Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 43. Penggrebekan #2


__ADS_3


"Nah ... tertangkap basah kalian. Ayo siap-siap diarak!"


Seusai Ningrum membukakan pintu, kumpulan bapak-bapak itu mulai masuk lalu menyergap Ningrum dan juga Heru. Keduanya nampak dipegangi oleh kumpulan warga ini.


"Eh, eh, eh ... apa-apaan ini? Aku mau diapakan?" teriak Heru sambil meronta. Ia yang masih berbaring di atas amben sedikit panik karena tubuhnya hanya tertutup oleh kain jarik dan ditarik-tarik oleh warga.


Heru masih berusaha keras untuk mempertahankan kain jarik yang ia pakai. Ia khawatir jika sampai kain yang menutupi tubuh polosnya ini tersibak. Bisa-bisa aset berharga yang ia miliki terekspos dan membuat terkesima para warga yang berkumpul di sini. Atau mungkin membuat terkesima para pembaca. Begitulah pikir Heru. Ia terlalu percaya diri bahwa senjata miliknya bisa membuat terkesima padahal sih bikin muntah saja. Betul kan para pembaca? 😂😂


"Ayo berdiri dan ikut kami. Akan kami arak kalian!"


"Betul itu, perilaku kalian ini yang meresahkan warga. Bisa-bisanya antar ipar saling bermain belakang. Sungguh contoh yang tidak baik untuk dipertontonkan."


"Ini bukan urusan kalian. Burung aku yang punya, jadi terserah aku ingin memasukkan ke mana!" teriak Heru mempertahankan pedoman perihal perburungan yang selama ini ia pegang kuat-kuat. Ia berpikir burung miliknya ini bisa keluar masuk ke mana saja.


"Dasar semprul!!! Kamu sudah mempunyai kandang. Mengapa justru kamu masukkan ke kandang yang bukan menjadi milikmu, hah? Burungmu lupa jalan pulang?" teriak Prasojo semakin gemas.


Heru tersenyum sinis. Ia berpikir jika saat ini ia bisa dipermalukan di hadapan warga, ia pun juga bisa melakukan hal yang sama terhadap Lingga.


"Burungku tidak mau pulang ke kandang, karena kandangku berbau busuk. Baunya seperti ikan asin yang sangat menjijikkan. Kalau kalian tidak percaya silakan coba masukkan burung kalian ke Lingga. Kalian pasti akan muntah-muntah!"


Prasojo sungguh sangat tidak paham dengan apa diucapkan oleh Heru. Dahinya sampai berkerut dalam untuk mencerna apa yang diucapkan oleh lelaki ini.

__ADS_1


"Kamu bicara apa? Apa maksudmu, hah?"


"Hahahaha ... milik Lingga berbau ikan asin, maka dari itu aku memilih untuk tidak pernah menjamahnya. Jangankan aku masukkan, hanya mencium aromanya dari kejauhan saja sudah membuatku mual dan muntah. Maka dari itu aku mencari kandang yang jauh lebih wangi. Jadi, jika kalian ingin tahu yang sebenarnya, semua ini adalah kesalahan Lingga. Dia tidak pandai merawat diri sehingga membuatku tidak betah sama sekali."


Lingga yang berdiri di sudut ruangan dengan derai air mata sedikit terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Heru. Ternyata tidak hanya di depan Banyu saja, lelaki itu memperlakukannya. Di depan warga pun ia masih membahas perihal ikan asin.


Lingga menyeka air mata yang membasahi pipi. Ia ayunkan tingkai kakinya untuk bisa mendekat ke arah Heru. Wanita itupun menatap wajah Heru dengan intens. Mungkin bagi kebanyakan istri, mendapati sang suami berselingkuh di depan mata, merupakan hal yang sangat menyakitkan. Namun tidak untuk Lingga. Wanita itu tidak memiliki hubungan emosianal yang lekat dengan Heru, ia terbiasa hidup sendiri bahkan mungkin ia sudah mati rasa terhadap Heru. Oleh karena itu perselingkuhan ini tidak terlalu meruntuhkan dunianya.


"Mau apa kamu? Sekarang, aku menceraikanmu Lingga. Dan mulai malam ini, kamu bukanlah istriku lagi!" teriak Heru dengan lantang di hadapan Lingga dan para warga.


Lingga tersenyum manis meski hatinya juga terasa sedikit teriris. Sedikit saja. Karena ternyata cinta yang ia miliki untuk Heru tidaklah besar, hanya sebesar eek cicak saja.


"Syukurlah, aku bisa terlepas dari jeratan lelaki tidak punya akhlak seperti kamu ini. Akhirnya aku bebas dari siksaan batin yang kamu torehkan."


"Oh seperti itu ya?"


Lingga yang melihat Heru masih setengah berbaring di atas amben, merasa telah menemukan celah untuk melampiaskan amarahnya. Ia memandang wajah Heru dengan tatapan sinis. Mulai berancang-ancang dan....


Dugggg .... Dugggg .....


"Aaaawwwww ... burungku!!!!" pekik Heru kesakitan sembari memegangi senjatanya setelah diinjak oleh Lingga.


Banyu, Prasojo, Parmin dan semua yang ada di ruangan ini juga turut membelalakkan mata. Tidak mereka sangka bahwa Lingga berani untuk melakukan hal itu kepada Heru. Bahkan mereka sama-sama ikut merasa ngilu, membayangkan burung Heru diinjak dan dibejek-bejek oleh wanita itu.

__ADS_1


"Rasakan itu Her! Aku pastikan setelah ini kamu tidak akan bisa mempermainkan seorang wanita lagi!"


Dugg.... Duggg....


"Aaaaadduduuduuuuuuuhhhhhh!!"


Lingga bahkan acuh dengan teriakan Heru yang mengaduh. Kini, ia langkahkan kakinya ke arah Ningrum. Kakak kandungnya itu juga tidak dapat melakukan perlawanan setelah dipegangi oleh kumpulan bapak-bapak.


"Aku tidak pernah menyangka bahwa pelakor yang merusak rumah tanggaku adalah mbakyu ku sendiri. Sekarang, ambil itu manusia bernama Heru. Manusia yang sama-sama menjijikkan denganmu, Mbak."


"Hahah, aku tidak perduli. Yang terpenting aku bisa merebut semua yang kamu punya. Sama seperti dulu saat kamu merebut mainanku, makananku, merebut perhatian, kasih sayang bapak dan juga ibu!"


Lingga terhenyak. Apa yang diucapkan oleh Ningrum sungguh tidak bisa ia cerna secara logika. "Aku ini adikmu Mbak. Mengapa kamu anggap sebagai perebut makanan, mainan dan kasih sayang bapak ibu? Bukankah sebagai seorang kakak beradik sudah selayaknya kita harus berbagi?"


Ningrum tersenyum miring. "Aku tidak pernah mau memiliki adik. Maka dari itu sejak kamu lahir aku sangat membencimu. Dan sejak itu, aku tidak ingin melihatmu berbahagia sedikitpun."


"Benar-benar sakit jiwa kamu Mbak!"


.


.


. bersambung...

__ADS_1


__ADS_2