
Suara lolongan anjing hutan menggema memenuhi tiap sudut hutan belantara yang Lingga lewati. Dibunuhnya segala rasa takut yang menggerogoti, ia ganti dengan kobaran rasa berani untuk menemani jejak langkah kaki. Dengan headlamp yang bertenger di kepala, wanita itu mulai berjalan menembus pekatnya malam hari ini.
Suara kepakan sayap burung-burung malam mulai terdengar. Mereka terbang ke sana-kemari untuk mencari tempat paling nyaman untuk bertengger. Mendengungkan suaranya menjadi isyarat agar diakui keberadaannya.
Lingga mengedarkan pandangan matanya ke arah sekitar. Hanya ada barisan pohon-pohon yang menjulang tinggi yang ia anggap sebagai teman dalam perjalanannya kali ini. Cahaya rembulan pun menelusup masuk melalui celah-celah barisan pohon ini hingga tercipta suasana hangat yang kian terasa.
Lingga melangkahkan kakinya ke arah curug di mana ia menemukan raga Banyu yang tergeletak. Setelah berdiskusi dengan Darmaji, ia tidak harus sampai ke mata air di mana Banyu berendam diri setelah turun dari pendakian. Lingga cukup berada di curug di mana ia menemukan raga Banyu.
Lingga terhenyak saat tiba-tiba saja di hadapannya muncul anjing hutan yang nampak begitu besar. Dengan sorot mata tajam, anjing itu seakan menantang keberadaan Lingga. Wanita itu sedikit panik, namun ia tiba-tiba ia teringat akan kata-kata yang pernah diucapkan oleh sang ayah ketika masih hidup.
Jika kamu bertemu dengan anjing di dalam hutan, maka tunjukkan keberanian dan kekuatanmu. Dengan begitu dia akan segera pergi dari hadapanmu.
Kata-kata yang pernah diucapkan oleh sang ayah tentang bagaimana cara survive ketika tersesat di hutan kembali terngiang di dalam telinga Lingga. Sejenak, wanita itu membuang napas sedikit kasar dan berupaya untuk memperlihatkan kekuatannya.
__ADS_1
Dengan sigap, ia mengambil potongan kayu yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri dan mengarahkannya ke arah anjing hutan ini.
"Hus... Hus... Hus... pergilah. Jangan kamu ganggu keberadaanku di sini. Aku juga tidak akan mengganggu keberadaanmu pula!"
Anjing di hadapan Lingga terdengar melolong kembali. Namun setelah itu ia pergi dari hadapan Lingga. Wanita itupun bisa bernapas lega dan kembali melanjutkan perjalanannya.
Entah mengapa menyusuri hutan di malam hari seperti ini serasa jauh sekali. Ia merasa hampir dua jam ia berada di tempat ini namun belum juga menemukan jalan untuk menuju curug di mana ia menemukan raga Banyu. Mungkin karena malam hari, yang membuat pandangannya terasa sangat terbatas. Tanpa sedikitpun merasa takut ataupun lelah, wanita itu kembali menyusuri hutan belantara ini.
Lingga kembali terkejut setengah mati kala tiba-tiba saja indera pendengarannya menangkap gelombang suara auman yang terdengar memekak telinga. Begitu kerasnya suara auman itu, ia yakin bahwa pemilik suara itu berada tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Lingga memilih untuk menghentikan langkah kakinya dan ia pun memilih untuk duduk bersimpuh terlebih dahulu.
Ya Tuhan, ternyata ada dua harimau Jawa berdiri di hadapanku. Apakah mereka akan menerkamku dan menjadikanku mangsa? Apakah hidupku akan berakhir dicabik-cabik oleh dua binatang buas itu?
Lingga semakin bergidik ngeri. Bulu kuduknya seakan berdiri. Keberadaan binatang ini justru yang membuat sendi-sendi tubuhnya serasa lemas seketika. Bahkan tempurung lututnya pun juga terasa tidak memiliki tenaga. Bagi Lingga, berhadapan dengan binatang buas jauh lebih menyeramkan daripada berhadapan dengan makhluk tak kasat mata.
Jika kamu bertemu dengan harimau di dalam hutan, maka yang harus kamu lakukan adalah sebaliknya, jangan sekalipun kamu menunjukkan keberanian ataupun kekuatan yang kamu miliki. Itu semua hanya akan membuat harimau itu merasa tertantang dan merekapun tidak akan segan-segan untuk menerkammu. Hindari kontak mata dengannya sambil menunggu dia pergi dengan sendirinya.
__ADS_1
Lagi, wejangan yang pernah diucapkan oleh sang ayah kembali terngiang di dalam telinga Lingga. Gegas, ia pun membuang wajah dan sedikitpun tidak menatap binatang buas itu. Satu menit, dua menit, tiga menit berlalu. Pada akhirnya dua binatang buas itu kembali berjalan dan meninggalkan Lingga sendirian.
"Hah ... syukurlah mereka sudah pergi. Setelah ini, apalagi yang akan aku temui? Apakah serigala? Babi hutan? Atau apa? Ah... Ya Tuhan, jagalah selalu aku."
Lingga berupaya untuk mengatur napasnya. Sungguh berjumpa dengan dua harimau Jawa seakan membuat sukmanya seakan dicabut paksa oleh malaikat pencabut nyawa. Membuat tubuh dan kakinya gemetaran, sama sekali tidak memiliki kekuatan. Ketika sendi-sendi di kakinya dirasa sudah mampu untuk berdiri tegak, wanita itupun kembali bangkit dan melanjutkan perjalanannya.
Senyum simpul terbit di bibir Lingga kala mendengar gemercik aliran air sungai yang semakin terdengar jelas. Ia yakin bahwa sebentar lagi, ia akan sampai di curug itu.
Sedikit lagi Lingga... Semangat!!!
.
.
. bersambung...
__ADS_1