanpa mereka tahu sejatinya binatang-binatang itu tidak boleh diburu untuk tetap menjadi salah satu keragaman hayati di negeri tercinta yang kaya akan flora dan fauna.


Lingga memilih untuk mengakhiri ritual mandi yang ia lakukan. Ia yang sebelumnya berendam, kini bangkit dan mulai menepi. Gegas, ia kenakan kembali pakaiannya meski masih dalam keadaan basah dan buru-buru meninggalkan tempat ini.


"Tolong ... tolong saya... Tolong saya...."

__ADS_1


Baru beberapa langkah Lingga mengayunkan tungkai kaki, sisi nuraninya sebagai seorang manusia sedikit terusik. Entah bisikan dari mana, tiba-tiba saja telinganya berdengung seperti meniupkan suara seseorang yang sedang meminta tolong. Suara itu terdengar begitu lirih namun begitu jelas di dalam indera pendengarannya. Seketika Lingga menghentikan langkah kakinya dan sedikit berbalik badan.


Aneh, sangat aneh. Sosok manusia yang berada di tepian sungai di bawah curug itu masih tidak bergerak sama sekali, namun entah mengapa Lingga merasa bahwa sosok itulah yang sedang meminta tolong yang suaranya terdengar di dalam telinga.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Orang itu sepertinya sudah mati namun mengapa aku merasa dia masih hidup? Ataukah mungkin itu merupakan salah satu makhluk penunggu curug yang menyerupai manusia?"


"Tolong .... tolong .... Tolong saya...."


Lagi, suara lirih itu semakin terdengar jelas di telinga Lingga. Dengan susah payah, Lingga mencoba menyusuri tepian sungai yang dipenuhi oleh batu-batu kali ini untuk segera bisa menjangkau sosok manusia yang berada di dalam posisi tengkurap itu. Hingga pada akhirnya, Lingga sampai di dekat sosok manusia itu.

__ADS_1


Lagi-lagi Lingga dibuat terperangah oleh keadaan sosok manusia ini. Sosok seorang laki-laki yang bahkan dalam keadaan tidak sadarkan diri namun entah dari mana suara minta tolong itu berasal. Meski ada rasa takut yang menyergap, namun Lingga tetap memberanikan diri untuk menolong lelaki ini. Lingga meletakkan kembali tenggok yang ia bawa di samping batu besar dan perlahan, ia memangkas jarak yang tercipta dengan mendekatkan tubuhnya ke tubuh lelaki ini. Kedua bola mata Lingga sedikit terbelalak kala melihat punggung lelaki ini masih naik-turun sebagai pertanda bahwa ia sosok manusia ini masih bernyawa.


"Ternyata ia masih hidup. Aku harus bersegera menolongnya!"


.


.


. bersambung...

__ADS_1


__ADS_2